• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 15 April 2024

Kota Bandung

HUMOR

Humor: Ketika Ajudan Gus Dur Hanya Membawa Catatan Kosong 

Humor: Ketika Ajudan Gus Dur Hanya Membawa Catatan Kosong 
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (Foto: republika)
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (Foto: republika)

Bandung, NU Online Jabar 
Alkisah, pada suatu hari ketika Gus Dur yang masih menjabat sebagai presiden waktu itu mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Mesir. 

 

Layaknya pertemuan bilateral pada umumnya, setiap presiden membawa ajudannya masing-masing. Tugasnya macam-macam, salah satunya ada yang ditugaskan menjadi juru catat (note taker) dalam rapat. 

 

Gus Yahya pada saat itu jadi ajudan Gus Dur diminta untuk menjadi note taker rapat karena juru catat atau ajudan Gus Dur yang lain tidak ada yang mengerti bahasa Arab. 

 

“Pak, mohon izin, saya nanti minta tolong Bapak yang mencatat, ya. Saya ini tidak paham bahasa Arab,” pinta seorang ajudan kepada Gus Yahya. 

 

“Insyaallah saya catatkan,” kata Gus Yahya mengiyakan permintaan si ajudan. 

 

Tibalah pertemuan itu, anggota delegasi dari masing-masing kedua negara duduk di kursinya masing-masing. Perdana menteri kemudian membuka rapat pertemuan dengan bahasa Arab. 

 

Namun, pada saat itu Gus Dur meminta agar pembicaraan dilakukan dengan bahasa Inggris saja. 

 

“Staf-staf di belakang saya ini tidak paham bahasa Arab,” kata Gus Dur. 

 

Maka, rapatpun dilanjut dalam bahasa Inggris. Gus Dur pun saat itu berbicara dalam bahasa Inggris. Namun, sepanjang rapat orang-orang hanya terus menerus tertawa. 

 

Ntah apa yang dibicarakan Gus Dur sampai membuat rapat itu menjadi begitu cair, sampai-sampai Paspampres yang menjaga di depan pintu pun bolak-balik melongok keadaan rapat di dalam ruangan. 

 

Pertemuan tersebut berlangsung kurang lebih selama satu setengah jam, dan selama itu pula orang-orang lebih banyak tertawa. 

 

“Bagaimana catatannya, Pak? Beres?” tanya Gus Yahya kepada note taker. 

 

“Apa yang mau dicatat, Pak? Isinya Cuma ketawa-ketawa terus,” jawabnya.

 

Kisah ini diambil dari buku ‘Menghidupkan Gus Dur Catatan Kenangan Yahya Cholil Staquf’ karya AS Laksana, (2021). (Agung Gumelar)


Kota Bandung Terbaru