• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Nasional

HAJI 2024

5 Kondisi Jamaah yang Berhak Mendapatkan Layanan Badal Haji

5 Kondisi Jamaah yang Berhak Mendapatkan Layanan Badal Haji
Jamaah haji dengan kondisi kurang sehat (Foto: kemenag)
Jamaah haji dengan kondisi kurang sehat (Foto: kemenag)

Bandung, NU Online Jabar
Kementerian Agama (Kemenag) RI menyediakan layanan badal haji secara gratis untuk jamaah haji reguler yang masuk dalam lima kategori tertentu. Program ini memberikan kesempatan bagi jamaah yang mengalami uzur untuk tetap melaksanakan ibadah haji melalui perwakilan, tanpa biaya alias gratis.


Berikut 5 kategori jamaah yang berhak menerima layanan gratis badal haji: 
1. Jamaah meninggal dunia di asrama haji. 
2. Jamaah meninggal dunia saat dalam perjalanan.
3. Jamaah meninggal dunia di Arab Saudi sebelum wukuf di Arafah. 
4. Jamaah sakit yang tidak dapat disafariwukufkan berdasarkan pertimbangan medis. 
5. Jamaah yang mengalami gangguan jiwa.   


Mengenai sah atau tidak sahnya iabadh haji dan umrah yang dibadalhajikan semuanya ditanggung jawab penuh oleh Kemenag RI, termasuk layanan akomodasi, transportasi, dan konsumsi. Sebagai bagian dari tanggung jawab ini, Kemenag akan menggelar safari wukuf pada puncak haji untuk memastikan kehadiran jamaah di area wukuf.


Mengenai badalhaji tersebut, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa'il Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) Ustadz Alhafiz Kurniawan menjelaskan, ulama secara umum menyebut dua jenis orang yang dapat dibadalkan hajinya.


"Jamaah yang telah meninggal dunia dan Jamaah yang sudah tidak mungkin menunaikan rukun dan wajib haji karena uzur syar’i," kata Ustadz Alhafiz dalam artikel di NU Online dikutip Senin (27/5/2024). 


Ustadz Alhafiz mengutip pernyataan Sayyid Bakri Syatha Ad-Dimyathi dalam Kitab I‘anatut Thalibin yang menyebut, isitha’ah jamaah haji dengan badal haji oleh orang lain. Ini disebut Istitha’ah harta saja. Istithaah dengan badal haji berlaku untuk almarhum/almarhumah dan mereka yang tidak mempu melaksanakan sendiri rukun hajinya.


"Jenazah yang berkewajiban haji wajib dibadalkan sebagaimana tanggung jawab hutangnya yang wajib dibayar dari peninggalan warisannya. Demikian juga orang yang tidak mampu secara fisik melaksanakan haji sendiri, yaitu jamaah lansia dan jamaah sakit yang rendah harapan sembuhnya," demikian penjelasan di dalam Kitab I‘anatut Thalibin pada halaman 286 jilid 2. 


Ustadz Alhafiz menyebutkan bahwa praktik badal haji dihukumi sah secara syar'i didasarkan pada hadits riwayat sahabat Abdullah bin Abbas. 


Di dalam hadist itu, diceritakan ada seorang perempuan dari Juhainah bertanya kepada Rasulullah tentang ibunya yang meninggal sebelum menunaikan nazar haji. Perempuan iitu bertanya soal boleh atau tidak dirinya membadalkan haji sang ibu.


Kemudian Rasulullah menjawab, "Tentu, badalkanlah hajinya. Jika ibumu memiliki utang, bukankah kau harus melunasinya?" 


Ketika perempuan itu mengiyakan, Rasulullah menegaskan, "Bayarlah hak Allah, karena hak-Nya lebih utama untuk dipenuhi (HR Al-Bukhari)." 


Dari hadits ini, Ustadz Alhafiz menjelaskan bahwa Rasulullah menyerupakan haji dengan utang dan memerintahkan perempuan tersebut membadalkan haji almarhumah ibunya. Hal ini menunjukkan bahwa pembadalan haji atas almarhum/almarhumah jamaah haji wajib dilaksanakan.
 


Nasional Terbaru