• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Khutbah

Khutbah Jumat: Merawat Surga Yang Tersia-Sia

Khutbah Jumat: Merawat Surga Yang Tersia-Sia
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)

Khutbah Jumat pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا . أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، اِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَرْسَلَهُ اللهُ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الشَفَاعَةِ الْعُظْمَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَلْمُسْتَمِسِكِيْنَ بِالشَّرِيْعَةِ الْكُبْرَى. اَمَّا بَعْدُ .

فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ.

صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَ صَدَقَ رَسُوْلُهُ الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ وَ نَحْنُ عَلَى ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ . ...


Ma’asyiral Muslimin wa zumrotal Mukminan rohimakumullah..


Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Di mana amaliah tersebut hendaklah kita sadari dengan ilmu pengetahuan dan keikhlasan, karena hanya dengan kedua cara itulah amaliah kita bakal diterima dan diridhoi Allah Ta’ala. Aamiin ya Mujibas sailin. 


Kaum Muslimin yang dirahmati Allah..


Terlepas dari pro kontra peringatan Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember , Al-Qur’an tetap menganggap penting setiap umat Islam untuk menyelenggarakan peringatan apa saja, seperti Peringatan Maulid Nabi, Isra wal Mi’raj, Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan, Hari Ibu, dan semacamnya Allah SWT berfirman :


وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ


“Dan adakanlah/lakukanlah peringatan. Karena sesungguhnya peringatan itu sangat bermanfaat bagi orang-orang beriman.”(Q.S. Adz-Dzariyat: 55)


Dalam Tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Syekh al-Qurthuby menafsirkan maksud ayat ini, berilah/buatlah peringatan dengan nasehat-nasehat dari Al-Qur’an dan sumber lainnya, karena hanya orang-orang beriman sajalah yang bisa mengambil manfaat dari peringatan tersebut.


Jadi, tidak salah jika ada suatu komunitas yang merayakan dan memperingati hari ibu, sebagai moment mengingat jasa-jasa orangtua yang telah mengandung, melahirkan dan membesar kita dengan penuh keikhlasan dan kasih sayang. Hal ini sekaligus sebagai ekspresi rasa syukur kita kepada kedua orangtua yang sangat diamanatkan oleh Allah Ta’ala dalam surat Luqman : 14.


اَنِ اشْكُرْلِيْ وَلِوَالِدَيْكَ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ


 “Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orangtuamu. Hanya kepada Akulah tempat kembalimu.” 


Jika kita bersyukur kepada manusia, terutama kedua orangtua kita, sebagai wasilah datangnya nikmat Allah, berarti kita telah bersyukur kepada Allah sebagai pemberi nikmat yang sesungguhnya. Sebaliknya jika kita kita bersyukur kepada manusia, sama saja kita tidak beryukur kepada Allah Azza wa Jalla. Rasulullah saw  bersabda:


مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللهَ


“Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.”(H.R. Abu Dawud dan At-Tirmidzy).


Kaum Muslimin rahimakumullah..


Saat kita sekolah di madrasah sewaktu kecil, sering kita diajarkan sebuah hadits yang sangat populer yaitu :


اَلْجَنَّةُ تَحْتَ اَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ


“Surga itu terletak di bawah telapak kaki kaum ibu.”


Hadits ini mengandung makna majaz, sehingga tidak dipahami secara tekstual apa adanya. Maknanya menurut ulama adalah berbakti kepada kedua orangtua (khususnya ibu) itu menjadi gerbang yang memudahkan siapa saja untuk bisa masuk ke dalam surga.


Maka barangsiapa yang masih memiliki orangtua, hendaklah mereka kita muliakan, kita hormati dan kita layani sebagaimana raja. Sebab siapa saja yang melayani orangtuanya seperti raja, maka Allah akan menjadikan rezekinya seperti rezeki raja. Bahkan dalam falsafah Cina dinyatakan bahwa tidak boleh sayang harta dalam hal mengurus orang tua. 


Apa yang telah dikorbankan oleh orangtua kita dalam mengurus kita, tidaklah bisa ditebus dengan nilai harta sebesar apapun. Berbahagialah mereka yang masih punya orangtua baik kedua-duanya atau salah satunya. Sebab mereka masih punya “jimat” (istilah sebagian orang) yakni sesuatu yang sangat berharga untuk menjadi jalan tol mencapai kebahagiaan, kesuksesan dan keselamatan dunia akhirat.


Kaum Muslimin yang berbahagia..


Di akhir zaman ini, sudah banyak kita saksikan generasi milenial yang sudah jauh berkurang bahkan nyaris hilang sama sekali rasa hormat dan baktinya kepada kedua orangtua. Jangankan membantu kesibukan orangtua, dinasehati saja, mereka banyak yang membantah, sering menyuruh-nyuruh alias memperlakukan orangtuanya seperti budak atau pembantu, bahkan ada yang sampai menyakiti dan membunuh orangtuanya. Naudzu billahi min dzalik.     


