• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 22 Februari 2024

Hikmah

Intisari Nasehat Penting Kitab Ta’limul Muta’allim Secara Abjad Huruf Hijaiyah

Intisari Nasehat Penting Kitab Ta’limul Muta’allim Secara Abjad Huruf Hijaiyah
Intisari Nasehat Penting Kitab Ta’limul Muta’allim Secara Abjad Huruf Hijaiyah. (Foto Istimewa)
Intisari Nasehat Penting Kitab Ta’limul Muta’allim Secara Abjad Huruf Hijaiyah. (Foto Istimewa)

Oleh Cep Herry Syarifuddin 

Syekh Al-Zarnuji pengarang kitab Ta’limul Muta’allim menguraikan banyak petuah atau nasehat yang sangat penting dan indah dalam bentuk syair terkait cara-cara meraih kesuksesan belajar sekaligus mengandung nilai-nilai moralitas yang berbalut religiuitas yang kental untuk membentuk santri atau murid yang memiliki kesalehan ritual dan sosial sehingga terwujudlah pribadi yang cerdas baik secara intelektual, spiritual maupun emosional.

 

Berikut ini dipilihkan berbagai nasehat penting dalam kitab tersebut berdasarkan susunan abjad huruf Hijaiyyah dari permulaan syairnya, antara lain:

 

1. Sedikit Bicara, Banyak Belajar dan Beramal

اِذَا تَمَّ عَقْلُ الْمَرْءِ قَلَّ كَلَامُهُ # 
                             وَاَيْقِنْ بِحُمْقِ الْمَرْءِ اِنْ كَانَ مُكْثِرًا 

 

 “Jika akal seseorang itu sempurna, maka akan sedikitlah bicara (obrolan)nya # dan yakinlah engkau akan kedunguan orang yang banyak bicara (mengobrol).”

2. Enam Kunci Sukses Menuntut Ilmu

اَلَا  لَا تَنَالُ الْعِلْمَ اِلَّا بِسِتَّةٍ# سَأُنْبِيْكَ عَن مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

“Ingatlah, tidak akan engkau mencapai (manisnya) ilmu kecuali dengan enam perkara # Aku akan memberitahukannya kepadamu dengan penjelasan.”

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ  # وَاِرْشَادِ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Kecerdasan, kesungguhan (antusias), sabar dan punya biaya # dan petunjuk guru serta lamanya waktu.”

3. Hormati dan Patuhilah Nasehat Guru

اِنَّ الْمُعَلِّمَ وَالطَّبِيْبَ كِلَاهُمَا # لَا يَنْصَحَانِ اِذَا هُمَا لَمْ يُكْرَمَا

“Sesungguhnya guru dan dokter keduanya # tidak akan memberikan nasehat jika keduanya tidak dimuliakan.”

فَاصْبِرْ لِدَائِكَ اِنْ جَفَوْتَ طَبِيْبَهَا #
                             وَاقْنَعْ بِجَهْلِكَ اِنْ جَفَوْتَ مُعَلِّمَا

Maka bersabarlah dengan penyakitmu jika Engkau menentang(nasehat) dokternya # dan terimalah kebodohanmu jika engkau menentang (nasehat) guru.”

4. Hakekat Hawa Nafsu adalah Kehinaan.

اِنَّ الْهَوَى لَهُوَ الْهَوَانُ بِعَيْنِهِ # وَصَرِيْعُ كُلِّ هَوًى صَرِيْعُ هَوَانٍ 

 “Sesungguhnya hawa nafsu itu adalah kehinaan pada hakekatnya # dan mengalahkan setiap hawa nafsu berarti mengalahkan kehinaan itu sendiri.”

