Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Dibalik Peristiwa Hijrah, Terbentuknya Tahun Islam dan Eksistensi Negara

Dibalik Peristiwa Hijrah, Terbentuknya Tahun Islam dan Eksistensi Negara
Dibalik Peristiwa Hijrah, Terbentuknya Tahun Islam dan Eksistensi Negara. (Foto: Rohman).
Dibalik Peristiwa Hijrah, Terbentuknya Tahun Islam dan Eksistensi Negara. (Foto: Rohman).

Indramayu, NU Online Jabar
Berpindahnya (Hijrah) Nabi Muhammad beserta sahabatnya dari Mekkah ke Madinah menjadi peristiwa penting bagi umat Islam. Betapa tidak, momen tersebut nyatanya menjadi cikal bakal dibentuknya tahun Islam yang kemudian disebut tahun Hijriah yang hingga kini telah sampai pada hitungan 1444 H. 


Hijrah juga memuat pesan bahwa penting adanya atau eksistensi negara. Sejarah ini masih relevan menjadi acuan bangsa ini tentang pentingnya kehadiran atau keberadaan negara. 


Hal itu yang disampaikan KH Mustofa Aqiel Siradj dalam ceramahnya pada acara peringatan Tahun Baru Islam 1444 Hijriah yang digelar Pemerintah Desa Sudimampir Kecamatan Balongan, Selasa (2/8) malam. 


Pada kesempatan tersebut, Kiai Mustofa menceritakan awal mula dibentuknya tahun Islam diambil dari peristiwa hijrah, sehingga disebut tahun Hijriah. Ia menjelaskan tahun Hijriah dibentuk oleh Kholifah Umar bin Khatthab atas usulan Ali bin Abi Thalib. 


"Ada dua kemuliaan dari pembentukan tahun dari peristiwa hijrah, yaitu kemuliaan dunia dan akhirat," katanya.


Ia menuturkan kemuliaan yang didapat di dunia yaitu Allah mengizinkan Nabi Muhammad untuk berperang melawan orang kafir demi mempertahankan negara. Berbeda ketika masih di Mekkah, berperang tidak diperkenankan meski kezaliman orang kafir sangat kejam saat itu.


"Tapi di Madinah, Nabi disuruh melawan untuk memperjuangkan negara. Ini artinya, sangat penting kehadiran negara," jelasnya. 


"Dengan adanya hijrah, kami punya negara, dengan adanya punya negara, kami punya eksistensi. Kami punya negara, kami punya jati diri, siapa yang datang memerangi kami, kami lawan," ceritanya. 


Ia juga mengungkapkan bahwa untuk menuju eksistensi negara diperlukan suasana kondusif. Menurutnya, kondusif itu tercipta dari suasana yang aman, tentram dan masyarakatnya toleran serta terpenuhi kebutuhan dasarnya. 


"Maka untuk menciptakan eksistensi negara, kita harus aman. Cara amannya, apapun etnis dan sukunya, mari kita kembali kepada Pancasila," paparnya.


Dalam kesempatan yang sama, Kiai Mustofa mengungkapkan kemuliaan di akhirat dari peristiwa hijrah. Sejak hijrah itu, wahyu yang diturunkan redaksinya dengan penyebutan 'wahai orang-orang yang beriman'. Berbeda dengan sebelum hijrah, ayat Alquran menggunakan diksi 'wahai manusia', yang masih. mensejajarkan mukmin dan kafir. 


"Maknanya, ketika kami masih di Mekkah kami dengan orang kafir sejajar. Tetapi ketika berada di Madinah, kami lebih mulia, kami dipanggilnya ya ayyuhalladzina amanu, orang kafir tidak dipanggil. Inilah kemuliaan kami di akhirat secara agama," terangnya. 


Di akhir, ia menyimpulkan setidaknya dua hal dari peristiwa hijrah, yaitu eksistensi negara dan dibentuknya tahun Islam.


"Di dunia, mulia punya negara, dengan hijrah punya negara. Di akhirat, dengan hijrah kita dipanggil alladzina amanu. Maka disepakatilah tahun Islam diambil dari peristiwa hijrah. Yang membentuk sahabat Umar, atas usulan sahabat Ali," pungkasnya. 


Pewarta: Rohman
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Indramayu Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×