Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

HUT ke-10 Forum Pemred, Ketum PBNU: Jangan Gunakan Identitas dan NU sebagai Senjata Politik

HUT ke-10 Forum Pemred, Ketum PBNU: Jangan Gunakan Identitas dan NU sebagai Senjata Politik
Hut ke-10 Forum Pemred, Ketum PBNU: Jangan Gunakan Identitas dan NU sebagai Senjata Politik
Hut ke-10 Forum Pemred, Ketum PBNU: Jangan Gunakan Identitas dan NU sebagai Senjata Politik

Jakarta, NU Online Jabar
Forum Pemimpin Redaksi Indonesia (Forum Pemred) peringati hari ulang tahunnya ke-10 dengan menggelar pertemuan para tokoh nasional. Sebagai organisasi yang beranggotakan para pemimpin redaksi dari media-media baik nasional, maupun lokal, Forum Pemred mengundang sepuluh tokoh yang dianggap sebagai newsmaker, yang selalu mendapat perhatian pers.

 

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf turut hadir menjadi tamu undangan sebagai tokoh nasional. 

 

Melansir NU Online, dalam kesempatan itu, Gus Yahya sapaan akrabnya minta para kontestan Pemilu 2024 untuk tidak menggunakan politik identitas. Termasuk tidak membawa identitas NU pada pesta politik lima tahunan yang akan datang.   

 

Hal ini ditujukan agar persatuan dan keharmonisan dalam masyarakat dapat terus dipertahankan walaupun di tengah kompetisi politik sekeras apapun.    

 

"Dalam kompetisi nanti jangan sampai ada cara-cara yang memperalat identitas sebagai senjata," kata Gus Yahya saat berbicara pada acara Forum Pemred yang digelar di Hotel Raffles Jakarta Selatan, Jumat (5/8/2022).


"Jadi sebuntu apapun para kontestan ini di dalam menonjolkan atau di dalam menghadapi kompetisi yang ada, kita mohon betul supaya jangan menggunakan identitas sebagai senjata. Apakah itu identitas etnik, identitas agama, termasuk identitas NU," imbuhnya.

 

Gus Yahya menyampaikan hal ini karena ia menilai NU kurang beruntung dibanding Muhammadiyah dalam wilayah kompetisi politik. Jika Muhammadiyah bisa bebas mengambil jarak dari kompetisi politik, NU selalu dikejar-kejar untuk dipakai identitasnya.   


“Mau lari pun dikejar-kejar. Jadi kita perlu punya perhatian yang lebih terkait dengan hal ini," ungkap Gus Yahya.

 

Pada kesempatan tersebut, Gus Yahya juga mengingatkan elemen terkait untuk lebih memperhatikan kualitas dari pada kuantitas dalam pembangunan. “(Bukan) data-data yang menunjuk pada angka-angka tapi perhatian yang lebih besar kepada kondisi manusia,” jelasnya.

 

Selain itu juga perlu perhatian besar kepada kondisi alam. Ia berharap penguatan bidang ekonomi tidak boleh berdampak negatif pada alam dengan tidak memperhatikan konsekuensi yang muncul dan berdampak pada alam.   


Terkait dengan itu semua, Gus Yahya melihat media sebagai salah satu pihak yang memiliki tanggung jawab untuk dapat menghadirkan pemberitaan yang berkualitas.    


“Saya atas nama rakyat Nahdlatul Ulama saya meminta kepada para awak media dan jurnalis untuk bekerja sebagai pejuang-pejuang bagi demokrasi, pejuang bagi masa depan yang lebih baik dari rakyat ini dengan terus meningkatkan integritas dan kinerja jurnalismenya,” harapnya.   


Hadir menjadi pembicara utama pada acara tersebut para politikus nasional, Agus Harimurti Yudhoyono (Ketum Partai Demokrat), Airlangga Hartarto (Ketum Partai Golkar), Muhaimin Iskandar (Ketum PKB), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) dan Sandiaga Uno (Menparekraf). Hadir pula Sekjen PP Muhammadiyah H Abdul Mu’thi.  

 

Editor: Abdul Manap

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×