Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Khutbah Gerhana Bulan: Introspeksi Diri, Cara Umat Gapai Ridho Illahi

Khutbah Gerhana Bulan: Introspeksi Diri, Cara Umat Gapai Ridho Illahi
(Ilustrasi: NU Online)
(Ilustrasi: NU Online)

Khutbah I


اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا اْلإِخْوَان، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعاَلَى فِي اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ: وَمِنْ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيْلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ، لَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.
 

Jama’ah shalat gerhana bulan yarhamukumullah 
Allah SWT menciptakan seluruh alam semesta termasuk manusia dicipta dengan ciptaan yang indah dan sempurna, tidak ada yang sia-sia sedikitpun atas ciptaan-Nya. Semua jenis ciptaan-Nya seperti bumi, langit, matahari, bulan, cuaca panas, cuaca dingin, laut, gunung, pohon, binatang, planet, jin, manusia, malaikat hingga atom dan organ serta sel-sel di dalamnya tidak luput dari penguasaan dan pengaturan Allah SWT. Semua apa yang ada di alam jagad raya ini atas kehendak dan kekuasaan-Nya. 


Allah SWT menciptakan semua makhluknya sebagai ayat atau tanda akan keberadaan-Nya. Allah SWT menghadirkan semua ciptaan-Nya untuk dikontemplasikan oleh semua manusia yang meliputi  ayat qauliyah (ayat-ayat Qur’an) dan ayat kauniyah (ayat-ayat alam). Al-Qur’an al-Karim sebagai wahyu dan mukjizat terbesar baginda Rasuulullah Muhammad SAW merupakan petunjuk, panduan dan manual kehidupan manusia untuk menggapai kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat, dan ayat-ayat kauniah (alam semesta) adalah semua ciptaan-Nya termasuk yang berada di langit, bumi dan semua yang ada di ruang antara langit-bumi yang menjadi tanda-tanda kebesaran Allah SWT untuk direnungkan oleh hamba-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya.


إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ  ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ  ١٩١


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al ‘Imran [3]:190-191)


Dalam ayat lain Allah:


سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَ لَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ.


Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
(QS. Fusshilat [41]:51)


Semua ciptaan ini sebagai tanda dari ke-Maha Besar-an, ke-Maha Agung-an dan Ke-Maha Kuasa-an Allah SWT yang di hamparkan sebagai media (wasilah) dan kendaraan manusia untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup serta ridha-Nya. Setiap apa yang dicipta oleh-Nya pasti ada guna dan manfa’atnya sekalipun yang seringkali dilihat dirasa oleh manusia dianggap bahaya dan sia-sia ternyata Allah menjawab dengan tegas dalam firman-Nya. 


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ.....  


"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?....., (QS. Al Baqarah [2]:26)


Jama’ah shalat gerhana bulan yarhamukumullaah,
Manusia bisa mengetahui, melihat dan mengatakan dari semua ciptaa-Nya hanya dari tanda-tandanya bahwa sesuatu itu dikatakan kecil karena wujudnya memang kecil, keadaan itu panas karena cuaca sedang terpancar oleh terik matahari disiang hari yang tidak terhalang oleh mendung, keadaan malam hari itu indah dan terang karena cuaca malam terpancar sinar bulan purnama dengan sempurna dan tidak tertutup oleh awan, kita dapat mengetahui bahwa daun sedang bergerak ke arah barat karena ada angin yang sedang bertiup ke arah barat, kita tahu bahwa hewan itu mati karena di tubuhnya sudah tidak menyatu lagi nafasnya, seseorang merasakan panas terbakar karena ada api yang membakarnya jadi apa yang semua dilihat dan dirasa oleh manusia adalah sebagai perantara (wasilah) yang kemudian untuk direnungkan dan diambil hikmah serta ibrah (pelajaran)-nya. 


Dalam ilmu astronomi, fenomena pergerakan benda-benda langit matahari, bulan, bintang dan sebagainya yang demikian indah, tertib, dan menakjubkan adalah tanda wujud-Nya Dzat dengan kekuasaan yang tak mungkin dapat tertandingi oleh apa-pun dan siapa-pun. Dengan demikian, fenomena gerhana bulan yang kita saksikan saat ini-pun seyogianya kita posisikan sebagai ayat kauniah (tanda dan fenomena alam) termasuk dalam situasi adanya wabah covid 19 yang saat ini masih melanda diseluruh dunia termasuk di Indonesia ini-pun tidak lepas dari ketentuan dan kekuasaan Allah SWT. Kita patut bersyukur karena dengan kondisi seperti ini masih bisa mendapat kesempatan untuk muhasabah, bertafakkur dan bersyukur serta memperbanyak istighfar bertaubat untuk lebih memahami esensi ciptaan Allah, menghayati untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta alam semesta Allah SWT.


