• logo nu online
Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Sabtu, 9 Desember 2023

Ubudiyah

Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Nabi Muhammad Saw dalam Kitab Ar-Rahiq al-Makhtum

Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Nabi Muhammad Saw dalam Kitab Ar-Rahiq al-Makhtum
Kitab Ar-Rahiq al-Makhtum (Foto: AM)
Kitab Ar-Rahiq al-Makhtum (Foto: AM)

Kitab Ar-Rahiq al-Makhtum, salah satu kitab yang membahas tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW secara komprehensif. Kitab ini tidak hanya membahas tentang kisah hidup Nabi, tetapi juga tentang akhlak Rasulullah yang sangat terpuji.


Melansir NU Online, Utsatdz Zainuddin Lubis, Pegiat kajian tafsir menjelaskan ada salah satu pujian yang diucapkan oleh Syekh Shafiyurrahman Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum, [Beirut; Dar Hilal, 1427 H]  halaman 440.


“Nabi Muhammad memiliki akhlak yang sempurna, dan kesempurnaan akhlaknya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Hal ini menyebabkan hati manusia dipenuhi rasa hormat kepada beliau, dan para pria rela berkorban untuk melindungi dan memuliakan beliau. Hal ini tidak pernah terjadi pada orang lain di dunia. Orang-orang yang pernah mengenal dan mencintai beliau hingga tingkat yang sangat tinggi, dan mereka tidak peduli jika leher mereka patah atau kuku beliau tergores. Mereka mencintai beliau dengan demikian karena beliau telah menerima bagian dari kesempurnaan yang biasanya dicintai manusia, dan tidak ada manusia lain yang pernah mendapatkannya,”  Syekh Shafiyurrahman Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum, [Beirut; Dar Hilal, 1427 H]  halaman 440.


Kitab ini diawali dengan pembahasan tentang kondisi sosio-geografi bangsa Arab, sebelum Rasulullah lahir di Kota Mekah. Jazirah Arab, tempat asal bangsa Arab, terletak di Asia Barat Daya. Wilayah ini sebagian besar berupa gurun pasir dan perbukitan batu. Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena letak geografis. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. [hal. 1].   
 

Kondisi geografis ini menyebabkan masyarakat Arab hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah. Pun karena kondisi ini, membuat jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok, atau menguasai bangsa Arab.
 

Masyarakat Arab sebelum Islam, yang disebut dengan masyarakat jahiliyah, memiliki kondisi sosial yang sangat memprihatinkan. Mereka hidup dalam kegelapan dan kebodohan. Mereka menyembah berhala dan melakukan berbagai perbuatan dosa, seperti membunuh bayi perempuan, berzina, dan meminum minuman keras.   
 

Dari sisi kondisi ekonomi, masyarakat Arab sebelum Islam sebagian besar hidup dari bertani, berdagang, dan merampok. Mereka juga sering berperang antar suku. Masyarakat Arab yang tinggal di daerah pegunungan dan lembah umumnya hidup dari pertanian. Mereka menanam gandum, kurma, dan buah-buahan. Namun, pertanian di Arab pada masa itu masih sangat sederhana dan terbatas. Hal ini disebabkan oleh kondisi alam yang kering dan gersang.   


Pada sisi lain, Masyarakat Arab yang tinggal di daerah pesisir dan perkotaan umumnya hidup dari perdagangan. Mereka berdagang dengan bangsa-bangsa lain di sekitar Laut Merah, Laut Tengah, dan Persia. Barang dagangan yang diperdagangkan antara lain rempah-rempah, kain, dan hewan.   


Sementara dari segi kondisi politik masyarakat Arab sebelum Islam tidak memiliki pemerintahan yang kuat. Mereka hidup dalam sistem kesukuan yang dipimpin oleh seorang syekh atau kafilah. Maka tak jarang, pada masa para suku yang saling bermusuhan. Perang antarsuku sering terjadi untuk memperebutkan wilayah, sumber daya, atau sekadar balas dendam. Perang antarsuku ini menyebabkan terjadinya kekacauan dan ketidakstabilan di Arab.
 

Di tengah kondisi yang seperti ini, Rasulullah dilahirkan. Dari seorang ayah yang bernama Abdullah, klan Quraisy yang sangat disegani di kota Mekah. Keluarga Nabi terkenal dengan sebutan keluarga Hasyimiyah, yang dinisbatkan pada kakeknya, Hasyim bin Abdu Manaf.   


Sementara dari jalur ibu, ibunda Nabi Muhammad bernama Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Saat itu, Siti Aminah perempuan terpandang di kalangan Quraisy dari segi keturunan maupun kedudukannya. Bapaknya, adalah pemuka Bani Zahrah, yang sangat disegani. [halaman 44].   
 

Setelah beberapa saat, Abdul Muthalib mengirim Abdullah ke Madinah untuk mengurus kurma. Abdullah meninggal di Madinah, dan ada yang mengatakan bahwa dia pergi berdagang ke Syam. Dia datang dengan kafilah Quraisy, dan dia turun di Madinah dalam keadaan sakit. Dia pun meninggal di Madinah, dan dimakamkan di rumah An-Nabighah Al-Ja'di. Dia berusia 25 tahun saat itu, dan kematiannya terjadi sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw. Mendapati kematian suaminya, Abdullah, Ibunda Nabi meratap dengan sangat sedih, dengan mengenakan pakaian yang usang, Siti Aminah bersyair;  
 

عفا جانب البطحاء من ابن هاشم ... وجاور لحدا خارجا في الغماغم دعته المنايا دعوة فأجابها ... وما تركت في الناس مثل ابن هاشم عشية راحوا يحملون سريره ... تعاوره أصحابه في التزاحم فإن تك غالته المنايا وريبها ... فقد كان معطاء كثير التراحم   


Artinya; "Seorang anak Hasyim telah wafat di Batha’, menyisihkan liang lahat di tempat yang jauh di sana, 


Banyak ajakan cita-cita yang hendak dipenuhi, tidak banyak yang ditinggalkan seperti anak Hasyim ini, 


mereka membawa tempat tidurnya di senja hari, rekan-rekannya menampakkannya beramai-ramai, 


cita-cita dan keraguannya kian melambung, dia telah banyak memberikan kasih sayang."   


