• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 27 Mei 2024

Garut

Ceng Hilman Sebut Hikmah Terbesar Berpuasa untuk Mengendalikan Hawa Nafsu

Ceng Hilman Sebut Hikmah Terbesar Berpuasa untuk Mengendalikan Hawa Nafsu
Ketua LP Maarif NU Garut KH Hilman Umar Bashori. (Foto: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin A).
Ketua LP Maarif NU Garut KH Hilman Umar Bashori. (Foto: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin A).

Garut, NU Online Jabar
KH Hilman Umar Bashori atau yang akrab disapa Ceng Hilman mengatakan bahwa salah satu hikmah diwajibkannya berpuasa di bulan Ramadhan yakni untuk mengendalikan hawa nafsu yang ada pada diri seorang muslim. Menurutnya hal itu menjadi sangat penting mengingat perjuangan terbesar dalam diri manusia yakni terkait dengan melawan hawa nafsunya. 


"Oleh karenanya salah satu cara untuk menundukkan nafsu yang ada pada diri manusia, Islam mensyariatkan dengan ibadah puasa. Dengan berpuasa, nafsu yang ada pada diri manusia akan dipersempit, itulah hikmahnya," ucapnya saat menyampaikan tausiah digital bertajuk Kalam Ramadhan Episode 23 sebagaimana dikutip Chanel Youtube Vortable, Kamis (4/4/2024). 


Ceng Hilman mengutip perkataan ulama sufi "Bahwa salah besar jika ada orang berpandangan bahwa musuh terbesar dalam diri manusia itu adalah orang lain dan sedikit pengetahuan tentang dirinya. Namun yang menjadi musuh terbesar pada diri manusia itu adalah hawa nafsunya sendiri." 


Terkait dengan itu, Ceng Hilman kemudian mengisahkan apa yang dipesankan Nabi kepada para sahabat pasca perang Badar terkait akan pentingnya mengendalikan hawa nafsu. 


"Setelah perang Badar, Rasul berkata kepada para sahabat: roja'na min jihadil asghar ila jihadil akbar (kita telah kembali dari jihad/perang kecil menuju kepada jihad/perang yang begitu besar) yakni melawan hawa nafsu. Mengapa melawan hawa nafsu begitu penting? Karena perang di medan pertempuran tidak disyariatkan untuk menang, jika pun mati maka akan syahid dan masuk surga tanpa dihisab, sementara jika kita dikalahkan oleh hawa nafsu maka nerakalah balasannya," tutur Ceng Hilman. 


Tiga Jenis Nafsu


Lebih lanjut Ceng Hilman mengungkapkan ada tiga jenis nafsu yang ada pada diri manusia yakni nafsu amarah, nafsu lawmamah, dan nafsu muthmainah. 


"Jika ada keinginan yang ada pada diri manusia dengan tanpa batas tanpa mempertimbangkan baik buruknya, itu adalah nafsu amarah. Sementara, nafsu lawmamah merupakan nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat kerusakan meskipun dalam dirinya masih ada niat kebaikan. Adapun nafsu muthmainah yakni apabila ada orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, akalnya telah menjadi pemimpinnya, sehingga hawa nafsunya ditekan dan dikendalikannya," jelasnya. 


Ceng Hilman mengutip firman Allah SWT dalam QS al-Fajr ayat 27-30:


يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ  ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ 


Artinya: "Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS al-Fajr [89]: 27-30). 


"Surga adalah balasan yang Allah berikan bagi orang yang sudah menundukkan hawa nafsunya. Artinya disini tiada kata lain agar kita mampu menundukkan hawa nafsu. Maka orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya maka ia akan memiliki nilai derajat yang tinggi di sisi Allah seperti halnya para kekasih Allah, para sufi, dan para wali Allah," imbuh Ceng Hilman. 


Atas dasa itulah, sambungnya, maka puasa mengajarkan kepada umat manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsunya. 


"Hikmah berpuasa yakni agar kita mampu menundukkan nafsu amarah dan nafsu lawmamah, serta menghadirkan nafsu muthmainah dalam diri manusia," tuturnya. 


"Ciptakanlah dalam diri kita nafsu muthmainah dengan cara rajin menghadiri setiap majelis orang saleh. Maka menundukkan hawa nafsu harus menjadi tujuan utama kita dalam melaksanakan ibadah puasa. Bukan hanya di saat Ramadhan saja, melainkan juga saat setelahnya," tandas Ceng Hilman. 


Garut Terbaru