Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

PAUD Ad-Dakhil Cilaku Kenalkan Anak pada Toleransi Sejak Dini

PAUD Ad-Dakhil Cilaku Kenalkan Anak pada Toleransi Sejak Dini
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ad-Dakhil (Foto: NU Online Jabar/Wandi)
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ad-Dakhil (Foto: NU Online Jabar/Wandi)

Cianjur, NU Online Jabar
Kepala Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ad-Dakhil Nurunnisa Fauziah mengatakan pada usia di bawah 4 tahun, anak cenderung memiliki sifat egosentris. Bahkan sejak usia 1 tahun, alam bawah sadar mereka bisa menyerap apa yang dilakukan orang tua maupun orang di sekitarnya. 

Di sinilah, kata dia, orang tua berperan penting dalam menanamkan nilai toleransi kepada anaknya, terutama menstimulasi agar anak siap menerima keberadaan orang lain dan yang berbeda dari dirinya sendiri.

Ia menjelaskan banyak keluarga yang hidup dalam komunitas yang beragam dan memiliki tetangga yang berbeda asal-usul, agama, maupun bahasa. Lingkungan rumah dan sekolah berperan sangat penting dalam mengembangkan sikap toleransi. 

"Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui bersifat heterogen, anak dapat memahami perbedaan dan kebiasaan yang dilakukan masing-masing orang sebab anak-anak biasanya belajar dari apa yang dilihat dan didengar dari orang tua dan sekitarnya," tutur alumnus PC Kopri PMII Cianjur.

Oleh karena itu, lanjut dia, PAUD yang beralamat di Kampung Cibodas, RT 03 RW 09, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Cianjur itu berupaya mengenalkan anak-anak pada perbedaan usia, gender, kampung, dan latar belakang keluarga yang merupakan sebuah sunnatullah yang harus diterima

Ketua Gusdurian Kabupaten Cianjur, Muhammad Mustofa mengapresiasi adanya yang mengenalkan toleransi sejak dini. Ia menyebut setidaknya ada beberapa cara mengajarkan toleransi pada anak.

Pertama, lanjut Mustofa, mengenalkan keragaman pada anak dengan memberi pengertian bahwa ada beragam suku, agama, dan budaya. Sampaikan pada buah hati, meskipun orang lain memiliki agama atau suku yang berbeda, manusia sebenarnya sama dan tidak boleh dibeda-bedakan.

"Kedua, ajarkan untuk tidak membenci perbedaan. Kebencian yang tercipta dari perbedaan akan membuat hati sedih dan menyakiti hati orang lain. Cobalah ajak anak untuk berandai-andai jika dia dibenci orang. Dengan begitu anak akan lebih berempati terhadap orang lain," sambungnya, Rabu (04/8).

Ketiga, Mustofa menambahkan, berikan anak contoh nyata. Jika bertemu seseorang menggunakan simbol agama yang cukup ekstrem atau seseorang yang memiliki warna kulit berbeda, jangan memandangnya dengan penuh keanehan, apalagi mengatakan sesuatu yang bernada kebencian dan ledekan.

"Terakhir, beritahukan pada anak bahwa sikap toleransi itu sangat dibutuhkan. Jika tidak ada sikap toleransi, banyak orang yang akan bermusuhan dan saling membenci," imbuhnya.

Pewarta: Wandi Ruswannur
Editor: Abdullah Alawi 

 

Terkait

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×