• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 28 Mei 2024

Subang

Rais Syuriyah MWCNU Binong: Dari Mana Kita Ketahui Bencana Datang sebagai Ujian atau Azab?

Rais Syuriyah MWCNU Binong: Dari Mana Kita Ketahui Bencana Datang sebagai Ujian atau Azab?
Rais Syuriyah MWCNU Binong, KH Abdul Hadi Muthalib. (Foto: NU Online Jabar)
Rais Syuriyah MWCNU Binong, KH Abdul Hadi Muthalib. (Foto: NU Online Jabar)

Subang, NU Online Jabar

Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Binong, KH Abdul Hadi Muthalib menjelaskan bahwa adakalanya bencana itu datang sebagai ujian dan ada juga yang datang sebagai azab yang harus disegerakan di dunia. 

 

Menurutnya, saat ini banyak khalayak di media sosial begitu mudahnnya membuat konten yang membumbui bencana alam Gempa di Kabupaten Cianjur sebagai azab dari Allah SWT. 

 

Kiai Hadi yang sekaligus ketua MUI Kecamatan Binong itu kemudian merespons hal tersebut dengan sebuah pertanyaan. “Dari mana kita mengetahui bahwa sebuah bencana dan musibah adalah ujian ataukah azab?” tuturnya. 

 

Ia kemudian menjelaskan bahwa apabila musibah itu ditimpakan kepada orang-orang saleh dan taat kepada Allah SWT, maka bencana tersebut menjadi sebuah ujian yang meninggikan derajat mereka dan melipatgandakan pahala mereka di akhirat.

 

“Musibah yang berupa ujian ini ditimpakan oleh Allah kepada orang-orang yang dikehendaki kebaikan pada dirinya, seperti para nabi, para wali, para ulama yang mengamalkan ilmunya dan orang-orang saleh lainnya,” terang Kiai Hadi dalam Pengajian Syahriahan Bulanan di Desa Kihiyang, Binong, Kabupaten Subang, Rabu (30/11/2022).

 

Dalam sejarah, lanjutnya, Nabi Nuh diuji dengan anak dan istrinya yang tidak mau beriman. Ia juga dicaci dan seringkali dipukuli sampai pingsan ketika menyampaikan dakwah kepada umatnya. Nabi Ibrahim diuji dengan dilemparkan ke api yang berkobar-kobar dan tidak dikarunia anak sampai usia lanjut. Nabi Zakariyya meninggal digergaji. Nabi Yahya kepalanya dipenggal. 

 

“Banyak nabi di kalangan Bani Israil yang mati dibunuh sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 87 dan surat Ali Imran ayat 181. Nabi Ayyub diuji dengan sakit selama 18 tahun dan dimatikan seluruh anaknya dan dilenyapkan seluruh hartanya,” jelasnya.

 

Nabi Muhammad diuji dengan cacian dari kaumnya, dijatuhkan kotoran dan jeroan unta pada kepala dan badannya saat sujud, dilempari batu sampai berdarah, ditinggal mati oleh istri tercintanya, ditinggal mati oleh putranya saat masih bayi, meninggalkan kampung halaman yang sangat beliau cintai, mengalami demam tinggi dua kali lipat dari demam paling tinggi yang dialami manusia pada umumnya dan lain sebagainya,” tutur Kiai Hadi.

 

Bagi seorang mukmin, kata Kiai Hadi, musibah yang menimpanya baik musibah itu ujian ataupun azab, adalah kebaikan baginya apabila dihadapi dengan sabar dan ridha. Jika berupa ujian maka musibah itu akan meninggikan derajatnya dan melipatgandakan pahalanya di akhirat. 

 

Dan jika berupa azab maka azab di dunia itu akan menggugurkan azab baginya di akhirat kelak. Dan hal itu lebih baik baginya. Karena azab di akhirat jauh lebih berat dan lebih pedih dibandingkan azab dunia.  

 

“Sedangkan bagi orang kafir, bencana dan musibah apa pun yang menimpanya di dunia tidaklah bermanfaat sama sekali baginya di akhirat,” tutunya.

 

“Jika seseorang mulai berbuat taat dan mulai meninggalkan hal-hal yang diharamkan lalu ditimpa berbagai musibah maka itu adalah ujian baginya. Apakah ia akan terus melanjutkan ketaatan ataukah ia kendor semangat lalu meninggalkan ketaatan itu.   Apabila seseorang ditimpa musibah dan bencana setelah ia berbuat maksiat dan dosa maka yang semestinya dia lakukan adalah menyegerakan tobat dengan sungguh-sungguh dari semua dosa yang pernah ia lakukan,” tandasnya.

 

Pewarta: Fathir Najmi Nusabihak

Editor: Agung Gumelar 


Editor:

Subang Terbaru