5. Pertimbangan dalam Penyusunan Pembicaraan yang Efektif.

اُوْصِيْكَ فِيْ نَظْمِ الْكَلَامِ بِخَمْسَةٍ # 
                            اِنْ كُنْتَ لِلْمُوْصِى الشَّفِيْقِ مُطِيْعًا
لَا تَغْفُلَنْ سَبَبَ الْكَلَامِ وَوَقْتَهُ # وَالْكَيْفَ وَالْكَمْ وَالْمَكَانَ جَمِيْعَا  

 “Aku berwasiat (memberi nasehat) kepadamu dalam menyusun percakapan (yang efektif) itu ada 5 macam # jika engkau mau menuruti  pemberi nasehat  yang penyayang ini.”
 “Janganlah engkau melupakan pertimbangan ini : (1) latar belakang percakapan, (2) waktu (percakapan yang berkaitan dengan tema pembicaraan), # (3) bagaimana (cara mensukseskan pembicaraan, teknik berbicara, meyakinkan dan merubah pendengar, dan sebagainya), (4) berapa (biaya yang dibutuhkan, usia dan jumlah pendengar, keuntungan dan kerugian yang mungkin terjadi, dan sebagainya) dan (5) tempat (lingkungan pembicaraan harus dipertimbangkan) seluruhnya.”

6. Kesuksesanmu Tergantung Sebesar Apa Pengorbanan dan Perjuanganmu Serta Arti Penting Bangun Malam.
 

بِقَدْرِالْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِيْ #  وَمَنْ طَلَبَ الْعُلٰى سَهِّرِ اللَّيَالِيْ

“Sejauh mana ukuran kerja kerasmu, begitu pula ukuran engkau meraih keluhuran (kesuksesan)# Barangsiapa mencari keluhuran, hendaklah ia menghidupkan malam-malamnya (dengan ibadah dan ketekunan belajar).”

تَرُوْمُ الْعِزَّ ثُمَّ تَنَامُ لَيْلًا # يَغُوْصُ الْبَحْرَ مَنْ طَلَبَ اللَّأٰلِيْ

“Engkau menginginkan kemuliaan kemudian Engkau tidur (terus) di malam hari # (ketahuilah) bahwasanya orang yang ingin mencari mutiara itu harus susah payah menyelami lautan”.

عُلُوُّ الْكَعْبِ بِالْهِمَمِ الْعَوَالِيْ # وَعِزُّالْمَرْءِ فِيْ سَهْرِ اللَّيَالِيْ

“Tingginya kemuliaan itu diraih dengan cita-cita yang luhur #  Dan mulianya seseorang itu terletak pada seringnya ia bangun malam.”


وَمَنْ رَامَ الْعُلٰى مِنْ غَيْرِ كَدٍّ # اَضَاعَ الْعُمْرَ فِيْ طَلَبِ الْمُحَالِ

 “Barangsiapa yang berhasrat menggapai keluhuran tanpa kerja keras # berarti ia telah menyia-nyiakan umur untuk mencari hal yang mustahil”

7. Belajarlah Selalu.  Jadilah Ahli ilmu Yang Wara’.

تَعَلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ # وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِدِ

 “Belajarlah. Karena sesungguhnya ilmu itu hiasan bagi pemiliknya # serta menjadi keunggulan dan ciri bagi setiap hal yang terpuji.”

وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً # 
                            مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِيْ بُحُوْرِالْفَوَائِدِ

 “Jadilah engkau orang yang selalu mencari tambahan faedah setiap hari # berupa faedah ilmu. Berenanglah engkau dalam lautan faedah (ilmu).”

تَفَقَّهْ فَإِنَّ الْفِقْهَ اَفْضَلُ قَائِدٍ # اِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاَعْدَلُ قَاصِدٍ

 “Perdalamlah ilmu agama (menjadi ahli fiqh). Karena sesungguhnya fiqh itu penuntun yang paling utama # kepada kebaikan dan taqwa serta tujuan yang lebih seimbang.”

