Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Manusia yang Kehilangan Diri dan Tuhannya

Manusia yang Kehilangan Diri dan Tuhannya
Manusia yang Kehilangan Diri dan Tuhannya (Ilustrasi: NU Online Jabar)
Manusia yang Kehilangan Diri dan Tuhannya (Ilustrasi: NU Online Jabar)

Jalan sunyi, kisah dalam peradaban lampau yang bercerita etika dan nilai kehidupan perlahan sunyi dan terkunci dalam buku yang lusuh dan hampir hancur. Budaya lama mengalir ke hilir dan mengendap, entah kapan menguap kembali menjadi titik-titik air, kemudian menjadi awan dan hujan. Menyirami gersangnya hati, keringnya rohani dan kerasnya jiwa.


Peradaban yang dilahirkan dari tirakat dan tawakal, lahir dari perenungan, pergolakan batin yang lama. Kehidupan yang dituduh mistik dan klenik. Ajaran yang membimbing manusia menemukan diri dan Tuhannya, ilmu bisa menjadi malapetaka, karena ada yang lebih penting dari ilmu yaitu adab, hilang adabnya hilang berkahnya.


Adat istiadat dituduh terbelakang, memundurkan pengetahuan dan menjadi biang kebodohan. Pengetahuan para bijak itu hakikat dari kehidupan yang relevan setiap jaman, atau mungkin kita yang sok pintar dan sudah merasa hebat dengan gelar dan jabatan.


Kita telah kehilangan banyak hal, tapi tak merasa kehilangan, seolah-olah biasa saja, karena semua hal telah diukur materialisme, penghargaan dan pujian. Kita jadi rakus penghormatan dan balas budi. Tak penting lagi hubungan kita dengan Tuhan, dengan manusia, alam dan segala ciptaannya.


Menyebut peradaban lama adalah mistik, padahal teknologi penuh dengan angka dan rumus, jaringan dan alam maya yang tak terlihat bukankah itu juga klenik?. Menjadi manusia Nusantara di jamannya, menjadi modern, milenial adalah keharusan tapi tak harus meninggalkan jati dirinya. 


Ilmu itu ada pemegang kuncinya , jangan asal mengambil tanpa guru, kalaupun engkau pintar tanpa guru, tapi kau tak akan selamat dari takabur dan kehilangan hakikat hidup sebenarnya. Langit siang penuh cahaya matahari, malam penuh cahaya rembulan tapi manusia linglung dan tersesat. Semua hilang nilainya, ilmu hilang berkahnya. Memohon maaflah kepada para sepuh, bersimpuhlah pada para guru dan datangilah para bijak walaupun engkau hanya menjumpai nisannya.


Orang beragama hilang agamanya
Orang ber tuhan hilang Tuhannya
Orang berbudaya hilang simpatinya
Orang Nusantara hilang 
adatnya


Gusti, puluhan tahun aku mencariMu
Yang kutemukan hanya mahklukMu
Berpuluh tahun aku mencari diriku
Hanya nafsu keserakahan karibku


Ternyata ke-aku an adalah Tuhan-ku
Dan nafsu adalah guru-ku


Wallohu a'lam​​​​​​​

Nasihin, Lesbumi PCNU Kabupaten Bandung, penikmat sastra dan alam bebas

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×