Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Menghidupkan Sikap Kritis

Menghidupkan Sikap Kritis
Menghidupkan Sikap Kritis (Freepik)
Menghidupkan Sikap Kritis (Freepik)

Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai sebagian besar manusia yang mengikuti sesuatu yang terjadi di sekelilingnya tanpa memikirkan baik dan buruknya, bermanfaat atau madharat. Sikap seperti itu disebut sikap membebek, mengikuti orang lain tanpa mengetahui alasan atau argumennya. Dalam istilah agama, sikap seperti itu disebut taqlid. Ajaran Islam mengharapkan umat manusia agar menghindari sikap seperti itu dan mengarahkannya agar setiap diri manusia memfungsikan akal dan fikirannya serta bersikap kritis terhadap segala apa yang dijumpainya.


Memfungsikan akal fikiran dengan mengadakan perenungan dan pemikiran untuk memperoleh kebenaran dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, merupakan bagian dari ibadah dalam pengetian yang luas.


قُلِ ٱنظُرُواْ مَاذَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَمَا تُغۡنِي ٱلۡأٓيَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوۡمٖ لَّا يُؤۡمِنُونَ


“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (Q.S. Yunus, 10: 101).


Manusia diperingatkan untuk selalu berfikir, mengamati dan mempelajari berbagai macam hal yang dijumpainya dalam kehidupan. Segala yang dijumpai dalam pergantian musim, perubahan alam dengan segala peristiwa dan berbagai macam benda dalam jagat raya, merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi mereka yang menggunakan akal fikirannya.


قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ


“Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui".(Q.S. Saba’, 34: 36)


Dengan melakukan pemikiran dan penelitian terhadap alam semesta, manusia akan memperoleh ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi kesejahteraan makhluk lain. Manusia yang mengingkari anugerah akal dan fikiran, kemudian tidak memfungsikanya secara wajar, atau melalaikan ayat-ayat dan bukti-bukti keagungan Allah s.w.t. patut mendapatkan cemoohan dan hinaan. Allah s.w.t. mencela manusia seperti ini dalam firman-Nya:


وَكَأَيِّن مِّنۡ ءَايَةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ يَمُرُّونَ عَلَيۡهَا وَهُمۡ عَنۡهَا مُعۡرِضُونَ وَمَا يُؤۡمِنُ أَكۡثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشۡرِكُونَ


“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)”. (Q.S. Yusuf, 12: 105-106).


Dalam ayat lain disebutkan:
 

وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ


“Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya”.(Q.S. Yasin, 36: 46).


Tidak memfungsikan akal fikiran dari tugas yang sebenarnya akan menurunkan manusia pada suatu derajat yang lebih rendah dan lebih hina dari makhluk lain, bahkan lebih rendah dari hewan ternak sekalipun. Keadaan seperti itu merupakan penghalang yang sangat besar bagi umat masa lalu untuk menembus langsung hakikat yang ada dalam diri, jiwa dan alam semesta.


وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ


“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.(Q.S. Al-A’raf, 7:179).


Tidak memfungsikan akal fikiran, sangat erat kaitannya dengan sikap taklid, suatu sikap yang tercela sebagaimana disebutkan di atas. Ia merupakan penghalang yang sangat dominan bagi kemerdekaan akal fikiran, sebaliknya ia selalu membelenggu dan memenjarakan kebebasan berfikir. Sikap taklid sangat tercela dalam pandangan Islam, baik taklid yang nyata ataupun yang tersembunyi.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, Salah seorang Mustasyar PBNU

Ubudiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×