Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Goyobod Sajian Khas Santri Pesantren Al-Istiqlal Cianjur yang Bikin Tamu Deudeuieun

Goyobod Sajian Khas Santri Pesantren Al-Istiqlal Cianjur yang Bikin Tamu Deudeuieun
Pengasuh Pesantren Al-Istiqlal Cianjur KH Ahmad Nawawi (kiri) dan Ketua GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haedari (Foto: NU Online Jabar)
Pengasuh Pesantren Al-Istiqlal Cianjur KH Ahmad Nawawi (kiri) dan Ketua GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haedari (Foto: NU Online Jabar)

Bandung, NU Online Jabar
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haedari tiba-tiba menelepon saya. Ketika mengangkat teleponnya, benak saya langsung curiga pasti dia akan mencerita informasi menarik seputar ajengan, santri, atau Nahdliyin yang berkhidmah di NU dan masyarakat tanpa pamrih yang berada di pelosok-pelosok. 

“Saya lagi di Pesantren Cicantu, Cianjur, lagi ada PKD Ansor,” katanya, Kamis, (18/2). 

“Tuh kan,” kata saya dalam hati, pasti dia sedang asruk-asrukan (blusukan) ke daerah-daerah.

“Goyobod,” lanjutnya, kata itu yang terdengar sebagai lanjutan dari kalimat sebelumnya yang tidak terdengar jelas. 

Kemudian dia menceritakan bahwa ada seorang santri di Pesantren Al-Istiqlal yang memiliki bakat dalam membuat goyobod, mulai dari menyediakan bahan, mengolah, hingga mengemasnya. 

Aktivis muda NU asal Purwakarta ini mempersilakan saya untuk langsung mengobrol dengan pengasuh pondok pesantren tersebut, KH Ahmad Nawawi. 

Menurut Kiai Ahmad, goyobod itu disajikan kepada tamu-tamu Pesantren Al-Istiqlal saat ada acara seperti PKD GP Ansor hari ini. Acara lain yang biasanya menyajikan minuman itu adalah peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, haul, dan lain sebagainya. 

Kiai Ahmad menceritakan, goyobod kebiasaannya menyajikan goyobod untuk para tamu dilakukan sejak 3 sampai 4 tahun lalu. Pada waktu itu, dirinya mendapati ada salah seorang santrinya bernama Muhammad Ilham ternyata terampil dalam membuat minuman itu. 

“Seorang santri yang orang tuanya tukang membuat goyobod, dia orang Cimahi. Ku abdi dipiwarang ngadamel,” katanya, “santri itu memiliki resep turun temurun dari kakeknya, ayahnya, dan kini anaknya,” jelasnya. 

Jadi, santri Ilham itu, sebelum menjadi Al-Istiqlal, terbiasa membantu orang tuanya menyediakan bahan-bahan, membuat adonan, sampai disajikan dan bisa dinikmati.. 

“Rasa goyobodnya lebih dari yang biasa dijual di jalanan. Rasanya khas, beda dengan goyobod yang di jalan-jalan,” lanjutnya.

Ia menambahkan, dalam resep goyobod Muhammad Ilham, 2 kg aci yang diracik dengan bahan-bahan lain membutuhkan biaya Rp500.000. Bahan-bahan itu untuk 60 sampai 100 gelas. Berdasarkan harga goyobod di pasaran, 1 gelas seharga Rp10.000, maka akan mendapatkan keuntungan Rp500.000.

“Itu upami diekonomikeun (dijual),” katanya. 

Namun, sampai saat ini pihaknya belum berniat untuk menjual minuman itu ke khalayak umum karena belum ada pedagangnya 

“Hampir semuanya komentar angkat jempol semuanya. Bahkan pernah ada yang usul dijual di pasaran. 

Deni Ahmad Haedari berkomentar bahwa goyobodnya luar biasa nikmatnya, serta takaran penyajiannya pas. 

“Ukurannya teu matak wareg teuing, tapi teu matak ganggarateun. Pokona mah deudeuieun. Higienis, dibuat di tempat steril, sangat layak untuk dikembangkan dan dijual,” katanya. 

Untuk diketahui, Pesantren Al-Istiqlal berada di Cicantu, Kecamatan Sukaluyu, 11 km dari pusat Kota Kabupaten Cianjur. Pesantren itu didirikan KH Jalaluddin Mahali pada tahun 1960 dengan jumlah santri saat ini sebanyak 500 orang. Pesantrei itu mengedepankan pengajaran ilmu nahwu dan sharaf model salafiyah di samping ilmu-ilmu lain.

Pewarta: Abdullah Alawi  

Terkait

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×