Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Putin: Apa yang Kau Mau?

Putin: Apa yang Kau Mau?
Putin saat meresmikan mesjid terbesar di Moskow (Foto: Reuters)
Putin saat meresmikan mesjid terbesar di Moskow (Foto: Reuters)

Oleh Ahmad Ali Nurdin

"Perang perang lagi. Semakin menjadi. Berita ini hari. Berita jerit pengungsi."


Itulah kata-kata dalam syair lagu Puing II, karya Iwan Fals. Perang seolah tak akan berhenti. Dalam sejarah umat manusia. Karena berbagai alasan. Atas nama pribadi. Atas nama suku. Atas nama nasionalisme. Atas nama mempertahankan diri. Dan atas nama-atas nama yang lain. Atas nama egoism, yang pasti. Karena egoism. Tak mau kompromi. Tak mau mencari jalan lain. Yang mendamaikan. Yang win win solution.


Itulah yang terjadi dalam satu Minggu ini. Ketika Rusia menyerang Ukraina. Ketika Vladimir Putin mengumumkan. Operasi militer khusus. Tanggal 24 Februari lalu. Pengumuman itu. Seolah menjadi rentetan berikutnya. Setelah tanggal 21 Februari. Putin mengakui kemerdekaan Republik Donetsk dan Luhansk. Dua negara baru. Yang sejak lama ingin memisahkan diri. Dari Ukraina. Ukraina menuduh Rusia mempersenjatai kelompok separatist di Donetsk dan Luhansk. Dan sekarang mengakui kemerdekaannya. Rusia menuduh Amerika dan NATO mendukung persenjataan Ukraina. Untuk menghancurkan kaum separatist. Saling tuduh. Tidak ada akhirnya.


Dalam pengumuman perang itu. Putin memberikan alasan. Menjaga keamanan teritorialnya. Dari ancaman NATO. “ ….saya merujuk kepada apa yang menyebabkan kekhawatiran kita, terutama ancaman bagi negara kita, dari tahun ke tahun, step by step, serangan yang dibuat oleh politisi tidak bertanggungjawab di Barat. Saya merujuk kepada expansi NATO ke Timur, menambahkan infrastruktur militer, yang semakin dekat dengan batas negara Rusia…” Sudah tiga puluh tahun kita bersabar. Untuk mencapai persetujuan. Dengan negara-negara yang tergabung dalam NATO atas prinsip kesetaraan…Dalam merespon proposal kita, kita dihadapkan kepada kebohongan, sinisme, tekanan bahkan blackmail…dalam protest kita, ternyata NATO malah terus melakukan ekspansi…Demikian kata Putin seperti dikutip Aljaziira.


Putin menjadi sorotan. Fiona Hill, seorang pengamat Rusia dan mantan penasehat Gedung Putih, menyebut Putin sebagai One-Man Show yang susah ditebak. Ia juga disebut sebagai “A man who likes a high-risk, high-reward gamble.” Putin sedang menguatkan imej dirinya. Sebagai pemain poker, dengan seluruh kartu di tangannya, kata Timothy Ash. Karenanya susah ditebak. Apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa yang akan dilakukan Putin. Setelah mengancam sana sini. Bagi yang mendukung Ukraina. Bahkan peringatan. Tepatnya ancaman. Menyiagakan senjata nuklir. Mulai dilakukan Putin.


Putin memang sering menjadi pemain tunggal. Kurang pengalaman hidup di luar Rusia. Hanya pernah lima tahun bertugas. Di Jerman Timur tahun 1985-1990. Tepatnya di Dresden. Latar belakangnya sebagai agen KGB. Bisa jadi diantara penyebabnya. Training di KGB banyak mengajarkannya. Untuk focus kepada individu. Bukan masyarakat. Misinya adalah menarget kelemahan orang. Untuk memanipulasi orang. Demi kepentingan dirinya. Putin tidak percaya. Untuk memberikan perhatian bagi dinamika sosial. Dinamika politik. Yang lebih luas. Yang ada di sekelilingnya, demikian kata Hill dan Gaddy (2015).


Apa yang diinginkan Putin? Melindungi negaranya, titik. Bisa jadi alasan klisi. Hanya apology. Tapi itulah faktanya. Itulah yang disebarkan. Seperti kata pengakuannya. Ketika pidato mengumumkan operasi militer ke Ukraina. Dihadapan rakyat Rusia. Dia ingin masyarakat dunia. Tepatnya pemimpin-pemimpin dunia. Termasuk Amerika. Untuk mengakui kedaulatan negaranya. Agar Rusia tidak diganggu. Kedaulatan dan keamanannya. “Bezopasnost” bahasa Rusianya. “Tidak ada ancaman sama sekali”.


