Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Misteri Shalat Jum'at Gus Dur di Masjid Istana

Misteri Shalat Jum'at Gus Dur di Masjid Istana
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). (Foto: NUO).
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). (Foto: NUO).

Presiden Gus Dur dulu itu punya kebiasaan shalat Jumat berpindah-pindah masjid. Tergantung pas dimana beliau saat itu berada. Setelah melaksanakan shalat Jumat biasanya dilanjutkan dialog bebas dengan masyarakat. Tanya jawab bebas sebebas-bebasnya. Tanpa skenario, tanpa sensor.

 

Makanya buat kita staf Istana utamanya Biro Pers dan Media, itu saatnya sport jantung. Kenapa? Karena biasanya ada statement beliau yang 'menghebohkan'. Yang bisa kita lakukan hanya pasrah pada Yang Kuasa

 

Jadi kalau Presiden Gus Dur pas berada di istana, beliau Shalat Jumat di masjid istana, Masjid Baiturrahim yg terletak di halaman Istana. Meski di dalam halaman Istana, saat itu masjid terbuka untuk umum. Siapapun boleh ikut salat di situ setelah tentu melalui pemeriksaan Paspampres.

 

Itu perintah langsung dr Presiden Gus Dur. Masjid Baiturrahim harus dibuka untuk umum.

 

Nah suatu saat, Presiden Gus Dur pas hari Jumat berada di istana. Otomatis beliau akan salat Jumat di Masjid Baiturrahim Istana. Nothing special.

 

Jadi saat itu saya juga salat Jumat di istana. Saya menggelar sajadah di shaf paling belakang di atas aspal istana. Saya saksikan banyak Paspampres yg jaga berdiri tegak siaga.

 

"Oh Bapak Presiden sudah di dalam Masjid," pikir saya.

 

Lalu saya duduk di atas sajadah dengarkan khotbah dari Khatib. Tidak begitu lama, seseorang menggelar sajadah persis di sebelah saya. Beliau pramusaji senior di istana.

 

Setelah beberapa saat duduk, dia bertanya ke saya, "Lho Pak Presiden emang sudah di masjid?"

 

Saya jawab, "Iya sudah. Emang kenapa pak?".

 

Dengan muka bingung, beliau ngomong, "Astagfirullah al adzim. Subahannallah..." sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

 

"Lah.., kenapa Pak Warno?"

 

"Mas Priyo, barusan saja, sebelum saya ke sini, saya menyajikan teh manis untuk Bapak Presiden di ruang kerja. Wallahi," jawabnya dengan wajah mau nangis.

 

"Beliau minta teh anget," tambahnya.

 

"Ah, serius paak?," sergah saya.

 

"Iya maaaas. Masa saya bohong"

 

Sebagai catatan saja, saat itu memang Presiden Gus Dur sudah berada di masjid. Seperti biasa, setelah salat, dilaksanakan dialog terbuka dengan masyarakat. Dialog bebas. Kita sport jantung seperti biasa.

 

Sumber: IG Ulama.Nusantara

Terkait

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×