• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Minggu, 14 April 2024

Daerah

Tips Orang Tua Nahdliyin Pilih Pondok Pesantren untuk Pendidikan Putra-putrinya

Tips Orang Tua Nahdliyin Pilih Pondok Pesantren untuk Pendidikan Putra-putrinya
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Bandung, NU Online Jabar 
Selepas liburan Idul Fitri, para santri kembali ke pondok pesantren masing-masing. Secara kebetulan, Lebaran tahun ini berdekatan dengan momentum dimulainya tahun ajaran baru di sekolah-sekolah formal. Para orang tua yang memiliki perhatian terhadap pendidikan agama dan formal, tengah bersiap mengirim putra atau putrinya ke pesantren yang memiliki atau berdekatan dengan sekolah formal.

Ketua PCNU Kabupaten Karawang KH Ahmad Ruhyat Hasby mengatakan para orang tua Nahdliyin berhati-hati dalam memilih pondok pesantren untuk pendidikan agama putra-putrinya. Pasalnya, tidak setiap pesantren cocok dengan pemahaman ajaran Ahlussunah wal Jama’ah an-nahdliyah. 

“Tips ini hanya untuk orang NU dan orang tua Aslussunah wal-Jamaah. Saya anjurkan, jangan salah milih pesantern untuk anak kita. Hat-hati sekarang banyak pesantren Wahabi. Cari pesantren NU. Cirinya diajarkan kitab kuning,” ungkap kiai yang akrab disapa Kang Uyan ini, Sabtu (5/6). 

Kang Uyan kemudian membagikan tips untuk Nahdliyin yang memilki putra-putri dan berniat mengirim anaknya ke pesantren.

Menurutnya, seorang Nahdliyin harus mengirimkan ke pesantren dengan ciri-ciri sebagai berikut: 

1. Pastikan pesantren itu diasuh oleh pengurus  NU atau kiai NU kultural atau yang tidak memusuhi NU.
2. Pastikan bahwa di pesantren itu diajarkan kitab klasik khas NU atau biasa dikenal dengan kitab kuning.
3. Perhatikan metode pengajiannya. Biasanya di pasantren-pesantren NU menggunakan sistem bandungan dan sorogan serta memiliki tradisi wiridan, shalat berjamaah, tahlilan, haul, marhabanan, peringatan Maulid Nabi Muhamamd dan Isra Mi’raj, dan lain-lain. 
4. Pastikan pesantren itu terdaftar di lembaga asosiasi pesantren NU atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI) dan atau terdaftar di Kemenag RI.

 

Kang Uyan kemudian mengingatkan agar para orang tua Nahdliyin tidak mempercayakan pendidikan anak-anaknya ke pesantren-pesantren yang memiliki ciri sebagai berikut, di antaranya: 

1. Ekslusif (tertutup) dan mengajarkan kebencian kepada pihak yang tidak sehaluan dengan menuduh kafir dan gampang membid’ahkan pihak-pihak lain. 
2. Tidak terdaftar di RMINU atau kemenag RI.
3. Tidak diajarkan kitab kuning dan mengaku tidak bermazhab.
4. Pengasuhnya diindikasikan membenci amaliah Ahlussunah wal Jamaah seperti tahlilan, marhabanan, haul, wiridan selepas shalat lima waktu, ziarah kubur dan lain sebagainya. 

 

Pewarta: Abdullah Alawi 
 


Daerah Terbaru