Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ithaf Al-Dhaki (1): Mendambakan Dua Kutub yang Berdegup 

Ithaf Al-Dhaki (1): Mendambakan Dua Kutub yang Berdegup 
Mustasyar PBNU, KH Husein Muhammad. (Foto: FB Husein Muhammad).
Mustasyar PBNU, KH Husein Muhammad. (Foto: FB Husein Muhammad).

Kemarin seorang teman menanyakan tulisanku yang membahas buku "Ithaf Al Dzaki: Tafsir Wahdah Al Wujud bagi Muslim Nusantara" karya Dr. Oman Fathurrahman. Sesudah mencari-cari, aku menemukan. Inilah:


وَكُلُّ مَا سِوَاهُ نَجْمٌ آفُلُ    بَلْ فِى شُهُودِ الْعَارِفِيْنَ بَاطِلُ
فَلَيْسَ إِلَّا اللهُ وَالْمَظَاهِرُ     لِجُمْلَةِ الْاسْمَاءِ وَهُوَ الظَّاهِرُ
فَغَيْرُهُ فِى الْكَوْنِ لَا يُقَالُ    لِاَنَّهُ فِى ذَاتِه مُحَا لُ
(الشيخ حسن رضوان)


Seluruhnya, selain Dia adalah bintang yang lenyap
Dalam mata para bijakbestari
 ia adalah ketiadaan
Tak ada apapun, kecuali Allah
Sekumpulan nama dalam alamraya tak ada,
Yang tampak hanyalah Dia
Selain Dia, dalam semesta, tak berarti
Karena dirinya sendiri, tak mungkin mewujud

(Baca: Zaki Mubarak, al Tashawwuf al Islami, h.195).


Begitu menerima buku “Ithaf al-Dhaki”, karya sufi besar Syeikh Ibrahim al-Kurani (1616-1690), dan membacanya beberapa halaman, tangan saya spontan mengepal sambil berteriak kecil dengan kegirangan yang penuh: “Yes!”. Inilah buku yang telah lama dirindukan kehadirannya di negeri ini. “Saya akan mengaji kitab ini kepada para santri”. Maka saya ingin menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang tinggi kepada Oman Fathurrahman yang begitu tekun mencari ke sana ke mari sejumlah “makhthuthat” (manuskrip) buku ini, menyidik, menerjemahkan, lalu mempersembahkannya ke hadapan public tanah air yang dicintainya, tepat pada saat dibutuhkan. 


Lebih dari segalanya, secara lebih khusus saya sangat bangga dengan karya ini. Ia telah memberikan pengetahuan kepada kita semua, masyarakat muslim Indonesia, tentang betapa intensnya pergumulan intelektual muslim dunia (Timur Tengah) dengan intelektual muslim (ulama) Nusantara sejak berabad lampau, paling tidak sejak pertengahan abad 17. Buku “Ithaf al-Dhaki” sengaja ditulis Syeikh Ibrahim al-Kurani untuk merespon permintaan murid sekaligus temannya dari Nusantara; Syeikh Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri, mewakili sejumlah ulama Nusantara yang lain.


Permintaan ini dilatarbelakangi oleh perdebatan sengit di Jawa (Nusantara) tentang ajaran sufisme Syeikh Muhyiddin Ibn Arabi 1165-1240 M) dan Abd al-Karim al-Jili (1365-1402 M): “Wahdah al-Wujud” yang ditulis dan dikaji oleh antara lain Syeikh Fadl Allah al-Hindi al-Burhanfuri (w. 1620 M) dalam kitab “al-Tuhfah al-Mursalah”. Tak pelak, pergumulan intelektual tersebut pada gilirannya memberikan sumbangan yang amat berharga bagi pembentukan tradisi keilmuan dan keberagamaan Islam di Nusantara. 


Kehadiran buku ini sungguh menjadi semakin penting dalam konteks keberagamaan masyarakat muslim Indonesia dewasa ini yang tengah diliputi konflik-konflik dan kekerasan demi kekerasan oleh kelompok-kelompok radikal atas nama agama, klaim-klaim kebenaran sepihak dan penyesatan-penyesatan terhadap “liyan” yang tidak sejalan dengan ideologi mereka. 


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×