Setelah itu, kitab ini membahas tentang masa kecil dan remaja Nabi Muhammad SAW. Menurut Syekh Shafiyurrahman Mubarakfuri bahwa Nabi Muhammad SAW tumbuh menjadi seorang anak yang saleh dan berakhlak mulia. Muhammad kecil, sering membantu orang-orang yang membutuhkan, dan selalu bersikap baik kepada semua orang.   


Kendati pun lahir dalam keadaan yatim, tetapi cinta dan kasih sayang senantiasa tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW. dirawat oleh ibunda dengan kasih sayang, disusui juga oleh Tsuwaibah, hamba sahaya milik Abu Lahab, yang kebetulan anaknya Abu Lahab [sepupu Rasulullah],  yang bernama Masruh, juga tengah menyusui. Setelah itu Nabi juga disusui Ummu Salamah bin Abdul Asad al Makhzumi.   


Kitab ini juga membahas tentang masa kenabian Nabi Muhammad SAW. Shafiyurrahman Mubarakfuri, menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya pada tahun 610 M di Gua Hira. Usia baginda 40 tahun, usia yang telah matang untuk mengemban misi kenabian. Setelah itu, beliau mulai menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Mekkah.   


Penyebaran ajaran Islam oleh Nabi Muhammad SAW tidak berjalan dengan mudah. Selama tiga tahun, dakwah Nabi Muhammad SAW masih bersifat rahasia dan individual. Sejatinya Nabi ingin membangun kota Mekah, yang saat sentral agama bangsa Arab. Di sana ada peribadatan terhadap Ka’bah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh Arab.    


Selama periode dakwah dari sembunyi-sembunyi, hingga diperintahkan secara terang-terangan, Nabi Muhammad dan para sahabat pengikutnya sering mengalami permusuhan dan penganiayaan dari kaum kafir Quraisy. Namun, Nabi Muhammad SAW tetap sabar dan tabah dalam menghadapi semua tantangan tersebut. Salah satu orang yang menghalangi dakwah Nabi adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Keduanya orang yang paling vokal menyerukan penentangan terhadap dakwah yang Rasulullah emban.   


Lebih jauh, setelah menghadapi pelbagai tekanan, dalam kitab ini juga membahas tentang peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Syekh Shafiyurrahman Mubarakfuri menjelaskan bahwa peristiwa hijrah ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah menandai dimulainya masa baru bagi umat Islam.   


Di Madinah, Nabi Muhammad SAW berhasil membangun masyarakat Islam yang kuat dan adil. Rasulullah juga berhasil menyatukan suku-suku Arab yang sebelumnya sering bermusuhan. Lebih lanjut, Nabi Muhammad SAW berhasil membangun masyarakat Islam yang kuat dan adil di Madinah dengan menerapkan berbagai kebijakan dan strategi. Rasulullah membangun persatuan dan kesatuan umat Islam dengan mendirikan Piagam Madinah. Piagam Madinah merupakan sebuah perjanjian yang mengatur hubungan antara umat Islam, kaum Yahudi, dan kaum musyrik di Madinah.   


Kitab Ar-Rahiq al-Makhtum ini merupakan kitab yang sangat bermanfaat bagi umat Islam. Kitab ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, mulai dari kelahiran, masa kecil, masa remaja, masa kenabian, hingga wafatnya. Kitab ini juga membahas tentang akhlak Nabi Muhammad SAW yang terpuji.   


Satu hal yang menarik dari kutipan Syekh Shafiyurrahman Mubarakfuri, dalam Ar-Rahiq al-Makhtum, terkait akhlak Rasulullah SAW;


   وكان من صفة الجود والكرم على ما لا يقادر قدره، كان يعطي عطاء من لا يخاف الفقر، قال ابن عباس: كان النبيّ صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وأجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان جبريل يلقاه في كل ليلة من رمضان، فيدارسه القرآن، فلرسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة «٢» . وقال جابر. ما سئل شيئا قط فقال: لا 


Artinya;  "Dan di antara sifat kedermawanan dan kemurahannya yang tidak ternilai harganya, beliau memberikan pemberian seperti orang yang tidak takut miskin. Ibnu Abbas berkata: “Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan, dan paling dermawan ketika beliau bertemu dengan Jibril. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan, dan mereka berdua membaca Al-Qur'an bersama. Maka Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan daripada angin yang berhembus. Jabir berkata: “Beliau tidak pernah ditanya sesuatu pun, lalu beliau menjawab: “Tidak.”   


Kitab ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi dengan berbagai ilustrasi yang menarik. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Ar-Rahiq al-Makhtum; Sirah Nabawiyah sehingga memudahkan dibaca semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.


Sumber: NU Online
 


Ubudiyah Terbaru