Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Waketum PBNU: IPNU Urusi Dunia Pelajar, Tidak Usah Ngurus yang Lain

Waketum PBNU: IPNU Urusi Dunia Pelajar, Tidak Usah Ngurus yang Lain
Waketum PBNU: Urusi Dunia Pelajar, Tidak Usah Ngurus yang Lain. (Foto: Ss Yt TVNU).
Waketum PBNU: Urusi Dunia Pelajar, Tidak Usah Ngurus yang Lain. (Foto: Ss Yt TVNU).

Jakarta, NU Online Jabar
Debat kandidat yang dilaksanakan oleh Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Kamis (14/4) malam, dihadiri oleh Wakil Ketua Umum PBNU H Nusron Wahid. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan tentang garis besar pokok kebijakan PBNU tentang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).


H Nurson menilai, kebijakan itu adalah ingin mengembalikan IPNU kepada khittahnya, yakni fokus pada dunia pelajar.


“Khittah IPNU diharapkan hanya mengurusi dunia pelajar. Tidak usah ngurus yang lain. Tidak usah ada komisariat di kampus karena membuat IPNU tidak hadir di sekolah terutama sekolah-sekolah umum yang menjadi tugas dan fungsi pokok IPNU,” tegas Nusron.


Menurutnya, IPNU menjadi garda terdepan yang paling awal menyukseskan tiga kebangkitan yang dicanangkan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yaitu kebangkitan intelektual, kebangkitan teknokrasi, dan kewirausahaan. Tiga kebangkitan tersebut dimunculkan dari pelajar. 


Saat ini, kata Nusron, hampir tidak ada lagi anak pada usia pelajar yang tidak mendapatkan akses belajar di sekolah. Sebab di dunia pendidikan sudah terdapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan KIP Kuliah. 


“Kalau dulu masih ada alasan orang putus sekolah dari SMP/MTs, karena belum ada BOS. Tapi sekarang, 90-95 persen usia pelajar itu sudah masuk sekolah. Harapan dari PBNU, kembali IPNU ngurusi sekolah. Kegiatannya ke depan diorientasikan untuk hal-hal sekolah,” katanya seperti yang dilansir dari nu.or.id.


Dalam kesempatan yang sama, Nusron juga mengungkapkan bahwa di dunia sekolah saat ini telah terjadi ruang kosong dan menjadikan organisasi seperti Kerohanian Islam (Rohis) menjadi pemain tunggal. Hal tersebut karena IPNU bersama gerakan pelajar yang lain seperti Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), Pelajar Islam Indonesia (PII), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) hampir tidak masuk di sekolah-sekolah umum. 


“Saat ini jarang sekali saya menemukan komisariat-komisariat IPNU yang non-Ma’arif. Maka ini harus kita galakkan. Ini pesan dan garis besarnya PBNU,” ucap Nusron. 


Dirinya juga menambahkan, jika IPNU masih enggan mengurusi atau tidak fokus pada pelajar, maka PBNU akan membuat unit kesiswaan di bawah Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif. Rencana ini sudah diputuskan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PBNU di Cipasung, pada 24-25 Maret 2022 lalu. 


Bahkan untuk menggarap siswa-siswa yang berada di sekolah non-Ma’arif, sedangkan IPNU tidak hadir di sana, maka PBNU sudah menugasi Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) untuk membuat Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM). 


“Itu dilakukan sebagai cambuk bagi IPNU. Bentuk krisis kepercayaan PBNU kepada pengurus PP IPNU, PW IPNU, PC IPNU di bawah,” pungkas Nusron. 


Sebagai informasi, IPNU akan menggelar Kongres XX di Nusa Tenggara Barat pada 25-26 Juni 2022 mendatang. Dalam rangka menuju kongres itu, diadakan agenda Debat Calon Ketua Umum IPNU masa khidmah 2022-2025. Terdapat enam calon ketua umum yang telah menyampaikan visi misi dan gagasan jika kelak terpilih sebagai ketua umum IPNU.


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×