Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Wakil Ketua PCNU Sumedang Ungkap Strategi Pendidikan Berbasis Kewilayahan

Wakil Ketua PCNU Sumedang Ungkap Strategi Pendidikan Berbasis Kewilayahan
(Ilustrasi: Web NU Sumedang)
(Ilustrasi: Web NU Sumedang)

Bandung, NU Online Jabar 
Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang Dian Sukmara mengatakan bahwa perlu strategi penyelenggaraan pendidikan dengan mengutamakan pendekatan territory learning community (TLC).

“Strategi penyelenggaraan pendidikan dengan Komunitas Belajar Berbasis Kewilayahan (KBBK), atau Territory Learning Community (TLC) melalui pendekatan Society Healt Literacy merupakan sebuah solusi konstrtuktif menyelamatkan pendidikan dan melindungi anak,” ucapnya sebagaimana diberitakan NU Online Sumedang, Ahad (21/3).

Territory Learing Community (TLC) merupakan sebuah sistem pembelajaran yang diselengarakan satuan pendidikan dengan berorientasi kepada tempat domisili siswa yang dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan pemerintah setempat, mulai tingkat RT hingga kepala desa. 

“Hal ini dilakukan untuk membatasi sekaligus mengendalikan mobilitas sosial para siswa dalam berinteraksi dengan masyarakat terlebih lintas wilayah. Di dalam TLC ini memerlukan keterlibatan pihak-pihak terkait terutama: pihak sekolah, orang tua, pemerintah setempat dan masyarakat. Masing-masing bertanggungjawab terhadap terselenggaranya pendidikan bagi anak-anak khususnya pada jenjang pendidikan dasar maupun Pendidkan Usia Dini,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang ini.

Jadwal kegiatan pembelajaran, lanjutnya, diatur berdasar kesepakatan bersama pihak sekolah dan pemerintah setempat. 

“Adapun pembelajaran dilaksanakan melalui out door learning secara berkelompok dengan anggota kelompok maksimal 10 orang siswa berdasarkan tingkat dan jenjang pendidikan yang diikuti. Hal lain dari pembelajaran TLC adalah mengikuti dinamika yang terjadi ditengah masyarakat dengan berbasiskan pada literasi kesehatan masyarakat (Society Healt Literacy) termasuk kebijakan pemerintah dengan ketentuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro,” ujarnya.

Dian Sukmara menambahkan dalam strategi pembelajarannya, TLC bisa dengan teknik hybrid learning yang menekankan lima kunci utama:

Live event, diartikan sebagai pembelajaran langsung atau tatap muka yang dilakukan secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama. Bisa juga waktu yang sama dengan tempat berbeda.
Self-paced learning, berarti mengkombinasikannya dengan pembelajaran mandiri yang memungkinkan siswa belajar kapan saja dan dimana saja secara daring.
Collaboration, yaitu kolaborasi antara guru dan siswa, juga kolaborasi antar sesama siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Assessment, artinya guru harus mampu meracik kombinasi jenis assessment daring atau luring. Bentuknya bisa berupa tes maupun nontes seperti proyek kelas.
Performance support materials, yaitu untuk memastikan bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital. Tujuannya agar bahan belajar tersebut dapat dengan mudah diakses oleh siswa, baik secara daring maupun luring.

“Dengan adanya strategi Territory Learning Community (TLC) melalui pendekatan Society Healt Literacy ini semoga bisa menjembatani antara orang tua dan sekolah, tetapi harus ada komunikasi yang lebih intens untuk mencari solusi bersama. Saat ini orang tua merasa terbebani, anak-anak merasa stres dengan tugas–tugas yang banyak, di satu sisi mereka tidak paham. Dan sisi lain ada sekolah mempunyai tuntutan kurikulum yang harus dituntaskan,” pungkasnya.

Pewarta: Abdul Manap
Editor: Abdullah Alawi

 

Terkait

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×