Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Khutbah Idul Fitri 1443 H: Empat Kesalehan Pasca Puasa Ramadhan

Khutbah Idul Fitri 1443 H: Empat Kesalehan Pasca Puasa Ramadhan
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Khutbah I


اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ اَللّٰهُ أَكْبَرُ. اَللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ ِللّٰهِ الْحَمْدُ. 
اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَنَا عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ وَتَمْجِيْدٍ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللّٰهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ


Maasyiral Muslimin wal Muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 


Segala puji syukur kita panjatkan kehadhirat Allah swt., atas limpahan nikmat yang diberikan sehingga kita bisa berkumpul di tempat ini untuk menunaikan shalat Idul Fitri sembari mengumandangkan lafaz takbir, tahmid dan tahlil sebagai ungkapan pengakuan kita akan keagungan-Nya.


Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw., Nabi yang telah mengajarkan kepada kita pentingnya memelihara sifat-sifat terpuji. Keselamatan dan kesejahteraan semoga tercurah kepada beliau, keluarganya, sahabatnya serta orang-orang yang mengikutinya jejak langkahnya sampai akhir zaman.


Maasyiral Muslimin wal Muslimat jamaah salat Idul Fitri rahimakumullah, 


Tidak terasa, bulan yang penuh dengan keberkahan telah berlalu, bulan dimana pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu neraka ditutup rapat-rapat dan setan-setan dibelenggu telah meninggalkan kita semua. Selama satu bulan lamanya kita telah menunaikan puasa, sehingga saatnya kita merayakan kemenangan ini dengan bermaaf-maafan. Mudah-mudahan setelah kita menunaikan ibadah puasa, kita akan mendapatkan predikat takwa yang menjadi orientasi utama rukun Islam yang keempat ini. Sebagaimana Firman Allah Swt.


﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣ ﴾ ( البقرة/2: 183)


Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah/2:183)


Mudah-mudahan ibadah Ramadhan yang kita jalani membuat kita terbiasa melaksanakan amal salih seperti yang biasa kita lakukan di bulan Ramadhan. Hadirin !, ada empat kesalihan yang harus kita jaga pasca Ramadhan, yaitu:


Pertama: Kesalihan pribadi dengan Allah Swt.


Jadilah orang yg dirindukan surga sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw., Ada empat golongan manusia yang dirindukan surga karena kegiatannya dalam kehidupan di dunia. Sebagaimana sabda Nabi Saw.


اَلْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ إِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ: تَالِي الْقُرْآنِ، وَحَافِظِ اللِّسَانِ، وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ وَالصَّائِمِيْنَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ


“Surga sangat rindu terhadap empat golonghan, yaitu: “pembaca Al-Qur’an, pemelihara lisan dari ungkapan keji dan munkar, dan pemberi makan orang yang lapar, serta mereka yang ahli puasa dibulan Ramadhan”.


Berdasarkan isyarat hadis di atas, empat amal salih yang harus kita jaga pasca Ramadhan, yaitu:

 
  • Pertama, Rutin membaca al-Quran


Diantara keutamaan membaca Al-Quran adalah mendapat pahala 10 kebaikan setiap huruf yang dibaca dan Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi orang yang sering membacanya. Sebagaimana sabda Nabi Saw.:


اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ


Bacalah Al Qur`an, karena ia akan datang memberi syafa'at kepada para pembacanya pada hari kiamat nanti. (HR. Muslim)
 

  • Kedua, Menjaga lidah dari gibah, berkata dusta, namimah, fitnah dan ucapan yang tidak bermanfaat


Menjaga lisan adalah sebab keselamatan, dan tidak menjaga lisan adalah sebab kebinasaan. Sebagaimana sabda Nabi Saw.:


وَهَلْ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ


bukankah manusia itu dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur tidak lain disebabkan hasil panen (apa yang mereka peroleh) dari lisan-lisan mereka?” (HR. At Tirmdzi).