Jamaah shalat gerhana bulan yarhamukumullaah,
Introspeksi diri dan tafakkur yang dilakukan oleh setiap manusia akan mengahantarkan getaran hati dan gerakan bibir rindu untuk membaca al Qur’an karena sebagai firman-Nya, rindu membaca shalawat karena menanti syafa’atnya, terus beristighfar karena menyadari atas salah dan dosanya demikian juga disetiap waktu untuk berdzikir melalui kalimat tasbih, tahmid, tahlil dan takbir Subhaanallaah, wal-hamdulillaah, wa laa ilaaha illallahu, Allaahu Akbar, saat berdecak, kagum, menghayati atas semua ciptaan-Nya. Hal ini sejalan dengan firman-Nya bahwa setiap apa yang ada di langit dan di bumi semuanya tiada henti-hentinya bertasbih kepada Allah SWT.


تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا  ٤٤


Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. 
(QS. Al Isra [17]:44)


Pada ayat yang lain Allah berfirman


سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ  ١


Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Shaf [2]:1, Al Hadiid [57]:1) 


Jamaah shalat gerhana bulan yarhamukumullaah
Dari setiap diri yang mampu mengimani, memahami, berfikir, bertadabbur dan memurnikan dalam setiap ibadah serta mensucikan dalam amaliahnya maka akan terbentuk pribadi yang mampu mengkikis karakter negatif pada dirinya; sikap sombong, angkuh, otoriter, merasa paling benar, merasa berkuasa, merasa paling tinggi kedudukan dan jabatan, merasa paling kaya itu semua tidak pantas disandang dan dimiliki dan harus dibuang jauh-jauh dari dirinya dan terus menumbuhkan akhlaqul karimah pada diri-nya melalui pribadi yang berjalan dimuka bumi ini dengan penuh ketundukan, kepatuhan, ikhlash, sabar, tawakkal, tawadhu’, syukur, ridha, roja, qona’ah terus dipelihara dan di implementasikan untuk tetap istiqamah dalam ibadah menghadap kepada Dzat yang Maha Suci Allah SWT. Maka jika setiap diri mampu menghayati dan memahami betapa pentingnya bahwa hanya dengan akhlaqul karimah sendi-sendi kehidupan akan terwujud sempurna, hanya dengan saling menghargai dan menghormati kekuatan negeri ini akan kokoh dan bersatu, hanya dengan saling membantu satu sama lain kehidupan kita akan aman dan tenteram, hanya dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara kehidupan kita akan sejahtera. Dengan adanya kejadian gerhana bulan pada malam hari ini kita wujudkan totalitas kita ibadah kepada Allah SWT.


Sebagaimana firman-Nya dalam QS Fushilat [41]: 37).


وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ  ٣٧


Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.


Ayat ini mengisyaratkan bahwa, makna perintah sujud pada ayat ini sebagai perintah untuk melaksanakan shalat gerhana sebagaimana yang kita lakukan pada malam hari ini.  Momentum terjadinya gerhana ini juga menjadi salah satu ikhtiar diri kita untuk muhasabah dan memperbanyak istigfar bertaubat dan memohon ampun atas dosa dan kekhilafan yang diperbuat untuk kembali kepada Allah Dzat Yang Maha Pengampun dan pengendali serta pengatur alam semesta. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari:


اِنَّ الشَّمْسَ وَاْلقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذٰلِكَ ؛ فَا ذْكُرُوْا اللهَ ، وَ كَبِّرُوْا، وَصَلُّوْا ، وَ تَصَدَّقُوْا. 


Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena terkait kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka berdzikirlah, bertakbirlah, lakukanlah shalat dan bersedekahlah.” (Shahih Bukhari, 1044).


Semoga dengan terjadinya gerhana bulan kali ini menjadikan diri untuk meningkatkan kedekatan (taqarrub) kita kepada Allah SWT, membesarkan hati kita untuk ikhlas dan sabar menghadapi setiap musibah dan ujian, menolong sesama, menghargai dan menghormati sesama, meningkatkan etos kerja sebagai ikhtiar untuk mendapatkan rahmat, ridha dan ampuna-Nya serta menjaga untuk selalu ramah terhadap alam sekitar kita.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Khutbah II


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.


KH Amin Baejuri Asnaf, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Mubien, Wakil Ketua PWNU Jawa Barat

Khutbah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×