Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Menghidupi Keluarga

Menghidupi Keluarga
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Islam adalah agama universal mencakup seluruh aspek kehidupan. Termasuk bekaitan dengan mencari nafkah bagi seorang suami. Dan bekerja untuk tujuan baik mempunya nilai  Ibadah. Karena Ibadah bukan sekedar syahadat, shalat, zakat, puasa, menunaikan haji.


Alkisah, pada permulaan Islam di Madinah masih ada orang-orang Muslim yang hidup tanpa rumah dan tanpa pekerjaan. Mereka ini tinggal di Masjid dan hidup tenang dari harta Zakat yang diberikan oleh orang lain. Setiap hari yang mereka lakukan adalah berdzikir dan sholat di Masjid.


Sebagian masyarakat sangat menghormati orang-orang yang tiada henti-hentinya berdzikir, sholat, dan berdoa itu.


Rasulullah ﷺ menemukan salah seorang di antara mereka yang benar-benar mengkhususkan dirinya untuk beribadah. Orang itu terlihat begitu kurus karena sholat setiap siang dan malam hari. 


Rasulullah ﷺ juga melihat kekaguman kepada laki-laki tersebut. Dahi Rasulullah ﷺ sedikit berkerut sehingga beliau bertanya kepada orang-orang, 


“Siapa yang memberi dia makan?” 


“Saudaranya ya Rasulullah.” Jawab seseorang. 


“Saudaranya itu jauh lebih ahli ibadah daripada dia,” demikian Sabda Rasulullah ﷺ.


Setelah itu Rasulullah ﷺ pun menghimbau semua orang yang hidup menganggur agar mau bekerja. Jika kita masih mempunyai kaki dan tangan, tidak ada alasan untuk tidak bekerja. Yang terbaik bagi seseorang adalah makan dari hasil pekerjaannya sendiri. 


Rasulullah ﷺ menceritakan kisah Nabi Daud. Walaupun dia seorang raja yang berkuasa dia tetap makan dari hasil pekerjaannya sendiri.


Maka tersentaklah orang-orang mendengar pernyataan Rasulullah tadi, ternyata ibadah itu mempunyai arti sangat luas. Bekerja untuk menafkahi keluarga termasuk ibadah besar jika diniatkan dengan ikhlas karena Allah ﷻ semata. 


Sejak itu kaum Muslimin pun bekerja dengan giat. Apa0un yang halal mereka kerjakan, apalagi banyak ladang-ladang gembala dan sumur-sumur peninggalan orang Yahudi yang kini menjadi milik kaum Muslimin. 


Bekerja sebagai gembala, pencari kayu bakar dan pembuat tembikar jauh lebih baik daripada orang yang terus berdiam diri di masjid hanya untuk berdzikir. 


Rasulullah ﷺ adalah teladan kesungguhan yang sempurna. Apabila beliau telah memusatkan perhatiannya pada ibadah, maka dipusatkanlah perhatiannya sepenuhnya. Dan apabila melaksanakan suatu pekerjaan lain maka takkan beliau sudahi pekerjaan itu sebelum benar-benar selesai.


Dari kisah diatas, bahwa Islam mengajarkan  kepada kita agar setiap waktunya harus menjadi seorang Muslim yg produktif.  Kekuatan Ekonomi suatu bangsa ini karena produktifitas umatnya dan bukan menjadi Muslim pemalas. Menjadi manusia yang taqwa, Meningkat sumber Daya Manusia, dan pemerataan pembangunan sebuah keharusan menjadi amal jama’ai ( kerja kolektif).


Maka 18 Lembaga PWNU Jabar dibentuk bukan untuk berdiam diri menunggu keajaiban dari langit tapi harus menjadi pionir yang terus bergerak tanpa henti dengan motto “ Mengabdi tanpa Batas” berkiprah dan bersinergi dengan program pemerintah Provinsi Jawa Barat agar terealisasi menjadi  “Jabar Juara”  demi kemaslahatan Umat.


Bravo...selamat tinggal kemalasan.


Dede Ropik Yunus, Sekretaris RMI PWNU Jabar, Pengasuh Ponpes Aisyarahmat Cigentur Paseh Bandung, Dosen STIE Ekuitas Bandung

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×