هُوَ الْعِلْمُ الْهَادِيْ اِلَى سُنَنِ الْهُدَى # 
                        هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِيْ مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ

 “Fiqh itu ilmu yang menunjukkan kepada jalan-jalan petunjuk # serta menjadi benteng yang menyelamatkan dari setiap kesulitan.”

فَإِنَّ فَقِيْهًا وَاحِدًا مُتَوَرِّعًا # اَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ اَلْفِ عَابِدٍ  

 “Karena sesungguhnya seorang faqih (pemilik ilmu agama yang dalam) lagi bersikap wara’ (menjaga dari perkara haram dan syubhat) # itu  lebih berat (digodanya) bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.

8. Sungguh-sungguh dan Antusias Dalam Mewujudkan Cita-cita

اَلْجِدُّ يُدْنِيْ كُلَّ اَمْرٍشَاسِعٍ # وَالْجِدُّ يَفْتَحُ كُلَّ بَابٍ مُغْلَقٍ 

“Kesungguhan itu bisa mendekatkan segala perkara yang jauh # dan kesungguhan itu bisa membuka setiap pintu yang tertutup.”

9. Satu Huruf Bernilai Seribu Dirham.

رَأَيْتُ اَحَقَّ الْعِلْمِ حَقَّ الْمُعَلِّمِ # 
                             وَاَوْجَبَهُ حِفْظًا عَلَى كُلٍّ مُسْلِمٍ

 “Aku melihat yang paling dihormati semestinya dalam ilmu adalah haq seorang guru (kyai) # dan paling wajib untuk dijaga oleh setiap Muslim”.

لَقَدْ حَقَّ اَنْ يُهْدَى اِلَيْهِ كَرَامَةً #
                            لِتَعْلِيْمِ حَرْفٍ وَاحِدٍ اَلُفُ دِرْهَمٍ

 “Sungguh sudah semestinya guru diberikan sebuah kemuliaan # karena telah mengajarkan minimal 1 huruf dengan harga seribu dirham.”

10. Lawanlah Rasa Kantuk, Manfaatkan Malam untuk Kesuksesan

سُرُوْرُ النَّاسِ فِيْ لُبْسِ اللِّبَاسِ # وَجَمْعُ الْعِلْمِ فِيْ تَرْكِ النُّعَاسِ

 “Bahagianya orang itu saat menggunakan pakaian (baru lagi indah) # Terkumpulnya ilmu itu pada meninggalkan rasa kantuk.”

 اَلَيْسَ مِنَ الْخُسْرَانِ اَنَّ لَيَالِيَا # 
                               تَمُرُّ بِلَا نَفْعِ وَتُحْسَبُ مِنْ عُمْرِيْ 

 “Bukankah suatu kerugian bahwa malam-malam itu # berlalu tanpa manfaat, sedangkan umurmu (tetap) dihitung (saat engkau menyia-nyiakan malam tersebut).”

11. Jauhi Kemaksiyatan Agar Hafalan Terjaga.

شَكَوْتُ اِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ #
                          فَأَرْشَدَنِيْ اِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ

“Aku mengeluhkan buruknya hafalanku kepada Imam Waki’ # lalu ia memberi petunjuk kepadaku agar meninggalkan kemaksiyatan.”


فَاِنَّ الْحِفْظَ فَضْلٌ مِنْ اِلٰهٍ # وَ فَضْلُ اللهِ لَا يُعْطَى لِلْعَاصِيْ

Karena sesungguhnya hafalan itu karunia Tuhan # dan karunia Tuhan itu tidak diberikan kepada orang yang (suka) berbuat dosa. “

12. Hindarkan Kesombongan Agar Ilmu Bisa Ditaklukkan

اَلْعِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعَالِى # كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ الْعَالِيْ

  “Ilmu itu musuh bagi seorang pemuda/i yang tinggi hati (sombong)# seperti air bah (banjir) yang menjadi musuh bagi tempat yang tinggi.”


