Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Prof Beqi: Kita Butuh Genersi Muda untuk Masa Depan

Prof Beqi: Kita Butuh Genersi Muda untuk Masa Depan
Bambang Qomaruzzaman. (Foto: NUJO).
Bambang Qomaruzzaman. (Foto: NUJO).

Bandung, NU Online Jabar
Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Republik Indonesia (RI) resmi mengeluarkan surat keputusan tentang kenaikan jabatan akademik/fungsional dosen kepada Bambang Qomaruzzaman sebagai Profesor atau Guru Besar dalam bidang Ilmu Kebijakan Pendidikan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung beberapa waktu lalu, Senin (3/1) lalu.

 

Bambang mengungkapkan dirinya mengawali perkuliahan S1 dan S2 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan mengambil Program Studi Filsafat. Sedangkan S3 nya, ia mengambil jurusan Ilmu Kebijakan Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

 

Menurutnya, wujud dari kebijakan pendidikan itu terkait aturan yang berkaitan dengan pendidikan seperti Undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan pendidikan yang lainnya. 

 

"Kebijakan pendidikan berarti sejumlah regulasi pemerintah tentang pendidikan. Sejumlah keputusan pemerintah atau apapun yang diputuskan oleh pemerintah yang berkaitan dengan pendidikan," Ujarnya saat diwawancara oleh NU Online Jabar, Senin (10/1).

 

Ia mengungkapkan, beberapa regulasi yang dikritisi mengenai kebijakan kurikulum pendidikan mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) yang terlalu banyak cerita perang. Hal ini tentu menciptakan imajinasi bagi generasi muda dikalangan umat islam.

 

"Sehingga sangat mudah sekali ketika ada seseorang masuk ayo kita buat negara baru, yuk kita perang dan lain sebagainya. Sepertinya islam itu isinya cmn perang, padahal kan itu bisa diganti atau diimbangi memunculkan tokoh-tokoh islam seperti zaman ini muncul ibnu sina, zaman ini muncul al ghazali, al khawarizmi yang menemukan angka nol, kalau itu kan keren imajinasinya islam itu ilmu pengetahuan," ungkap Bambang.

 

Bambang juga menjelaskan, pendidikan itu tidak sekedar belajar mengajar, tapi ada diatasnya itu kebijakan. Ia mencontohkan kurikulum terbaru yang dibawa oleh Mendikbudristek saat ini, yakni Nadiem Makarim tentang konsep merdeka belajar. Menurutnya, para pelajar ditingkatan SD sampai SMP hdiajarkan untuk berfikir kritis agar ketika SMA bisa memilih profesinya.

 

"Tapi dasarnya harus berfikir kritis dulu sejak awal.Nah aturan-aturan didalamnya itu kurikulum tapi yang memproduksi aturan adalah kebijakan. Pertanyaannya apakah kebijakannya oke atau tidak oke, tujuannya apa, apa yang ada dibaliknya, ini kira-kira masa depannya jika kebijakannya begini gimana. Jadi, merancang apa nih yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh pemerintah terkait dengan pendidikan," jelasnya.

 

Menurutnya, merdeka belajar ini merupakan satu kebijakan yang harus juga dipahami oleh pendidikan agama. Sebab, merdeka belajar itu orientasi kurikulumnya berbasis pada outcame, pada skill dan hasil. Sementara beberapa hal dalam pelajaran agama misalnya itu masih tidak terukur kompetensinya.

 

"Ada kompetensi sikap misalnya di perguruan tinggi itu harus iman dan taqwa terhadap tuhan yang maha esa, indikatornya apa? semuanya harus diperjelas," jelasnya. "Sementara dalam pendidikan agama, pendidikan islam, semuanya itu harus diajarkan. Nah, merdeka belajar itu siswa harus tau ini untuk apa, maka dia memilih, agar pendidikan agama masif di minati oleh generasi millenial, maka kurikulumnya kebijakan-kebijakan pendidikan agama islam itu harus di ubah," tandasnya. 

 

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menuturkan bahwa perubahan itu niscaya. Jika perubahan tidak di rencanakan ataupun dipersiapkan, itu bukan perubahan, itu hancur-hancuran. Menurutnya, perubahan harus didasarkan pada perencanaan. 

 

"Gagasan Nadiem cukup mengejutkan dikebiasaan kita. tetapi itu harus dicoba karena kita mau ngga mau sudah masuk menjadi warga global. Ketika cara belajar anak-anak millenial itu berbeda dengan zaman dulu, maka kebijakannya pun harus di ubah. Karena akan repot nantinya jika caranya disamakan dengan zaman dulu. Kita butuh generasi muda untuk masa depan," pungkasnya.

 

Profil Singkat Bambang Qomaruzzaman

 

Bambang Qomaruzzaman merupakan seorang pria kelahiran Serang, 8 Desember 1973. Saat ini, dirinya tinggal di Komplek Vijayakusuma C2 No. 13 Cipadung Cibiru Bandung.

 

Selain itu, Ia juga merupakan salah seorang aktivis Nahdlatul Ulama sedari muda. Di antara peran yang pernah dan sedang dijalaninya adalah sebagai berikut: Ketua PPM Kementrian Agama Jawa Barat, Dosen Teologi dan Falsafah Islam UIN SGD Bandung, PW ISNU Jawa Barat, Lesbumi NU Jawa Barat, Laspesdam NU Jawa Barat, Ketua Prodi Magister Religious Studies Program Pasca sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2013-sekarang, Anggota MUI Jawa Barat 2016-2020, Konsultan Pendidikan Karakter Bandung Masagi Kota Bandung 2016-2018, Direktur pesantren Mahasiswa Al-Musyahadah Bandung, Ketua Taman Belajar Masyarakat Taman Langit Sophia Values Institute, Bandung, CEO Values Institute Foundation, Konsultan Peace Building & Creative Writing, Fasilitator Living Values Educational, Kemitraan Prodi Religious Studies PPs. UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan ALIVE Indonesia, dan Konsultan Reformasi Birokrasi Mahkamah Agung Jawa Barat, 2012-2013.

 

Pewarta: Muhammad Rizqy

Terkait

Profil Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik