Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Perjuangan Kelas, Bukan Pemberdayaan

Perjuangan Kelas, Bukan Pemberdayaan
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Oleh: Amin Mudzakir
Perjuangan kelas mesti dibedakan dengan pemberdayaan. Yang pertama menyangkut struktur, sedangkan yang kedua menyangkut agensi. Keduanya penting, sehingga perlu diintegrasikan ke dalam suatu skema transformasi sosial. 

 

Masalahnya, argumen yang dibangun oleh para aktivis NGO sejak dekade 1980-an umumnya berpusat pada pemberdayaan. Argumen ini berangkat dari asumsi mengenai masyarakat yang lemah, tidak mempunyai kemampuan atau keahlian, sehingga harus dibantu agar berdaya. Pihak yang dianggap bisa membantu adalah para aktivis NGO itu sendiri, yang berpengetahuan, yang disokong oleh lembaga donor, pemerintah, dan bahkan korporasi. 

 

Di sisi lain, perjuangan kelas pada dasarnya melekat pada gerakan buruh. Meski demikian, pendekatan mereka yang berangkat dari asumsi-asumsi Marxisme yang ekonomistik juga bermasalah. Mereka cenderung abai terhadap dunia reproduksi sosial yang penuh simbol, seperti gender, agama, dan kebudayaan. Akibatnya, selain adanya represi dari rezim penguasa, gagasan tentang perjuangan kelas terlihat kurang diminati, dianggap terlalu utopis. 

 

Maka, yang dibutuhkan oleh kita adalah perjuangan kelas dalam pengertian yang luas. Analisis kelas tidak bisa lagi hanya mengandalkan teori-teori lama tentang infrastruktur vs. suprastruktur, seolah-oleh yang kedua hanya bayangan dari yang pertama. Kita membutuhkan pengertian kelas yang tidak mengistimewakan ekonomi, seakan-akan gender, agama, dan kebudayaan hanyalah pancaran dari lampu patromak yang bernama kapitalisme. 

 

Mungkin, gagasan Weber tentang kelas sosial lebih berguna. Kajiannya tentang etika protestan sebagai spirit kapitalisme sangat menarik perhatian. Hubungan antara agama dan ekonomi dalam pengertian ini relatif lebih otonomi. Kalau agama bisa menjadi spirit bagi kapitalisme, maka agama pun bisa digunakan oleh kapitalisme sebagai pelegitimasi dirinya. Hubungan di antara keduanya bersifat kausal. 

 

Apa yang saya maksud dengan "NU dan perjuangan kelas" yang diposting di fesbuk kemarin bertolak dari wawasan teoretis ini. Lalu bagaimana? Pembahasannya masih panjang, perlu di-bahtsul-masail-kan sambil ngopi, udud, dan makan nasi biryani.

 

Penulis merupakan peneliti BRIN

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×