Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Adab Menengok Orang Sakit

Adab Menengok Orang Sakit
Adab Menengok Orang Sakit. (Foto: NU Online)
Adab Menengok Orang Sakit. (Foto: NU Online)

Setiap manusia berada dalam salah satu dari dua kondisi yaitu sehat atau sakit. Meskipun biasanya masa sehat itu lebih panjang dari masa sakitnya, manusia sering kali tidak mampu bersyukur atas nikmat terbesar kehidupan, yakni kesehatannya. Sebaliknya, kebanyakan orang berkeluh kesah dan tidak mampu bersabar atas rasa sakit yang dideritanya, walaupun masanya sangat singkat.


Sebagai makhluk sosial manusia tidak mampu hidup sendiri, ia memerlukan bantuan orang lain, lebih-lebih saat menghadapi masalah besar atau situasi yang sulit. Hal-hal besar atau amat sulit tidak mungkin diselesaikan sendirian, sangat membutuhkan bantuan orang lain. Penderita sakit yang ingin cepat sembuh perlu konsultasi dan berobat kepada ahlinya, seperti dokter. Ia juga memerlukan perhatian dan dukungan dari pihak lain, seperti anggota keluarga, saudara atau sahabat-sahabat dekatnya.


Di satu sisi, agama juga menganjurkan untuk berobat bagi yang sakit, bahkan mendorong agar mencegah atau menghindarkan diri dari segala macam penyakit. Agama juga menganjurkan agar kita menjenguk orang-orang yang sedang menderita sakit, kecuali yang dilarang untuk dijenguk oleh para dokter. 


Meskipun menjenguk orang sakit dianjurkan oleh ajaran agama untuk meringankan penderitaan atau mempercepat kesembuhannya, namun pada praktiknya tidak jarang berakibat sebaliknya. Para penjenguk orang sakit yang mengabaikan adab-adab menjenguk orang sakit seringkali justru menambah penderitaan, menyusahkan hati si sakit, dan bahkan memperparah sakitnya. Oleh sebab itu, tidak setiap orang boleh menjenguk orang sakit dan tidak setiap orang sakit boleh dijenguk. 


Menurut al-Imam al-Ghazali (450-505 H.), ada beberapa adab menengok orang sakit:


● Tidak berlama-lama di sisinya agar ia tidak merasa bosan.
● Meminimalisir pertanyaan tentang kondisinya, karena banyak bertanya dapat menyusahkan hatinya.
● Menampakkan rasa belas kasihan kepadanya.
● Mendoakan agar ia cepat sehat.
● Menjaga pandangan mata dari apa saja yang tidak patut dilihat dari orang yang sedang sakit.
● Bila duduk di samping orang yang sakit lalu dihidangkan makanan atau minuman, maka tidak perlu menyantap makanan tersebut dan tidak usah meminumnya.


(Lihat: Siraj al-Thalibin Syarh al-Syaikh Dahlan al-Kediri 'ala Minhaj al-'Abidin , Jilid I, hal. 247)


KH Ahmad Ishomuddin, salah seorang pengurus PBNU. 

Keislaman Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×