• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 21 Februari 2024

Nasional

Peran Kiai Indramayu dalam Sejarah Perkembangan Nahdlatul Ulama di Indonesia (Bagian 3)

Peran Kiai Indramayu dalam Sejarah Perkembangan Nahdlatul Ulama di Indonesia (Bagian 3)
(Ilustrasi: NU Online)
(Ilustrasi: NU Online)

Indramayu, NU Online Jabar
Bulan Januari adalah bulan hari lahir (harlah)-nya Nahdlatul Ulama (NU), karena jam’iyyah dinniyah islamiyyah (organisasi keagamaan) Nahdlatul Ulama ini didirikan pada 16 Rajab 1344H / 31 Januari 1926 M.  Menyambut bulan harlah NU tahun 2021, pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Indramayu melakukan refleksi berupa penelusuran sejarah dan peran kiai di Kota Mangga dalam sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama sejak masa awal pendirian hingga saat sekarang ini.

Ketua PCNU Indramayu, KH Juhadi Muhammad mengungkapkan, Indramayu tidak bisa lepas dari sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama di Indonesia, selain karena banyaknya waliyullah dan kiai Indramayu yang banyak melahirkan kiai-kiai pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama, juga karena ada beberapa nama yang tercatat dalam sejarah perkembangan NU. 

“Seperti diungkapkan sebelumnya, ada tokoh NU dari Indramayu yang bernama KH Imron Rosjadi yang berkiprah di kancah nasional maupun internasional, serta masuk dalam struktur PBNU, tokoh berikutnya adalah KH Achmad Syahri. Beliau  lahir di Indramayu tepatnya di desa Babadan Kecamatan Sindang pada tahun 1924,  ibunya bernama Warmiah dan ayahnya bernama Muhammad Rais,” ungkap KH Juhadi Muhammad.

“Achmad Syahri bergabung dengan Sekretariat Jenderal PBNU mulai tahun 1950. setelah belajar selama 6 tahun di Pondok Pesantren Al Islam Jamsaren, Solo, Jawa Tengah beliau kembali ke Indramayu. Sebagi pemuda santri, beliau bergabung dengan lazkar Hizbullah-Sabilillah. Memimpin barisan Hizbullah di garda paling depan menghadapi penjajah Belanda yang ingin mencengkramkan kembali kukunya pada tahun 1948 dan 1949,” tambahnya.

Menurut Ketua PCNU Indramayu, peran KH Achmad Syahri  sangat menonjol dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, sehingga membuat Belanda sangat berang kepada Syahri. Beliau menjadi sosok yang dicari dan terus dicari Belanda, melalui mata-matanya para pengkhianat bangsa, yaitu teman-temannya sendiri yang pro-Belanda. Tidak tahan dengan teror dan intimidasi, Syahri muda akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dengan modal dan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

“Kecintaannya kepada para ulama, mendorong Syahri sering bertandang ke Sekretariat Jenderal PBNU di jalan Menteng Raya No.24 A kantor ini di kemudian hari menjadi kantor redaksi harian Duta Masyarakat, surat kabar milik NU yang diterbitkan menyongsong pelaksanaan pemilihan umum 1955. Keterampilan tulis menulis yang dimiliki Syahri membuat dia dengan mudah diterima menjadi wartawan Kantor Berita Arab Press Board atau APB, yang berkantor di Jalan Salemba Tengah Jakarta Pusat (di depan Rumah Sakit Thamrin). Dalam kapasitas sebagai wartawan itulah, Syahri sering mewawancarai tokoh-tokoh NU seperti KH Machfudz Siddik, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdul Wahab Chasbullah, disamping para pemimpin dari kalangan Masyumi yang berkantor di jalan Kramat Raya No. 45 Jakarta Pusat. Hasil-hasil wawancara Syahri dengan tokoh-tokoh NU khususnya, mendapat simpati para pemimpin NU,” ujar KH Juhadi Muhammad sambil terus membuka draft buku sejarah NU Indramayu dan peran kiai Indramayu dalam perkembangan Nahdlatul Ulama di Indonesia.

