Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Melakukan Amalan Rebo Wekasan Boleh, Tidak Juga Tak Apa-apa 

Melakukan Amalan Rebo Wekasan Boleh, Tidak Juga Tak Apa-apa 
Rabu terakhir bulan Safar disebut sebagai Rebo wekasan (Ilustrasi: NU Online)
Rabu terakhir bulan Safar disebut sebagai Rebo wekasan (Ilustrasi: NU Online)

Bandung, NU Online Jabar
Rabu terakhir bulan Safar atau Rebo Wekasan dianggap sebagai hari turunnya bencana sehingga sebagian masyarakat sering mengadakan ritual berdoa bersama sebagai tolak bala. Bahkan ada sebagian yang melakukan shalat di hari tersebut. 

Ustadz Hikamatul Luthfi menyebut tidak ada dalil qath'i atau tsabit yang memerintahkan shalat Rebo Wekasan. “Secara syariat tidak ada dalil yang memerintahkan untuk melakukan shalat Rebo Wekasan, tapi boleh melakukan shalat hajat atau muthlaq, tapi itu boleh dilakukan di luar Rebo Wekasan juga,” ungkapnya saat dihubungi NU Jabar Online, Selasa (13/10).

Menurutnya dalam peringatan Rebo Wekasan memiliki beberapa amaliah yang sering dilakukan oleh sebagian masyarakat, baik di Indonesia maupun luar negeri. Hal ini berdasar pada banyak kitab yang membahas tentang Rebo Wekasan, salah satunya Kanzun Najah was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur karya Abdul Hamid Quds.

Dalam kitab tersebut, lanjut ajengan muda dari Cibadak, Kabupaten Sukabumi itu, bahwa amalan ini berasal dari aurad Syekh Mughniniddin AlJisti (w. 627 H/1236 M)

“Bila kita melakukan tidak apa-apa, tidak melakukan juga tidak apa, tapi jangan melarang karena ini (Rebo Wekasan) dari para wali. Terkadang yang jadi permasalahan adalah jangan sampai sunah seperti tahajud, dhuha, tasbih tidak pernah dilakukan, tapi shalat di Rebo Wekasan dilakukan, sebab para sufi pasti istiqamah menunaikan sunah lainnya,” teganya.

Dalam pelaksanaanya Rebo Wekasan dilakukan dengan cara yang berbeda-beda terutama jumlah rakaat dan waktu dilaksanakannya shalat tersebut. Namun, ia menganjurkan untuk berniat shalat hajat atau shalat mutlaq. Selanjutnya ada yang menganjurkan membaca Yasin dan membaca doa-doa.

“Ada yang mesti digarisbawahi, bahwa tidak ada tahun, hari dan waktu yang buruk, semua hari, semua bulan milik Allah, jadi kita tidak boleh menghina tahun atau menghina waktu sebab waktu milik Allah. Semuanya sesuai qada qadhar Allah, mau senang, sedih, duka kita harus beriman kepada ketetapan Allah,” ucapnya.

Maka, lanjutnya, agar terhindar dari keburukan mesti berdoa kepada Allah SWT, doa tolak bala. Doa tolak bala boleh dibaca meski belum terjadi balahinya.

Pewarta: Riki Baehaki
Editor: Abdullah Alawi


 

Terkait

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×