Keterangan : Tidak mungkin air bah itu mengalir ke tempat yang tinggi. Ia akan mengalir ke tempat yang rendah. Begitu pula ilmu tidak akan masuk ke dalam tubuh orang yang tingggi hati, sebaliknya ia akan senang masuk ke tubuh orang yang rendah hati (tawadhu’).

13. Bercita-citalah Setinggi Mungkin dan Perjuangkanlah Hingga Berhasil.

عَلَى قَدْرِ اَهْلِ الْعَزْمِ تَأْتِى الْعَزَائِمُ # 
                          وَتَأْتِى عَلَى قَدْرِ الْكَريْمِ اَلْمَكَارِمُ

“Kesuksesan-kesuksesan itu akan datang sesuai dengan ukuran kesungguhan pemilik cita-cita # (Begitu juga) kemuliaan-kemuliaan akan datang sesuai dengan kesungguhan orang yang mencari kemuliaan.”

وَتَعْظُمُ فِيْ عَيْنِ الصَّغِيْرِ صِغَارُهَا # 
                          وَتَصْغُرُ فِيْ عَيْنِ الْعَظِيْمِ اَلْعَظَائِمُ

Keberhasilan-keberhasilan kecil akan tampak besar dalam pandangan orang yang bercita-cita kecil/rendah # (Begitu pula)keberhasilan-keberhasilan yang besar akan tampak kecil (belum apa-apa) dalam pandangan orang yang bercita-cita besar.”

14. Pandailah Bergaul. Teman itu Mempengaruhi Kesuksesan ataupun Kegagalanmu.

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْئَلْ وَابْصِرْ قَرِيْنَهُ # 
                              فَكُلُّ قَرِيْنٍ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِيْ

 “Janganlah kau bertanya (secara detail) tentang (kepribadian) seseorang, (akan tetapi)lihatlah (akhlaq) temannya # Karena teman dan orang yang ditemani itu saling mempengaruhi.”

 فَإِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَانِبْهُ سُرْعَةً # 
                                 وَإِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَدِيْ

 “Jika teman itu buruk (akhlaqnya), maka jauhilah ia secepatnya # dan jika ia teman yang baik, maka temanilah ia niscaya Engkau akan mendapat petunjuk.”

لَا تَصْحَبِ الْكَسْلَانَ فِيْ حَالَاتِهِ #
                                كَالْجَمْرِ يُوْضَعُ فِى الرَّمَادِ فَيَخْمَ 

 Janganlah Engkau bersahabat dengan orang malas dalam keadaan apapun # ia seperti bara api yang apabila diletakkan ke dalam abu, niscaya ia akan padam.”

15. Waspadalah Terhadap Orang Alim yang Buruk Perangai dan Orang Bodoh Tukang Ibadah.
 

فَسَادٌ كَبِيْرٌ عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ # وَاَكْبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ

 “Kerusakan yang besar dapat ditimbulkan oleh seorang alim yang gegabah (berakhlak buruk) # dan lebih besar dari itu adalah orang bodoh yang tukang beribadah.”


 هُمَا فِتْنَةٌ فِى الْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ # لِمَنْ بِهِمَا فِيْ دِيْنِهِ يَتَمَسَّكُ

 “Keduanya menjadi fitnah yang besar di alam semesta # yakni bagi orang yang dalam urusan agamanya berpedoman kepada mereka berdua.”

16. Mempelajari dan Menerapkan Syari’at, Menjaga Shalat,  dan Memohon Karunia Tuhan.

كُنْ لِلْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِيْ حَافِظًا # وَعَلَى الصَّلَاةِ مُوَاظِبًا وَمُحَافِظًا

 “Jadilah engkau selalu menjaga perintah dan larangan Allah # langgeng menjalankan sholat dan memeliharanya”.

