• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Indramayu

Buku ‘Sejarah Pergerakan Nasional’ versi Ulama Santri Boleh Digugat, Ini Kata Penulis dan Akademisi

Buku ‘Sejarah Pergerakan Nasional’ versi Ulama Santri Boleh Digugat, Ini Kata Penulis dan Akademisi
Buku ‘Sejarah Pergerakan Nasional’ versi Ulama Santri Boleh Digugat, Ini Kata Penulis dan Akademisi. (Foto: NU Online Jabar/Faiz)
Buku ‘Sejarah Pergerakan Nasional’ versi Ulama Santri Boleh Digugat, Ini Kata Penulis dan Akademisi. (Foto: NU Online Jabar/Faiz)

Indramayu, NU Online Jabar

Lahirnya sejarah sebagai peristiwa jika dilacak lebih dalam maka akan muncul sebuah fakta kebenaran bukan pembenaran. Meskipun dileburkan apalagi dirahasiakan, nyatanya fakta sejarah akan berlipat ganda dan memberikan informasi istimewa baik suka maupun duka. Namun, semangat juang akan terus hidup sekalipun dibungkam.

 

Begitu kira-kira semangat juang Wahyu Iryana melukiskan buku terbarunya bertajuk 'Sejarah Pergerakan Nasional'. Kata Kang Wayan, sapaan akrabnya, buku ini adalah hasil tirakat melacak akar historis perjuangan ulama-santri sebagai identitas utama lahirnya negara kesatuan Indonesia.

 

"Ini ikhtiyar saya menulis, mengukir bagaimana sejarah Indonesia dibangun dari rahim ulama-santri. Maka saya mencoba menggoreskan sebuah catatan dilembar sejarah manusia yang kiranya mengangkat marwah santri karena memiliki saham terbesar lahirnya negara kesatuan Republik Indonesia," ungkapnya saat Bedah Buku Sejarah Pergerakan Nasional bertempat di MH Mart Cafe, Segeran Kidul, Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jumat (7/22) malam.

 

Menurut Ketua Prodi Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung itu menegaskan, tumbuhnya nation (kebangsaan) nasionalisme itu sebetulnya bukan berawal dari Budi Utomo, tapi Sarekat Dagang Islam (SDI).

 

"Saya ingin membuat jalur kesejarahan, jadi Budi Utomo itu terbentuk 1908. Tiga tahun sebelumnya 1905 sudah ada SDI. Logikanya umurnya lebih tua SDI. Jika Budi Utomo diisi orang-orang menak Jawa. Berbeda dengan SDI yang terdiri dari seluruh elemen masyarakat. Sejak kemunculannya, SDI ini jelas visinya berbasis ekonomi diketuai Haji Samanhudi yang sudah tentu orang Islam," jelasnya.

 

Lanjut Wayan, selain SDI, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi poin utama dalam buku ini bagaimana organisasi tersebut mempunyai andil besar membangun semangat nasionalisme hingga puncaknya fatwa Resolusi Jihad 1945 yang diprakasai NU lewat Hadratussyekh Hasyim Asy'ari.

 

"Rotasinya adalah ada benang merah, napas kesejarahan yang lahir dari gerakan kaum sarungan yaitu pesantren. Ini yang kemudian menjadi salah satu penggerak munculnya perlawanan bahkan sejak dulu," imbuhnya.

 

Acara yang diadakan Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Indramayu itu berlangsung menarik dan interaktif diikuti pengurus, anggota ISNU, dosen dan mahasiswa STKIP Pangeran Dharma Kusuma Indramayu.

 

Sementara itu, Zam Zami selaku pembanding sekaligus Wakil Sekretaris Lakpesdam PWNU Jawa Barat mengapresiasi, juga mengkritisi buku tersebut. Menurutnya, jika menulis genealogi sejarah pergerakan nasional sesungguhnya kita semua tahu dimulai sejak tahun 1908 sebagai titik awal lahirnya Budi Utomo sampai 1945 era kemerdekaan.

 

"Meskipun demikian, produk buku ini baik dan jika ada yang menyangkal silahkan digugat ke penulisnya dan sah-sah saja asal ada tulisan tanding. Oleh karena itu kalau ada edisi kedua alangkah baiknya diusahakan objektif," kata Zam Zami yang baru saja mendapat gelar Doktor Hukum Islam di UIN Sunan Gunung Djati bulan lalu.

 

Dilain pihak, Ketua ISNU Kabupaten Indramayu Taufiq Zenal Mustafa mengatakan, terlepas dari itu semua, buku ini sangat bermanfat untuk dikaji. Ia berharap semoga apa yang sudah disampaikan menjadi ingatan bersama jangan sesekali melupakan peran ulama-santri dalam membangun negara kesatuan Republik Indonesia.

 

"Apresiasi setinggi-tingginya untuk penulis, semoga bermanfaat," pungkasnya.

 

Pewarta: Ahmad Faiz RF
Editor: Agung Gumelar


Indramayu Terbaru