Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Cerita Dua Madzhab Besar Islam Duduk di Satu Meja Kafe

Cerita Dua Madzhab Besar Islam Duduk di Satu Meja Kafe
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Sore hari, di suatu kafe di sudut Yogyakarta, aku dan teman sekelasku janjian untuk bertemu. Teman sekelasku ingin mengenalkanku dengan kakak tingkatnya dulu sewaktu kuliah S1, di salah satu sekolah filsafat Islam yang terkenal di Jakarta. Kata teman sekelasku, ini akan menjadi pertemuan yang menarik.

 

Pernyataan temanku ternyata bukan hanya sebuah bualan, ia mengatakan ini akan jadi pertemuan menarik karena ternyata teman dari temanku adalah seorang syiah tulen. Pemahaman awalku tentang syiah adalah golongan yang begini dan begitu, pokoknya narasi tentang syiah jelek semua. Tapi, temannya temanku merupakan orang yang ramah, cerdas, dan tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik, bahkan temanku bilang, ia adalah salah satu penganut syiah yang meneladani akhlak Rasulullah SAW.

 

Kami bertiga mahasiswa magister di fakultas yang sama, fakultas ushuludin dan pemikiran islam UIN Sunan Kalijaga. Sore itu aku datang terlambat dan belum sholat ashar, aku langsung berpamitan sholat sebelum mengobrol lebih banyak. Tanpa kuduga, temannya temanku melontarkan candaan, “anak filsafat sholat juga?”. Mendengar kalimat itu, aku kaget, ternyata jokesnya dark, sefrekuensi denganku. Aku jawab, “eeeh, ya sholat dong, soalnya aku pernah (kuliah) PAI”. 

 

Selanjutnya, kami banyak mengobrol tentang filsafat mula sadra (lebih tepatnya aku belajar dengan mereka berdua), dan banyak hal tentang aliran syiah, sampai pada obrolan kategori ulama-ulama syiah. Obrolan itu sangat mengalir, sampai temannya temanku mengakui bahwa dirinya seorang syiah. Apakah aku kaget? Iya, karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan orang syiah, dan ia mengakuinya. Katanya, karena pikiranku cukup terbuka, jadi ia tidak perlu bertaqiyah.

 

Sebelum berangkat ke Yogjakarta pesan dari bu nyaiku adalah “jaga diri dan jaga aqidah”. Jaga diri, aku maknai bahwa aku harus menjaga diri dari pergaulan yang dapat menjauhkanku dari agama, dan dapat merugikan diriku sendiri. Sedangkan jaga aqidah, aku maknai bahwa aku harus mempertahankan aqidah keislaman sunni yang telah aku anut selama ini, yang telah beliau ajarkan selama di pesantren.

 

Itu amanah yang lumayan sulit, karena aku sempat ingin menjadi seorang mu’tazilah, dan murji’ah. Bahkan aku juga pernah “hampir saja” menjadi wahabi. Mendengar kalimat itu, temannya temanku menanggapi, “aqidah yang harus dijaga itu yang kita sudah benar meyakini, jika belum, masih bisa dikritisi”. Tidak kehilangan akal, aku menjawabnya, “benar juga sih, tapi setiap aliran ada plus minusnya, maka kebenaran mutlaq ada pada Tuhan. Tidak ada bedanya, tinggal menjalani saja yang sudah kita terima (Pendidikan dari guru). Tapi aku yakin kok”. Tapi di luar itu, kami sama-sama mengagumi tokoh-tokoh ulama yang sama, baik dari kalangan sunni maupun syiah. Kami bertiga ternyata dua madzhab besar islam yang duduk di satu meja yang sama. Aku sunni, temanku susi (sunni-syiah, karena ibunya syiah bapaknya sunni), dan temannya syiah tulen. 

 

Pada obrolan sore itu kami membahas salah seorang cendikiawan muslim yang cerdas, ia adalah kang jalal. Jalaluddin rahmat, ia seorang tokoh cendikiawan muslim, politikus, penulis, dan dosen, paket lengkap-kap. Awal dari aku mengagumi kang jalal adalah dari membaca bukunya yang berjudul “Jalan Rahmat-Mengetuk Pintu Tuhan”, bahkan temanku merekomendasikan buku beliau yang lainnya seperti Islam Alternatif dan Islam Aktual yang belum sempat kubaca. Satu buku itu saja -yang mana di setiap kalimatnya membuat aku terkagum pada sosok ulama satu ini- telah dapat menggambarkan figur cendikiawan kelahiran Bandung ini orang yang cerdas, rendah hati, santun, dan wawasan ilmu yang sangat luas. Aku menemukan buku kang jalal dalam sebuah bazar buku yang direkomendasikan oleh penjualnya langsung. Katanya, buku yang ditulis oleh dosen ilmu komunikasi UNPAD ini adalah buku tasawuf praktis namun sisi keilmuannya dalam.