وَاطْلُبْ عُلُوْمَ الشَّرْعِ وَاجْهَدْ وَاسْتَعِنْ #
                                   بِالطَّيِّبَاتِ تَصِرْ فَقِيْهًا حَافِظًا

 

 “Tuntutlah ilmu-ilmu syari’at, bersungguh-sungguhlah mempelajarinya, dibantu pula dengan memakan rezeki yang halal dan baik, niscaya engkau menjadi ahli fiqh yang merawat hukum-hukum syara’.”

وَاسْئَلْ اِلٰهَكَ حِفْظَ حِفْظِكَ رَاغِبًا # 
                                    فِيْ فَضْلِهِ فَاللهُ خَيْرٌ حَافِظًا

“Mintalah kepada Tuhanmu untuk menjaga hafalanmu sambil berharap # akan karuniaNya. Karena Allah-lah sebaik-baiknya penjaga.”


17. Menuntut Ilmu Harus Diniatkan Mencari Ridha Allah dan Kebahagiaan Akhirat. 

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ # فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِ

 “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk kebahagiaan di akherat # niscaya ia sungguh telah berbahagia dengan meraih keutamaan berupa petunjuk (keselamatan dan kebahagiaan dunia akherat).”

فَيَا لِخُسْرَانِ طَالِبِيْهِ # لِنَيْلِ فَضْلٍ مِنَ الْعِبَادِ

 “Sungguh amatlah merugi orang yang mencari ilmu # untuk meriah kedudukan/kemuliaan di sisi manusia.”


18. Pelaku Kejahatan Pasti akan Merugi dan Menderita Sendiri.

وَلَا تَجْزِ اِنْسَانًاعَلَى سُوْءِ فِعْلِهِ # سَيَكْفِيْهِ مَا فِيْهِ وَمَاهُوَ فَاعِلُهُ

“Janganlah engkau membalas manusia atas kejahatan perbuatannya # akan terbalas oleh dampak kejahatan dan kesialan yang akan menimpa pelaku kejahatan itu sendiri.”


19. Senantiasalah Bersikap Wara’, Jauhilah Banyak Tidur dan Perut Kenyang, Serta Rajin Mengulang Pelajaran.
 
يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بَاشِرِ الْوَرَعَا #
                                 وَجَنِّبِ النَّوْمَ وَاتْرُكِ الشِّبْعَا

“Duhai penuntut ilmu, biasakanlah bersikap wara’ (menjaga dari perkara haram dan syubhat) # jauhilah tidur dan tinggalkanlah kenyang.”

دَاوِمْ عَلَى الدَّرْسِ لَا تُفَارِقْهُ # فَالْعِلْمُ بِالدَّرْسِ قَامَ وَارْتَفَعَا

 “Belajarlah terus menerus, janganlah kau meninggalkannya # Karena ilmu dengan belajar yang kontinyu akan tegak dan jaya.”

20. Jangan Kendor dalam Beramal Baik

يَا نَفْسِيْ يَا نَفْسِيْ لَا تُرْخِ عَنِ الْعَمَلِ # 
                          فِى الْبِرِّ وَالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ فِيْ مَهَلٍ

 “Wahai diriku, wahai diriku, janganlah engkau kendur dalam beramal #.kebaikan, berbuat adil dan ihsan (berprestasi  terbaik) dalam waktu-waktu yang terbatas.”

فَكُلُّ ذِيْ عَمَلٍ فِى الْخَيْرِ مُغْتَبَطٌ #
                               وَفِيْ بَلَاءٍ وَشُؤْمٍ كُلُّ ذِيْ كَسَلٍ 

 “Maka setiap orang yang beramal kebaikan itu ada keberuntungan # dan setiap orang malas itu ada dalam kemalangan dan kecelakaan.”

 

Semoga banyak manfaat dan berkahnya. Aamiin ya Mujibas saailiin bisirrilfaatihah

 

Penulis merupakan Pengasuh Pesantren Sabilurrahim Mekarsari Cileungsi Bogor

Editor: Agung Gumelar


Hikmah Terbaru