Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Filosofi di Balik Menu Hidangan pada Acara Tahlilan

Filosofi di Balik Menu Hidangan pada Acara Tahlilan
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Oleh: Hari Susanto
Bagi kaum Nahdliyyin, tentunya sudah menjadi maklum apabila dalam sebuah acara ‘tahlil/ tahlilan’ terdapat berbagai macam jenis menu hidangan yang disuguhkan di hadapan para jama’ah tahlilan tersebut. 

 

Ya, selain hal itu adalah sebagai tradisi secara turun temurun dari para ulama pendahulu (Wali Songo), tentu saja menu hidangan seperti nasi tumpeng (sego tumpeng masyarakat di Jawa menyebutnya), lepet (Jawa) atau leupeut (Sunda), poci/ kochi/ bugis, kupat, dan lain sebagainya itu tidak lain bertujuan untuk menjamu para jama’ah tahlil yang telah bersedia hadir untuk mendo’akan keluarga si tuan rumah yang telah meninggal dunia dalam kata lain untuk menghormati tamu yang hadir dalam acara tersebut.

 

Tapi, tahukah anda bahwa di balik berbagai macam jenis makanan tersebut di atas memiliki filosofinya masing-masing? Dalam tulisan ini penulis akan mencoba membahas secara singkat, padat, dan penuh makna agar pembaca dapat dengan mudah mencerna segala apa yang dimaksud oleh penulis dalam memahami sebuah pengetahuan yang mungkin baru (ilmu baru) bagi pembaca sekalian.

 

Nasi Tumpeng
Menu makanan yang satu ini seringkali kita temui dalam setiap acara-acara yang diselenggarakan oleh kalangan Nahdliyyin, entah itu dalam tahlilan, khatmil qur’an, sedekah bumi, acara syukuran, atau pun acara lain yang notabene harus menghadirkan orang banyak. 

 

Tumpeng, jika ditinjau dari perspektif bahasa (KBBI) akan mempunyai arti nasi yang dihidangkan dalam bentuk menyerupai kerucut (untuk selamatan dan sebagainya). Sedangkan, dalam filosofinya (menurut Bapak Kiyai Sudirja bin H. Murmadi [Kiyai NU tulen setempat] yang sekaligus sebagai guru ngaji penulis) mengqiyaskan (mengumpamakan) ‘tumpeng’ sebagai simbolis dari ayat qur’an  ‘ihdinas siratal mustaqim’ (QS. Al-Fatihah ayat 6) yang jika diterjemahkan dalam bahasa Jawa adalah ‘tumpuan ingkang lempeng’ (jalan yang lurus). Dengan dihidangkannya Nasi Tumpeng dalam acara Tahlilan atau acara-acara lainnya diharapkan menjadi sebuah pengingat (warning) kepada semua orang yang hadir dalam acara tersebut agar kiranya selalu berada di jalan yang Allah ridhai.

 

Lepet/ Leupeut
Secara bahasa (Wikipedia Bahasa Indonesia) adalah sejenis penganan (makanan) dari beras ketan yang dicampur kacang, dan dimasak dalam santan, kemudian dibungkus daun janur. Sedangkan, dalam filosofinya kata ‘lepet/ leupeut’ berarti simbolisasi perwujudan dari orang yang telah meninggal dunia (mayat). Filosofi tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya hal demikian erat kaitannya dengan salah satu metode dakwah yang baik dan efektif untuk mengingatkan kepada manusia akan mutlaknya peristiwa kematian. Allah Swt. berfirman:

 

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati (maut). Dan kepada Allah-lah kita semua akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut ayat 57)

 

Dengan begitu, dakwah menjadi hal yang sangat mudah diterima oleh masyarakat awam sekali pun. Dakwah yang baik (bil hasan) akan mendatangkan kebaikan pula baik bagi da’i (orang yang berdakwah) itu sendiri atau pun untuk orang yang di dakwahinya. Sesuai dengan firman Allah berikut ini:

 

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

 

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl ayat 125)

 

Poci/ Kochi/ Bugis
Kue poci/ kochi/ bugis is Indonesian kue or traditional snack of soft glutinous rice flour cake, filled with sweet grated coconut. Kue yang satu ini telah lazim ditemukan di berbagai daerah khususnya masyarakat tradisional Betawi dan Pulau Jawa. Kue yang berbentuk menyerupai piramida (limas segi empat) ini memiliki filosofi yang amat begitu dalam. 

 

Rasa dasarnya yang manis menjadi perlambang harapan dan cita-cita bahwa setiap tahapan kehidupan di dunia ini akan semanis kue tersebut. Selain daripada itu, bentuk kue yang menyerupai piramida ini melambangkan tentang pendirian yang teguh, kokoh, stabil, sempurna dalam menjalankan ajaran Islam, serta memiliki jiwa kejujuran dan integritas yang tinggi. 

 

Kupat/ Ketupat
Filosofi ‘Kupat’ atau ‘Ketupat’ yang sering kita jumpai saat hari raya Idul Fitri ini, juga biasa dihidangkan dalam banyak acara Tahlilan.

 

Karenanya, ‘Kupat’ atau ‘Ketupat’ dalam tradisi masyarakat Islam Jawa memaknainya dengan peribahasa “Kudu Eling Perkara Kang Papat” (harus ingat dengan perkara yang empat). Yang dimaksudkan dengan perkara yang empat yakni, Shiddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), Fathonah (cerdas). Tidak lain empat perkara itu adalah sifat wajib bagi Rasulullah Saw. yang harus kita teladani dalam kita sebagai umatnya.

 

Sedangkan, Dikutip dari Journal of Ethnic Foods (Vol. 5, Issue 1, March 2018, Angelina Rianti, dkk) “Philosophies of Ketupat”:

 

Ketupat symbolizes apology and blessing. The main ingredients of ketupat are rice and young coconut leaves, which have special meaning. Rice is considered a symbol of lust, while the leaf stands for “Jatining nur” (true light) in Javanese, which means conscience. Ketupat is described as the symbol of lust and conscience; that is, humans must be able to hold the lust of the world with their conscience.

 

Ketupat melambangkan permintaan maaf dan berkah. Bahan utama ketupat adalah beras dan daun kelapa muda, yang memiliki arti khusus. Beras dianggap sebagai lambang nafsu, sedangkan daun merupakan singkatan dari “Jatining Nur” (cahaya sejati) dalam bahasa Jawa yang berarti hati nurani. Ketupat digambarkan sebagai lambang nafsu dan hati nurani; yaitu, manusia harus mampu menahan nafsu dunia dengan hati nurani mereka.

 

Penulis merupakan Santri Alumni Pondok Pesantren Al-Ihsan Cibiru Hilir

Terkait

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×