Al-Qur’an sebagai kitab suci yang paling otentik dan paling akhir dari kitab suci sebelumnya, senantiasa menjunjung tinggi kebebasan dan kemerdekaan yang bertanggung jawab. Setiap diri manusia diberikan kebebasan memilih untuk menentukan jalan hidupnya. Karena sesungguhnya kebenaran dan kesesatan telah diketahui dengan jelas dari petunjuk al-Qur’an tersebut.
Setiap diri manusia tidak bisa memaksa orang lain agar meyakini suatu ajaran, meskipun dengan penekanan dan kekerasan. Menyadari hal ini, agama Islam mendidik umatnya agar mengikuti kebenaran dan kebaikan dengan penuh kesadaran dan keinsyafan.
لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," (QS. Al-Baqarah, 02:256).
Baca Juga
Islam dan Ilmu Pengetahuan
Keyakinan yang berpusat dalam hati seseorang, merupakan hak asasi yang paling luhur. Menyadari hal itu, agama Islam mengarahkan umatnya agar dapat melaksanakan kebajikan dan menghindari keburukan dengan penuh keinsyafan dan kesadaran. Amal perbuatan dan berbagai aktivitas apapun, tidak akan memiliki makna yang baik dan terpuji, apabila dikerjakan karena terpaksa dan karena pertimbangan-pertimbangan lain dengan mengabaikan ketulusan dan keikhlasan. Ibadah dan amal kebajikan yang sedikit dan ringan, disertai dengan keikhlasan, jauh lebih baik dari ibadah dan amal yang dikerjakan tanpa keikhlasan, meskipun yang dikerjakan itu lebih banyak dan lebih berat.
Manusia pada dasarnya memiliki dua kecenderungan yang bersifat antagonis, kecenderungan pada kebaikan dan kecenderungan pada keburukan. Karena itu, sebaik-baiknya manusia, pasti ada keburukan dan kekurangannya. Sebaliknya, sejahat-jahatnya manusia, pasti memiliki kecenderungan pada kebaikan. Setiap diri manusia yang mengharapkan keselamatan dan kebahagiaan, baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang, ia akan menumbuh-kembangkan kecenderungan pada kebajikan itu dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, orang itu akan selalu membiasakan untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk. Kecenderungan pada berbagai keburukan, dicegah sedemikian rupa, sehingga ia terbiasa menghindarinya. Dengan kebiasaan itu, menjadikan seseorang bisa melepaskan diri dari perbuatang yang tercela, dalam berbagai ragam dan bentuknya.
Mengenai kecenderungan manusia pada kebajikan dan keburukan yang bertolak belakang itu, diisyaratkan dalam Al-Qur’an:
وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا
Artinya: "dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya," (QS. Al-Syams, 91:7-10).
Baca Juga
Jejak Gembala
Dalam surat al-Balad dua jalan yang baik dan buruk yang saling berlawanan itu, diistilahkan jalan mendaki dan menurun. Jalan mendaki adalah jalan menuju ketinggian dan kemuliaan, siapa saja yang meniti jalan itu, niscaya memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kebaikan dan kemuliaan digambarkan sebagai jalan yang mendaki, karena ia memerlukan jalan yang berat dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapainya.
Kebalikan dari jalan yang mendaki adalah jalan yang menurun, siapa saja yang menapaki jalan itu, pasti akan tercampakkan pada lembah kehinaan dan kenistaan.
وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ
Artinya: "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir," (QS. Al-Balad, 90:10-16).
Ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa sebagian kebajikan yang harus ditempuh oleh manusia, adalah: (1) membebaskan perbudakan dalam segala bentuknya, baik lahir maupun batin. (2) mau berbagi, memberikan bantuan pada mereka yang kelaparan, menyantuni dan mendidika anak yatim dengan baik. (3) mengukuhkan silaturrahim dengan kaum kerabat, dan (4) memberikan bantuan dengan santun kepada fakir miskin yang sangat menderita.
Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU