• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 22 Februari 2024

Daerah

LIPSUS COVID-19

Aktivis Muda NU Kota Tasikmalaya Pertanyakan Keseriusan Pemkot Tangani Penyebaran Covid-19

Aktivis Muda NU Kota Tasikmalaya Pertanyakan Keseriusan Pemkot Tangani Penyebaran Covid-19
Kasatkorcab Banser Kota Tasikmalaya, Wahid, pertanyakan keseriusan Pemkot tangani Covid-19 (NU Online Jabar/Foto: PC Ansor Tsm)
Kasatkorcab Banser Kota Tasikmalaya, Wahid, pertanyakan keseriusan Pemkot tangani Covid-19 (NU Online Jabar/Foto: PC Ansor Tsm)

Kota Tasik​​​​​​malaya, NU Online Jabar
Menyoroti pernyataan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tasikmalaya, Ivan Dicksan, yang menyatakan bahwa kenaikan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 saat ini didominasi dari klaster pesantren yang dimuat radartasikmalaya.com, Opik mempertanyakan perhatian Pemkot terhadap pesantren mulai dari awal pandemi, kemudian tiba-tiba kluster pesantren muncul.

"Kemarin kan ada juga kasus di instansi pemerintah, klaster keluarga juga. Tapi mayoritas dari klaster pesantren,” katanya seperti dikutip radartasikmalaya.com

“Ketidakseriusan pemerintah Kota Tasikmalaya dalam merespon wabah pandemi Covid-19 ini sudah terlihat dari awal penyebaran virus corona ke Kota Tasikmalaya,” ujar Aktivis Muda NU, Opik Taupikul Haq.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah kota abai dalam upaya penanganan preventif. Pemkot lebih memilih meyelesaikan pengadaan perangkat teknis ketimbang memperhatikan kesejahteraan tenaga medis.

“Perhatian Pemkot Tasikmalaya terhadap pesantren di masa pandemi nyaris nihil. Lalu ketika klaster pesantren muncul, pesantren malah diposisikan sebagai sumber mata rantai penularan covid-19. Hal ini jelas bagian dari upaya menyudutkan dan mendiskreditkan posisi pesantren. Seolah pesantren sebagai sumber penyebaran corona paling aktif,” terang Opik

“Padahal justru sebaliknya, Pemkot tidak hadir di pondok pesantren saat wabah mulai menyebar ke pesantren. Tentu sangat disesalkan upaya cuci tangan yang dilontarkan oleh pejabat publik tersebut tidak bisa dibenarkan, baik dari sisi etika kerja maupun sebagai pengendali penyebaran covid 19 di kota tercinta Kota Tasikmalaya,” tandasnya.
Sementara itu, Kasatkorcab Banser Kota Tasikmalaya, Wahid sangat menyesalkan pernyataan Sekda bahwa peningkatan Covid-19 di Kota Tasikmalaya didominasi klaster pondok pesantren

“Pernyataan beliau kurang tepat, seharusnya introspeksi diri, apakah Pemkot hadir di saat pandemi Covid-19 ini ke pondok pesantren?,” Wahid mempertanyakan.

"Ini bukti bahwa Pemkot Tasikmalaya tidak perduli kepada Pondok Pesantren, kalau saja Pemkot peduli saya yakin klaster pondok pesantren di Kota Tasikmalaya bisa diminimalisir bahkan tidak ada dengan tindakan pencegahan maksimal," ungkapnya.

Berdasarkan data Dinas kesehatan Kota Tasik hingga hari Kamis, total terkonfirmasi positif berjumlah 1.000 kasus, dimana pada hari kamis saja ada penambahan sebanyak 255 warga terkonfirmasi positif covid-19.

Pewarta: Ilham
Editor: Muhyiddin


Editor:

Daerah Terbaru