 

Teman sekelasku dan temannya jelas mengagumi juga kang jalal, bahkan mereka pernah bertemu secara langsung, aku iri. Fakta baru yang aku tahu tentang kang jalal, dari temannya temanku, bahwa kang jalal menjadi ulama syiah salah satunya dipengaruhi oleh gusdur. Kang jalal berasal dari keluarga Nahdliyyin yang taat, dan pernah menjadi Muhammadiyah sewaktu mudanya. Karena merasa lelah dengan umat Islam, ia pernah mengeluhkan pada gusdur dan ingin masuk NU lagi. Gusdur malah menyarankan kang jalal menjadi ulama di syiah saja, karena di NU sudah banyak ulamanya, dan nantinya ia tidak akan begitu berpengaruh. Aku speechless mendengar hal baru itu. dua ulama yang kharismatik.

 

Ilmu Sudut Pandang

 

Selanjutnya, temannya temanku menceritakan pengalamannya mengisi webinar di acara BEM kampusnya S1 dulu. Ia memberikan webinar yang ia namai “ilmu pandang”, ilmu bagaimana orang-orang melakukan sudut pandang terhadap apa pun. Ia memberikan analogi berupa gambar-gambar yang ia ambil dari Google. Dua diantaranya: (1) orang yang berhadapan dalam memandang angka Sembilan atau enam yang ada di hadapannya, dan (2) seseorang yang berada di sebuah perahu merasa bahagia menemukan pulau, sedangkan seseorang lainnya yang berada di pulau merasa bahagia menemukan perahu.

 

“Orang merasa benar dan merasa bahagia dari letak di mana dia memandang, arah fokusnya, dan jarak pandangnya”, jelasnya. Ia juga menganalogikan dengan orang selfie, bahwa merubah sedikit angle foto maka akan merubah hasilnya, merubah jenis kamera yang digunakan tentu akan merubah juga hasilnya. Penjelasannya lebih jauh, ilmu pandang disebabkan beberapa faktor, diantaranya: lingkungan dan pendidikan. Orang yang memahami ilmu pandang dan jarak pandang yang luas, akan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dalam kehidupan sosial. Termasuk menyikapi keberadaan madzhab di dalam Islam.

 

Jauh sebelumnya, aku banyak belajar juga dari temanku tentang syiah. Katanya, orang-orang berperilaku radikalisme pada agama bukan saja ada di sunni, di syiah juga banyak orang-orang fanatisme agama. Karena syiah juga sama terpecah lagi ke dalam banyak golongan, ada yang fanatic ada juga yang moderat. Terutama di Iran, negara islam syiah, terdapat banyak orang syiah yang memonopoli kebenaran hanya pada golongannya sendiri. Seperti telah mempunyai kunci surga, sama seperti di golongan sunni. Sama saja

 

Salah satu penyebab utama orang bertengkar adalah karena tidak bisa menerima perbedaan. Faktor dari orang tidak bisa menerima perbedaan adalah kebodohan. Kebodohan menyebabkan sudut pandang dan jarak pandang yang sempit, sehingga tidak bisa menerima cahaya kebenaran yang lain. Orang yang berpandangan sempit, minimal-minimalnya mengakibatkan hidup ini menjadi sumpek. Maksimalnya? Ya lihatlah perang antar umat Islam di luar sana. 

 

Jika di antara kami bertiga ada yang berpandangan sempit, tentu duduk santai bertiga mengobrol di kafe adalah hal sulit, mungkin juga mustahil. Cara pandang yang luas, hati yang lapang dan penuh penerimaan adalah sebuah hasil dari proses belajar. Orang yang terus belajar akan semakin bijaksana. Dengan hati yang saling menerima, kami bertiga bisa saling banyak menerima ilmu dari masing-masing kami, dan menambah persaudaraan.

 

Atin Suhartini, Alumni Pondok Pesantren Nurul Huda Windusengkahan Kuningan

Terkait

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×