• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Sabtu, 20 April 2024

Hikmah

Selamat Datang Rabiul Akhir 1445 H, Ini Asal Usul di Balik Penamaannya

Selamat Datang Rabiul Akhir 1445 H, Ini Asal Usul di Balik Penamaannya
Rabiul Akhir 1445, (Ilustrasi: AM)
Rabiul Akhir 1445, (Ilustrasi: AM)

Rabiul Akhir, dikenal juga sebagai Rabiuts Tsani, adalah bulan keempat dalam penanggalan Hijriyah yang memiliki akar sejarah yang dalam. Nama ini diberikan oleh Kilab bin Murrah, kakek buyut kelima Rasulullah saw., sebagaimana dijelaskan oleh Ustazd Tatam Wijaya dalam artikel NU Online berjudul "Rabiul Akhir, Asal-Usul Penamaan dan Peristiwa Penting di Dalamnya."


Pada zaman Jahiliyah, bulan ini juga dikenal sebagai bulan Wubshan atau Wabshan, sementara bulan Rabiul Awwal disebut Khawwan atau Khuwwan, dan bulan Jumadil Ula bulan setelah Rabiul Akhir disebut al-Hanin. (Lihat: Abu Bakar Muhammad, Jamhartul Lughah, [Beirut: Darul ‘Ilmi] 1987, jilid 3, hal. 1311). 


Penamaan bulan Rabiul Akhir pertama kali dilakukan oleh Kilab bin Murrah, yang terinspirasi dari peristiwa alam musim semi di Jazirah Arab. Musim rabi‘ atau musim semi tersebut memberikan inspirasi, di mana rerumputan menghijau, tanaman tumbuh subur, dan pepohonan banyak yang berbuah. Musim tersebut umumnya berlangsung selama dua bulan, dan nama Rabiul Akhir dan Rabiul Awwal diberikan sebagai penghormatan terhadap dua bulan tersebut. 


Selain sebagai nama bulan, kata rabi‘ juga menjadi nama musim di antara enam musim yang ada. yaitu ar-rabi al-awwal (musim semi pertama), shaif (musim panas), qaizh (puncak musim panas), al-rabi‘ al-tsani (musim semi kedua), kharif (musim gugur), dan syitha (musim dingin). Demikian yang dikemukakan oleh Abu al-Ghauts. (Lihat: Lisanul ‘Arab, jilid 8, hal. 103).   


Masyarakat Arab selalu merujuk penyebutan bulan ini dengan kata "syahr," yang berarti 'bulan,' dengan dua versi pengucapan, yaitu syahru rabi‘in al-akhir atau syahru rabi‘il akhir dengan idhafat. (Lihat: Ahmad ibn Muhammad, al-Mishbahul-Munir [Beirut: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah), jilid 1, hal. 216).


Selain itu, ada beberapa peristiwa besar yang terjadi pada bulan Rabiul Akhir melibatkan turunnya Surat al-Hasyr, yang terjadi setelah upaya pembunuhan Rasulullah Saw oleh kaum Yahudi bani Nadhir. Kaum ini menjadi yang pertama diusir dari Madinah, sebagaimana disebutkan dalam ayat Surat al-Hasyr.


 “Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama, (QS al-Hasyr [59]: 2); 


Dan jika tidak karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka, (QS al-Hasyr [59]: 3). (Lihat: Abu Muhammad ‘Ali, Jawami‘ al-Sirah [Kairo-Mesir: Darul Ma ‘arif], 1900, jilid 1, hal. 145).


Peristiwa berikutnya adalah pengutusan Khalid ibn al-Walid oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Bani al-Harits ibn Ka‘b. Berkat perjuangan Khalid, mereka masuk Islam di hadapannya. Peristiwa itu berlangsung pada bulan Rabiul Akhir 10 Hijriah.   


Menurut Ibnu Ishaq, perang Dzat ar-Riqa juga terjadi pada bulan Rabiul Akhir keempat Hijriah, tepatnya setelah memerangi bani Nadhir. Berikutnya adalah peristiwa perang al-Ghabah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tahun keenam Hijriah; kemudian perang al-Ghamr yang dipimpin oleh ‘Ukasyah ibn Mihshan. Pengiriman pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Muhammad ibn Maslamah ke wilayah Dzul Qashshah. (Lihat: al-Waqidi, Maghazi al-Waqidi, [Beirut: Darul A’lami], 1989, jilid 1, hal. 4).
 


Hikmah Terbaru