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam” [HR Bukhari]


Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah berkata:


سَلَامَةُ اْلإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ


“Keselamatan seseorang itu terdapat dalam menjaga ucapannya” 
 

 
  • Ketiga, Membantu orang-orang miskin, terutama anak-anak yatim dan kaum dhu’afa


Membantu orang-orang miskin dari kelaparan adalah salah satu amal utama yang menjadi sebab mendapatkan surga, sebagaimana sabda Nabi saw:


أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْىٍ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ


Muslim mana saja yang memberi pakaian orang Islam lain yang tidak memiliki pakaian, niscaya Allah akan memberinya pakaian dari hijaunya surga. Muslim mana saja yang memberi makan orang Islam yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan di surga. Lalu muslim mana saja yang memberi minum orang yang kehausan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari Al-Rahiq Al-Makhtum.

 
  • Keempat, Meperbanyak puasa sunnat setelah Ramadhan, seperti puasa 6 hari di bulan syawwal, senin-kamis, ayyamul bidh dan lain-lain.


Memperbanyak amal sunnat termasuk puasa adalah salah satu amal yang besar pahalanya, dengannya seorang hamba akan mendapat jaminan perlindungan dan bimbingan dari Allah.


Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman:


ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ. رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ


Hamba–Ku senantiasa mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada–Ku pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada–Ku pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Al Bukhari)


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar


Kesalehan kedua adalah Kesalehan rumah tangga


Kesalihan dalam rumah tangga akan menjamin ketenangan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Rumah tangga akan bahagia ketika menjadi seorang suami yang saleh, istri yang salihah, anak yang saleh salehah, orang tua yang baik dan kerabat yang baik. Baginda Nabi adalah tauladan terbaik dalam hal berumah tangga, sebagaimana sabda Nabi saw:


خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي


Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku. (H.R. Tirmidzi).


Kesalihan dalam rumah tangga akan terwujud ketika seorang suami menjalankan kewajibannya kepada sang istri dan sebaliknya. Seorang orang tua menjalankan kewajibannya terhadap anaknya dan sebaliknya.


Diantara kewajiban seorang suami adalah berinteraksi dengan baik kepada istri dan memberinya nafkah, sebagaimana firman Allah Swt.


﴿ ..... وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ .... ١٩ ﴾ ( النساۤء/4: 19)


…. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut….. (An-Nisa'/4:19)


Diantara kewajiban seorang istri adalah taat kepada suami selama bukan bentuk maksiat dan tidak keluar rumah kecuali atas izin suaminya. Sebagaimana firman Allah Swt:


﴿ .... فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗ..... ٣٤ ﴾ ( النساۤء/4: 34)


Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka)…... (An-Nisa'/4:34)


Diantara kewajiban orang tua terhadap anak adalah memberinya nama yang baik, mendidiknya dengan didikan agama yang baik dan menikahkannya jika telah ada jodohnya, sebagaimana sabda Nabi saw:


حَقُّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ أَنْ يُحْسِنَ اسْمَهُ وَيُعَلِّمَهُ الْكِتَابَةَ وَيُزَوِّجَهُ إِذَا بَلَغَ


Kewajiban orang tua kepada anak ialah: memberi nama yang baik, mengajari baca-tulis, dan menikahkan saat sudah baligh.”


Diantara kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah berbakti, berinteraksi dengan mereka dengan interaksi yang baik dan selalu mendoakan mereka. Allah Swt berfirman:


﴿ ۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ ٢٤ ﴾ ( الاسراۤء/17: 23-24)


Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.  Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.” (Al-Isra'/17:23-24)


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar


Kesalehan ketiga adalah kesalehan sosial 


Seorang muslim tidak hanya harus menjaga hubungan baik dengan Allah, ia juga harus menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Bahkan menjaga hubungan baik terhadap sesama menjadi tanda baiknya keislaman, Nabi Saw.


الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ 


Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya." [HR Bukhari]


Diantara mereka yang harus kita jaga dengan hubungan baik adalah tetangga. Berbuat baik tetangga adalah satu satu tanda beriman kepada Allah dan hari kiamat, Nabi Saw. Bersabda:


وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ.... رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.


Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya… (HR. Bukhari dan Muslim)


Diantara mereka yang harus kita jaga dengan hubungan baik adalah kaum fakir miskin dan anak yatim, berbuat baik kepada keduanya adalah tanda baiknya kualitas agama. Sebaliknya, buruk kepada keduanya merupakan bentuk mendustakan Agama. Allah Swt. Berfirman:


﴿ اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ ١ فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ ٢ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ٣ ﴾ ( الماعون/107: 1-4)


Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. (Al-Ma'un/107:1-4)


Diantara bentuk hubungan baik dengan sesama adalah dengan silaturahmi, karena banyak sekali hikmah dan keutamaan silaturahmi, diantaranya akan membuat kita mendapatkan keberkahan usia dan keluasan rezeki. Sebagaimana sabda Nabi saw.


مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar


Kesalehan keempat adalah kesalehan berbangsa dan bernegara


Sebagai seorang muslim yang baik, ia dituntut untuk taat terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, diantara bentuk taat kepada Allah dan Rasulnya adalah dengan taat kepada ulil amri atau presiden dalam istilah negara kita. Allah Swt berfirman:


﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ ..... ٥٩ ﴾ ( النساۤء/4: 59)


Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.…..(An-Nisa'/4:59)


Nabi Saw. bersabda:


مَنْ أطَاعَنِي فَقَدْ أطَاعَ اللّٰهَ، وَمَنْ عَصَانِي فقَدْ عَصَى اللّٰهَ ، وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِي 


“Barang siapa yang menaatiku sungguh ia telah menaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku” (HR. Bukhari).


Selain itu, sebagai warga negara Indonesia yang baik, seorang muslim juga harus menjaga empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Karena dengan itu, masyarakat Indonesia yang beragam bisa dipersatukan untuk menuju kesejahteraan yang langgeng.


Seorang pemimpin dituntut untuk adil, perhatian serta bisa mensejahterkan rakyatnya, tidak menzalimi dan menyengsarakan rakyatnya. Nabi Saw, bersabda:


يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، عَدْلُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً؛ قِيَامِ لَيْلِهَا، وَصِيَامِ نَهَارِهَا. وَيَا أَبَا هُرَيْرَةَ، جَوْرُ سَاعَةٍ فِي حُكْمٍ أشَدُّ وَأَعْظَمُ عِنْدَ اللّٰهِ مِنْ مَعَاصِي سِتِّينَ سَنَةً.


Wahai Abu Hurairah, Adil satu waktu itu lebih baik dibanding ibadah selama 60 tahun yang malamnya diisi salat dan siangnya diisi puasa. Wahai Abu Hurairah, sewenang-wenang satu waktu dalam satu hukum itu lebih berat dan besar di sisi Allah dibanding maksiat 60 tahun.
Demikianlah Khutbah Idul Fitri ini. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan marilah kita berdo'a semoga ibadah kita selama ini khususnya di Bulan Ramadhan tahun ini diterima Allah Swt. Dengan datangnya 1 Syawwal ini pula kita berharap mudah-mudahan kita akan mampu menjaga amal baik selama Ramadhan lalu dan membiasakan amal-amal saleh pasca Ramadhan tahun ini.


جَعَلَنَا اللّٰهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَآئِزِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ اليُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِكُمُ العُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْاالعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوْااللّٰهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
 بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ


KHUTBAH II


 اَللّٰهُ أَكْبَرُ (٣×) اَللّٰهُ أَكْبَرُ (٤×) اَللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ وَ ِللّٰهِ الْحَمْدُ. 
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  
﴿أَمَّا بَعْدُ﴾ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ   اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. 
عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرْ


Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, Rais Syuriah PWNU Jawa Barat

Terkait

Khutbah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×