Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Beban Tugas Sesuai dengan Kemampuan

Beban Tugas Sesuai dengan Kemampuan
(Ilustrasi: NUO)
(Ilustrasi: NUO)

Oleh: KH. Zakky Mubarak
Diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. ayat 224 dari surat al-Baqarah yang berisi:

 

لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ ۗ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatanmu itu. (QS. Al-Baqarah, 2: 284).

 

Ayat ini dirasakan demikian berat oleh sahabat Nabi, sehingga mereka datang kepadanya seraya berkata: 

 

كُلِّفْنَا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا نُطِيقُ، الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالْجِهَادَ وَالصَّدَقَةَ، وَقَدِ اُنْزِلَتْ عَلَيْكَ هَذِهِ الْآيَةُ وَلَا نُطِيقُهَا (رواه مسلم)

 

“Wahai Rasulullah SAW kami dapat menerima kewajiban-kewajiban yang dapat kami kerjakan, seperti shalat, berjihad, berpuasa, bersedekah dan kewajiban-kewajiban lain. Sekarang telah diturunkan ayat ini, kami merasakan tidak dapat melaksanakan dan tidak kuat menanggungnya.” (HR. Muslim, No: 125).

 

Para sahabat merasa keberatan, karena dalam ayat itu ditegaskan bahwa apa yang ditampakkan seseorang ataupun yang tersembunyi dalam hatinya akan dihisab dan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Nabi SAW menjawab pertanyaan mereka: 

 

أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُولُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (رواه مسلم)

 

“Apakah kalian akan mengatakan apa yang dikatakan dua ahli kitab sebelummu (Yahudi dan Nashrani), yang mengatakan: “Sami’na wa ‘Ashaina”. Kami mendengar dan kami membangkang”. Kata Nabi: “Kalian harus mengucapkan: “Sami’na wa atha’na”. “Kami mendengar dan kami menta’atinya”. Dilanjutkan dengan kalimat: “Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali kami”. (HR. Muslim, No: 125).

 

Ketika ucapan itu telah dibaca oleh para sahabat dengan diulang berkali-kali, sehingga lidah mereka merasa amat ringan melafadzkannya. Allah menurunkan ayat lanjutannya, yaitu:

 

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

 

“Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali kami." (QS. Al-Baqarah, 2: 285).

 

Hal-hal yang dirasa berat oleh sahabat, selama  ini tiba-tiba menjadi hilang, setelah diturunkan ayat terakhir dari surat al-Baqarah yang berisi:

 

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ

 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS. Al-Baqarah, 2: 286).

 

Dalam hadis riwayat Muslim diterangkan, bahwa Allah SWT. mengabulkan orang-orang yang berdo’a sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Allah berfirman menjawab permohonan hambanya dari permohonan-permohonan itu dengan jawaban نعم (ya). Jawaban yang indah itu terus berulang berkali-kali, sesuai dengan jumlah permohonan di atas. Tiga ayat terakhir dari surat al-Baqarah ini, merupakan bacaan dan doa yang sangat baik. Ia baik dibaca setiap saat, atau pada momentum-momentum tertentu yang dianggap perlu.

 

Tiga ayat di atas menjelaskan mengenai pemantapan tauhid, bahwa milik Allahlah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Pemilikan selain Allah, hanya bersifat majazi, baik dalam pemilikan harta, kekayaan, kedudukan dan sebagainya. Pemilik selain Allah hanya bersifat sementara, pemilik sebenarnya adalah Allah SWT. yang Maha Kuasa lagi Maha Bijasana. Segala sesuatu yang dikerjakan manusia, baik yang ditampakkan atau disembunyikan, bahkan sesuatu yang disembunyikan dalam hatipun tidak luput dari hisab, yang setiap orang akan mempertanggung jawabkannya.

 

Ayat itu juga mengarahkan kepada kaum muslimin agar senantiasa menaati perintah Allah dan Rasul-Nya tanpa reserve. Setia manusia muslim diarahkan agar memasrahkan dirinya untuk taat dan patuh pada hukum yang telah ditetapkan Allah SWT Bahwa Allah SWT Tuhan yang Maha Kuasa dan Bijaksana, tidak membebankan tugas pada manusia kecuali sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Untuk itu, setiap orang mukmin diperintahkan agar berdo’a, mohon kepada Allah SWT bagi kesejahteraannya lahir dan batin, termasuk doa yang disebutkan ayat di atas.

 

Penulis merupakan salah seorang Rais Syuriah PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×