Melihat politik Rusia ke belakang. Nampaknya tradisi one man show menjadi ciri budaya politiknya. Lingkaran kecil oligarki. Yang berpusat pada satu pemimpin. Menjadi elemen penting. Sejak sebelum revolusi Rusia, bahkan dalam system politik Soviet. Bagi Putin, seperti dikutip Fiona, paradigma internasional era Soviet tidak pernah hilang. Betul, komunisme telah pergi. Uni Soviet hancur berkeping-keping. Tetapi Rusia tidak pergi kemana-mana. 


Putin betul-betul powerfull. Dalam politik Rusia. Betul-betul one man show. Tahun 1999, Putin diminta presiden Boris Yeltsin. Menjadi Perdana Menteri. Yeltsin mengundurkan diri. 31 Desember 1999. Menunjuk Putin sebagai Pjs Presiden. Sampai dilakukan pemilu tahun 2000. Putin terpilih untuk masa jabatan presiden selama empat tahun. Terpilih kembali menjadi presiden periode kedua, 2004-2008. Tak bisa mencalonkan diri untuk periode ketiga. Karena alasan konstitusi. Tidak membolehkan itu. Ia memberikan jalan kepada teman politiknya Dmitry Medvedev sebagai penerusnya. 


Setelah Medvedev memenangkan pemilu presiden. Pada Maret 2008. Putin menerima posisi sebagai ketua umum Partai Persatuan Rusia (United Russia Party). Medvedev sebagai presiden. Tak lama setelah ia disumpah menjadi presiden. Pada 7 Mei 2008. Medvedev menominasikan Putin sebagai Perdana Menteri. Jadilah Putin Perdana Menteri, 2008-2012.


Empat tahun kemudian. Putin Kembali menjadi Presiden Rusia. Sebelum dilantik menjadi presiden, tanggal 7 Mei 2012. Putin memutuskan turun dari jabatan ketua umum partai. Dan menyerahkannya kepada Medvedev. Tak lama setelah dilantik menjadi presiden. Untuk ketiga kalinya. Putin menunjuk Medvedev menjadi Perdana Menteri Rusia. Seolah lokiran antara Putin dan Medvedev. Itulah diantara bukti one man show dan oligarki. Dalam politik Rusia.


Setelah amandemen. Masa jabatan presiden Rusia berubah dari 4 tahun menjadi 6 tahun. Yang tadinya dari 2012 harus berakhir 2016, Putin menjabat sampai 2018. Dan terpilih kembali untuk periode keduanya (sebenarnya periode keempat) dari tahun 2018-2024. Akan selesaikah karir politik Putin pada 2024? Meskipun masih lama. Dan sekarang masih menjabat. Terjadi lagi amandemen konstitusi Rusia. Tepatnya Juni-Juli 2020. Yang mengamandemen masa jabatan Presiden. Hampir 78 persen pemilih setuju. Perubahan konstitusi Rusia yang kesekian kalinya. Yang memberikan kesempatan. Kepada Putin. Jika ia sehat. Untuk menjabat menjadi presiden Rusia. Periode selanjutnya. 2024-2030. Bahkan periode 2030-2036. 


Dalam sejarah politik dunia. Tidak aneh. Kalau ada perubahan konstitusi. Lewat amandemen. Untuk memperpanjang masa jabatan presiden. Atau perdana Menteri.  Catatan Alexander Baturo dan Robert Elgie, dalam The Politics of Presidential Term Limits (Oxford University Press, 2019) menyebutkan. Dari tahun 1945 sampai 2017, ada 94 presiden di dunia. Yang melakukan amandemen. Masa jabatan presiden. Baik pada regime demokratis. Atau tidak demokratis. Sama saja. Kursi kekuasaan itu empuk. Bagi banyak orang. Yang mendorongnya untuk duduk lebih lama. Seperti presiden Rusia itu.


Kembali kepada perang. Yang belum berakhir. Hanya menyengsarakan orang. Baik bagi pemanggul senjata. Ataupun rakyat biasa. Sudah ribuan orang. Konon yang meninggal. Gara-gara serangan itu. Terserah kepada Putin. Akankah terus berperang. Atau melakukan perundingan. Atas nama kemanusiaan. Atas nama perdamaian. Menghindari banyak korban. Sayang Putin tak kenal Iwan Fals. Ketika dengan lirih bersuara. Dalam lirik lagu Puing:….Bayi bertanya bimbang: "Mama, kapan Ayah pulang?, Mama, sebab apa perang?.... Berhentilah. Jangan salah gunakan kehebatan. Ilmu pengetahuan untuk menghancurkan.


Penulis adalah Guru Besar Ilmu Politik Islam, Dekan FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×