KH Juhadi Muhammad melanjutkan uraiannya, setiap hari Syahri bekerja rutin, dari tempat kost-nya di Gang H. Murtadho Salemba Bluntas menuju ke Salemba Tengah (kantor APB), kemudian ke Menteng Raya dan sore hari kembali lagi ke Salemba Tengah. Proses ini yang mengundang simpati KH Abdul Wahid Hasyim (ayah Gus Dur), hingga Syahri diminta untuk bergabung secara tetap di Sekretariat Jenderal PBNU. Tidak lama kemudian, Syahri menjadi Sekretaris Pribadi KH Abdul Wahid Hasyim, sampai KH Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dan hingga wafatnya.

“Peran sebagai sekretaris pribadi KH Abdul Wahid Hasyim itulah yang membuat semua keluarga besar KH Abdul Wahid Hasyim tidak pernah melupakan KH Achmad Syahri. Lebih dari satu tahun, Syahri tinggal bersama KH Abdul Wahid Hasyim di Jalan Taman Amir Hamzah No. 8 Jakarta Pusat. Ketika Gus Dur menjadi presiden, KH Achmad Syahri dan keluarga pernah diundang khusus ke Istana Merdeka. Gus Dur sangat hormat kepada bekas sekretaris pribadi ayahnya itu,” ujar Ketua PCNU Indramayu.

Syahri muda yang energik, terampil dan selalu siap bekerja keras dan cepat, menurut  KH Juhadi Muhammad sangat disukai oleh para pemimpin NU. Mereka merasa selalu dibuat senang oleh Syahri karena kepiawaiannya menangkap pesan-pesan para kiai dan merumuskannya dalam surat PBNU maupun dalam bentuk surat di harian Duta Masyarakat. Di kemudian hari Syahri pernah duduk sebagai anggota dewan redaksi surat kabar Duta Revolusi, kemudian Suara Islam dan lain-lain.

“Salah seorang Ketua PBNU KH Muhammad Dachlan termasuk yang mengincar Syahri untuk menjadikannya sebagai sekretaris andalan. Keinginan itu baru terwujud paska Muktamar NU di Jakarta (1959) dan Muktamar di Solo (1963), di mana KH Achamd Syahri menjadi sekretaris Muktamar dan kemudian menjadi Sekretaris PBNU merangkap kepala kantor PBNU. KH Muhammad Dachlan dan KH Achmad Syahri berduet untuk menjaga citra dan kantor PBNU di awal kebangkitan Orde Baru,” tutur Ketua PCNU Indramayu.

Ketika Nahdlatul Ulama menjadi Partai Politik (1954-1984), nama KH Achamd Syahri tidak dapat dipisahkan dengan roda kegiatan sekretariat Jenderal PBNU. Selama hampir 40 tahun bergumul dengan tugas-tugas sekretariat jenderal, KH Achmad Syahri sangat kaya dengan pengalaman berharga yang tidak dimiliki pemimpin lain. 

“Apalagi saat ini tinggal beliau yang masih hidup, maka nyaris beliau ibarat perpustakaan hidup tentang NU dan ke-NU-an. Mereka yang ingin mendalami tentang NU, baik peneliti dalam maupun luar negeri, maka kyai Syahri lah yang menjadi dimintai berbagai keterangan yang diperlukan. Dari fakta sejarah tersebut, dapat dikatakan bahwa KH Achamad Syahri adalah salah satu tokoh NU Indramayu yang memiliki peran strategis dalam tumbuh kembangnya NU secara keseluruhan,” kata KH Juhadi Muhammad dengan nada bangga.

“Itulah bukti peran kiai Indramayu dalam perkembangan Nahdlatul Ulama di Indonesia, selanjutnya kita akan mulai mengungkapkan beberapa kiai yang menjadi motor penggerak Nahdlatul Ulama di Indramayu sekaligus sejarah NU di Kota Mangga ini,” tutup KH Juhadi Muhammad.

Pewarta: Iing Rohimin
Editor: Abdullah Alawi


Nasional Terbaru