Fenomena sosial yang memprihatinkan ini sejatinya telah diramalkan oleh Rasulullah saw lewat percakapannya dengan malaikat Jibril a.s tentang iman, Islam, ihsan dan ciri-ciri kiamat antara lain Nabi  saw menjelaskan salah satu ciri kiamat yaitu:


أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا


“Yaitu bila seorang budak belian (hamba sahaya) perempuan melahirkan majikannya (H.R.Muslim)


Makna hadits ini menurut Syekh Ahmad bin Hijazy al-Fasyani dalam Majalisus Saniyyah syarah Hadits Arba’in an-Nawawiyah bahwasanya di akhir zaman nanti banyak anak yang sudah berani membudaki ibunya, atau para selir raja melahirkan anak yang kelak menjadi raja sedangkan ibunya menjadi rakyatnya, atau prediksi kaum Muslimin akan menguasai negeri-negeri kafir, sehingga akan banyak para tawanan khususnya dari kalangan wanita yang bisa dijadikan budak dan bisa digauli oleh majikannya sehingga anak yang lahir kelak akan menjadi  majikan dari ibunya.


Kaum Muslimin yang selalu dicintai Allah..


Seandainya ada orang yang merasa bersalah belum bisa mencurahkan baktinya kepada kedua orangtua semasa hidup mereka, namun ketika akan menebus kesalahannya itu, kedua orang tuanya telah wafat. Bagaimana langkah-langkah yang bisa dilakukan olehnya agar ia bisa mendapat ridho kedua orang tuanya yang telah wafat itu?


Untunglah para ulama memberikan solusinya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tanbihul Ghafilin yaitu:


عَنِ الْفَقِيْهِ اَنَّهُ قَالَ : سُئِلَ عَنِ الْوَالِدَيْنِ اِذَا مَاتَا سَاخِطَيْنِ عَلَى الْوَلَدِ هَلْ يُمْكِنُ اَنْ يُرْضِيَهُمَا بَعْدَ وَفَاتِهِمَا ؟ قِيْلَ يُمْكِنُ بِثَلَاثَةِ اَشْيَاءَ : اَوَّلِهَا اَنْ يَكُوْنَ صَالِحًا وَالثَّانِيْ اَنْ يَصِلَ قَرَابَتَهُمَا وَاَصْدِقَائَهُمَا، وَالثَّالِثِ اَنْ يَسْتَغْفِرَ لَهُمَا وَاَنْ يَدْعُوَ لَهُمَا وَ يَتَصَدَّقَ لَهُمَا


“Dari Al-Faqih, bahwasanya ia berkata : ditanyakan tentang kedua orangtua apabila keduanya mati dalam keadaan marah (sakit hati) atas perlakuan anaknya, apakah memungkinkan anak itu meraih keridhoan kedua orangtuanya setelah mereka wafat? Dikatakan : bisa saja ia mendapat ridho kedua orangtuanya dengan tiga syarat : pertama, ia harus berubah menjadi saleh/salehah, kedua,menghubungkan tali silaturrahmi kepada kerabat dan teman-teman orantuanya, ketiga, membacakan istighfar untuk kedua orangtuanya serta mendo’akan kebahagiaan mereka dan bersedekah untuk mereka.”    


Bisa juga bakti kita kepada orangtua yang telah wafat diwujudkan dengan menjalankan shalat dan puasa yang pahalanya ditujukan untuk kedua orangtua. Cara pernah diajarkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits shahih yaitu:


اِنَّ مِنَ الْبِرِّ بَعْدَ الْبِرِّ اَنْ تُصَلِّيَ لِأَبَوَيْكَ مَعَ صَلَاتِكَ وَ تَصُوْمُ لَهُمَا مَعَ صَوْمِكَ (رواه مسلم)


“Sesungguhnya termasuk bakti (kepada kedua orangtua) setelah melakukan kebaikan adalah bahwa engkau sholat untuk kedua orangtuamu bersama shalatmu, dan engkau berpuasa untuk mereka bersama dengan puasamu.” (H.R.Muslim).


Semoga kita dijadikan orang yang dapat berbakti kepada orangtua baik semasa hidup maupun setelah wafat mereka sehingga kehidupan kita penuh dengan keberkahan, kesuksesan, kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat. Aamiin ya Mujibas saailiin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَ اِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأٰيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ ، اَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَ اَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَ لَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ .


Khutbah Jum’at Kedua


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اَلْعَزِيْزُ الْغَفَّارُ،  وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مِفْتَاحُ بَابِ الْيَسَارِ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ الْمُخْتَارِ، وَ اٰلِهِ اَلْأَطْهَارِ وَاَصْحَابِهِ اَلْأَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَ اِفْضَالِهِ وَ عَدَدَ مَا اَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلُ وَ اَضَاءَ عَلَيْهِ النَّهَارُ . اَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَاللهِ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . 

وَلاَزِمُوْا الصَّلاَةَ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ. فَقَدْ اَمَرَكُمُ اللهُ بِذٰلِكَ اِرْشَادًا وَ تَعْلِيْمًا وَاِجْلاَلاً لِقَدْرِ نَبِيِّهِ وَ تَعْظِيْمًا، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى﴿ اِنَّ اللهَ وَ مَلآَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ، يَٓا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صّلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمُا ﴾.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَ قَاضِى الْحَاجَاتِ وَ غَافِرُ الذُّنُوْبِ وَالْخَطِيْئَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ . اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةًعَامَّةً، اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِأُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَغْفِرَةً عَامَّةً ، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اَللّٰهُمَّ اجْبُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اَللّٰهُمَّ عَافِ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اَللّٰهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْجًا عَاجِلاً بِرَحْمَتِكَ (يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ×٣ ) رَبَّنَا أٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْأٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْٳِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْ لَكُمْ، وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ . اَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ .


KH Cep Herry Syarifuddin, Pengasuh Pesantren Sabilurrahim


Khutbah Terbaru