Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pentingnya Menjaga Lisan, Berikut 9 Jenis Bertutur Kata menurut Al-Qur’an

Pentingnya Menjaga Lisan, Berikut 9 Jenis Bertutur Kata menurut Al-Qur’an
Pentingnya Menjaga Lisan, Berikut 9 Jenis Bertutur Kata menurut Al-Qur’an (Ilustrasi: islampos.com)
Pentingnya Menjaga Lisan, Berikut 9 Jenis Bertutur Kata menurut Al-Qur’an (Ilustrasi: islampos.com)

Bandung, NU Online Jabar
Lisan merupakan sumber utama ujaran kebencian menyebar, cacian, hardikan, makian, hingga ungkapan-ungkapan kasar dan rasial terlontarkan dari mulut ke mulut melukai hati orang. Oleh karenanya di antara larangan yang harus kita hindari adalah menyampaikan ujaran kebencian, menjaga lisan atau mulut dari ketidaksukaan terhadap seseorang atau suatu hal yang kerap membuat kita lekas panas sehingga yang keluar dari lisan kita berupa api yang membakar hati orang-orang. 


Kita dapat merasakan sendiri, bagaimana jika api-api tersebut berkobar membakar hati kita. Tentu tidak menyenangkan. Hal demikian juga dirasakan oleh orang lain ketika kita melakukan tindakan serupa. 


Secara filosofis karena lidah lebih tajam dari mata pedang yang dapat menembus ulu hati yang menyakiti seseorang. Pedang menyayat tubuh masih mudah diharapkan sembuh, tapi jika lidah menyayat hati ke mana obat hendak dicari?

 

Alfred Korzybski, seorang peletak dasar teori general semantics menyatakan bahwa penyakit jiwa, baik individual maupun sosial, timbul karena penggunaan tutur kata yang tidak benar. Maka dari itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pernah mengucapkan suatu doa yang sangat penting. Doa itu diabadikan dalam QS As-Syuara’ ayat 84. 

 

Doa tersebut merupakan harapan dan keinginan Nabi Ibrahim agar orang-orang yang hidup setelahnya tetap menghormatinya dengan ungkapan-ungkapan yang baik.

 

 وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ 

 

Dan jadikanlah aku buah tutur kata yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.”


Lidah adalah raja atas semua anggota tubuh. Semua tunduk dan patuh kepadanya. Jika ia lurus, niscaya semua anggota tubuh ikut lurus. Jika ia bengkok, maka bengkoklah semua anggota tubuh. Sebagai seorang Muslim kita dianjurkan untuk bertutur kata baik kepada siapa pun, bahkan hal tersebut merupakan salah satu indikator keberimanan seseorang kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:

 

 مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. 

 

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia berkata baik atau diam" (HR. al-Bukhari dan Muslim).


Melansir NU Online, mengenai pentingnya bertutur kata yang baik, menjaga lisan dari perkataan yang membuat hati orang terbakar, Al-Qur'an telah menggambarkan bahwa ada 9 macam perkataan dalam Al-Qur'an yang dapat dijadikan panduan dalam bertutur kata, yakni:


Pertama, qaulan ma‘rûfan (perkataan yang baik) 
Menurut KH M. Quraish Shihab, qaulan ma‘rûfan berarti perkataan baik yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Selain itu, qaulan ma’rufan berarti pula perkataan yang pantas dengan status sosial yang berlainan, tidak menyinggung perasaan, serta pembicaraan yang mendatangkan kemaslahatan. Seorang guru berutur kata yang santun, pejabat bertutur kata yang beretika. Pun dengan seorang dai, tokoh masyarakat, petinggi ormas, dan lainnya hendaknya bertutur kata dengan ma’ruf, sesuai dengan kondisi sosial dan budaya. 

 

Kedua, qaulan sadîdan (perkataan yang tegas dan benar) 
Qaulan sadîdan adalah perkataan yang benar, tegas, jujur, lurus, to the point, tidak berbelit-belit dan tidak bertele-tele. Yakni suatu pembicaraan, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa). 

 

Ketiga, qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut) 
Qaulan layyinan adalah penyampaian pesan yang lemah lembut dengan suara yang enak didengar, lunak, tidak memvonis, memanggilnya dengan panggilan yang disukai, penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati. Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.

 

Keempat, qaulan maisûran (perkataan yang mudah)

Qaulan maisûran berarti berkata dengan mudah atau gampang. Yakni mudah dicerna dan mudah dimengerti oleh orang lain. Perkataan ini juga mengandung empati kepada lawan bicaranya, menyenangkan, memberikan harapan , dan memotivasi orang lain untuk mendapatkan kebaikan.  

 

Kelima, qaulan balîghan (perkataan yang membekas pada jiwa) 
Qaulan balîghan adalah perkataan yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah, dan tidak berbelit-belit. Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan kadar akal seseorang atau khalayak dan menggunakan bahasa yang mengesankan kepada jiwa mereka. 

 

Keenam, qaulan karîman (perkataan yang mulia) 
Qaulan karîman adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertata krama. Dalam konteks QS Al-Isra’: 23, perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orang tua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka. Qaulan karîman harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orang tua atau orang yang harus kita hormati. 


Ketujuh, qaulan tsaqîlan (perkataan yang penuh makna) 
Qaulan tsaqîlan yakni perkataan yang berbobot dan penuh makna, memiliki nilai yang dalam, memerlukan perenungan untuk memahaminya, dan bertahan lama. Dengan demikian qaulan tsaqîlan juga berarti kata-kata yang syarat makna dari seorang ahli hikmah, sufi, ataupun filosof. Qaulan tsaqîlan biasanya memuat sebuah konsep pemikiran yang mendalam baik secara intelektual maupun spiritual. 

 

Kedelapan, ahsanu qaulan (perkataan yang terbaik) 
Ahsanu qaulan adalah menyampaikan perkataan dengan pilihan kata terbaik. Allah berfirman dalam QS Fushshilat ayat 33:

 

 وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَاۤ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَا لِحًا وَّقَا لَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ 

 

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri)?" (QS Fushshilat: 33).


Kesembilan, qaulan 'adhîman (perkataan yang mengandung dosa besar) 
Berbeda dengan delapan qaulan sebelumnya, qaulan ‘adhîman ini merupakan ujaran yang mengandung penentangan yang nyata terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Termasuk jenis qaulan ‘adhîman adalah setiap ujaran kebencian yang mengandung permusuhan dan penipuan. Perkataan jenis ini mudah sekali dijumpai di era internet. Media sosial telah banyak digunakan untuk menumpahkan fitnah, caci maki, dan menyebarkan perkataan kotor yang menjauhkan manusia dari jalan Allah.


Editor: Abdul Manap
Sumber: NU Online

Ubudiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×