Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Nikah itu Ibadah Istimewa

Nikah itu Ibadah Istimewa
KH Said Aqil Sirodj. (Foto: Nurkholik Tawan).
KH Said Aqil Sirodj. (Foto: Nurkholik Tawan).

Syaikhona Prof. DR. KH. Said Aqiel Siroj dalam tausiyah pernikahan mengatakan bahwa "Nikah itu ibadah".


Kemudian beliau melanjutkan penjelasannya bahwa nikah itu termasuk dalam ibadah yang universal. Karena perihal akad nikah ada pada setiap agama. Berbeda dengan ibadah shalat, atau haji, keduanya tidak ditemukan pada agama Kristen ataupun Yahudi sehingga nikah adalah ibadah universal.


Kedua, nikah adalah ibadah ideal, karena syariat nikah itu membawa misi yang berat yakni "ta'sisul usroh", membentuk sebuah keluarga, dan itu perjuangan berat. Hal ini merupakan ibadah, yang juga dibarengi kenikmatan, lahir-batin, jiwa-raga, sehingga dikatakan berat akan tetapi enak, sambungnya.


Dan ketiga nikah juga bagian dari ibadah perennial, bersifat abadi, langgeng, karena ketika pasangan pengantin ini baik, maka nanti keduanya akan masuk surga. 

 

Jadi kesimpulannya nikah itu merupakan sebuah ibadah istimewa. Setelah itu Pembina Yayasan Pondok Pesantren Khas Kempek ini menambahkan  nasihatnya


dengan menukil Al Qur'an surat Ar Rum ayat 21 :


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٢١﴾


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". 


Kiai Said menyebutkan bahwa nikah  itu menjadi salah satu ayat Allah, berarti hari ini kita lagi menyaksikan manifestasi dari ayat Allah, Allah sedang ber-"Tajalli", bermanifes menampakkan tanda-tanda kebesaran Allah Swt.


Karena hanya Allah Dzat yang tidak butuh pasangan, tidak butuh sandaran. 


Allah lah "Adz-Dzatul Muthlaqah al-Mujarradah anin nisab wal idhaafat." Dzat absolut yang tidak butuh pada penisbatan dan penyandaran. 


"The absolute one existence without relation, without articulation". 


Ini maknanya bahwa selain Allah itu butuh pasangan. Oleh karena itu, ketika ada pernikahan, manifestasi Allah semakin nampak kita rasakan.


Kemudian Kiai Said menjelaskan bahwa kata (خَلَقَ) "kholaqo", menciptakan, ini menunjukkan jodohnya kita merupakan creat Allah, monopoli Allah. 


Kata ini merupakan fi'il madhi (kata kerja) yang memiliki dua mashdar (kosakata), pertama ;   (خَلْقٌ) "kholqun", bersifat temporal, parsial, dimensial dan fisik. 


Dan kedua (خُلُقٌ) "khuluqun", immaterial, ideal dan psikis. Semuanya menjadi penting agar bisa mempertemukan keduanya.


Akan tetapi yang terpenting adalah (خُلُقٌ) "khuluq", kata jamaknya adalah (أَخْلاَقٌ) "akhlaq", karena ia akan sampai ke akhirat.


Berikutnya adalah kata (لِّتَسْكُنُوا) "litaskunuu", sakan artinya umah-umah, sehingga orang Jawa menyebut nikah dengan umah-umah. 


Hal ini mengisyaratkan bahwa selain berkeluarga, kemudian memiliki rumah atau terlebih dahulu mengontrak, juga harus ada ketenangan, semua menjadi tidak ada

 

artinya kalau tidak sakinah.


Sakinah itu langsung dari Allah, masuk dalam hati sanubari seseorang.


Sebagaimana Al Qur'an Surat Al Fath ayat 4, "Huwalladżī anzalas-sakīnata fī qulụbil-mu`minīna liyazdādū īmānam ma'a īmānihim."


Artinya: "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)".


Allah ketika mengutarakan jodoh memakai kata "kholaqo", bahwa jodoh adalah ciptaan-Nya, creat and monopoli-Nya.


Namun ketika menyebut keluarga yang sakinah, Allah menggunakan bahasa "ja'ala", menjadikan, dan untuk jadi, perlu kemauan dan usaha. Dengan demikian kita akan mendapatkan (مَّوَدَّةً) "mawaddah". Kata ini berasal dari asma Allah "Al Wadud", Allah menyayangi hamba-Nya yang saleh.


Begitu juga suami menggauli istri dengan baik, sebaliknya istri melayani suaminya dengan baik, maka keduanya akan mendapatkan apa yang disebut mawaddah. Penggunaan istilah ini lebih pada tinjauan yang bersifat fisik, sehingga bagi pasangan mungkin hanya sampai pada usia 65 tahunan.


Kemudian akan mendapat (رَحْمَةً) "rahmat", sifat Allah Ar Rahman, Allah sendiri adalah tadbirul rahmat bagi seluruh alam ini sehingga pasangan suami istri juga akan mendapatkan rahmat hingga tua nanti.

 

Kemudian Buya Said mengilustrasikan mengenai hakikat perjalanan hidup ini, bahwa kita sedang menjalani rahasia Allah. Ketika Pak Joko Widodo menjadi Presiden, ibunya pun sebelumnya tidak tahu.


Apakah kita kelak akan menjadi seorang Presiden, Jenderal, Ketua Umum PBNU atau konglomerat, kita tidak akan tahu. Itu rahasia Allah. Alhamdulillah saya sendiri menjadi Ketua Umum PBNU dua periode, dan itu tidak disangka-sangka.

Kita sedang menempuh lorong yang masih gelap, tidak jelas. Terkadang terang benderang, terkadang gelap gulita, kadang jalan ini rata, terkadang juga menanjak. Silih berganti antara bahagia dan susah, dan perjalanan ini masih panjang. 



Nurkholik Tawan, Santri KHAS Kempek Cirebon. Disarikan dari Nasihat Pengantin Mas Nizar (PP. Gedongan) dan Mbak Nabilah (PP. Kempek), Ponpes. Kempek Kab.Cirebon Sabtu (5/03).

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×