Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Tata Cara Shalat Sunah Fajar Lengkap dengan Bacaan Niat 

Tata Cara Shalat Sunah Fajar Lengkap dengan Bacaan Niat 
Tata Cara Shalat Sunah Fajar Lengkap dengan Bacaan Niat. (ilustrasi/frrepik)
Tata Cara Shalat Sunah Fajar Lengkap dengan Bacaan Niat. (ilustrasi/frrepik)

Bandung, NU Online Jabar 
Shalat sunnah fajar termasuk ke dalam shalat sunnah yang tidak disunnahkan untuk dikerjakan secara berjamaah. 

 

Shalat fajar dikerjakan pada terbit fajar shidiq atau setelah azan Subun (awal waktu) dan dikerjakan sebanyak 2 (dua) rakaat. 

 

Banyak hadits yang menjelaskan betapa istimewanya dan besar sekali keutamaannya shalat fajar ini, diantaranya. 

 

Dari Aisyah r.a bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: 

 

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

 

Artinya, “Dua rakaat shalat sunnah Fajar lebih baik dari pada dunia beserta segala isinya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi). 

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ   

 

“Diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah dalam melakukan shalat sunnah lebih diperhatikan dari dua rakaat fajar.” (HR. Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah engkau tinggalkan kedua rakaat sunnah fajar itu, meskipun kalian dikejar oleh tentara berkuda.” (HR. Abu Dawud dan Baihqi r.a). 

 

Adapun berikut ini tata cara dan niat shalat fajar:

 

Niat shalat fajar

 

اُصَلِّى سُنَّةَ الْفَجْرِ رَكْعَتَيْنِ  لِلّٰهِ تَعَا لٰى

 

Ushalli sunnatal fajar rak’ataini lillaahi ta’aalaa

 

Artinya, “Ya Allah aku niat shalat fajar dua raka’at karena Allah ta’aalaa.”

 

Kemudian, setelah membaca surat Al-Fatihah dianjurkan untuk membaca Surat Al-Kafirun. 

 

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلْ يٰٓاَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَۙ

لَآ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَۙ

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۚ

وَلَآ اَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْۙ

وَلَآ اَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ اَعْبُدُۗ

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ ࣖ

Kemudian, pada rakaat kedua membaca Surat Al-Ikhlas:

 

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

Melansir NU Online, Imam Abu Hasan al-Mubarakfuri mengartikan dua rakaat shalat fajar pada hadits di atas pada makna shalat sunnah fajar, sehingga yang dimaksud adalah shalat qabliyah subuh. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam karya beliau, Mir’ah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih:

 

   قوله (ركعتا الفجر) أي سنة الفجر هي المشهورة بهذا الاسم    

 

“Makus dari perkataan ‘dua rakaat shalat fajar’ (dalam hadits) adalah shalat sunnah (qabliyah) fajar. Penyebutannya memang masyhur dengan nama ini” (Abu al-Hasan al-Mubarakfuri, Mir’ah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih, juz 4, hal. 137). 

 

Pemaknaan shalat fajar sebagai shalat qabliyyah subuh juga dikuatkan dengan berbagai kata “rak‘atai-l-fajr” (dua rakaat shalat fajar) yang terdapat dalam beberapa hadits, misalnya dalam dua hadits berikut ini:

 

   عن حفصة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي ركعتي الفجر قبل الصبح في بيتي يخففهما جدا   

 

“Diriwayatkan dari Sayyidah Hafshah, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat dua rakaat fajar sebelum melaksanakan shalat subuh di rumahku dengan sangat cepat” (HR. Ahmad).

 

Pewarta: Agung Gumelar

Keislaman Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×