Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Nun, Demi Qalam dan Apa yang Mereka Tulis

Nun, Demi Qalam dan Apa yang Mereka Tulis
Nun, Demi Qalam dan Apa yang Mereka Tulis (Ilustrasi-Nasihin)
Nun, Demi Qalam dan Apa yang Mereka Tulis (Ilustrasi-Nasihin)

Kemarin Dia mendatangiku
Senyumnya indah
Wajahnya berseri
Tatapannya sejuk


Aku dipaksa untuk bergembira
Dibawa merenung tanpa diskusi
Dibawa melihat cerobong bulan
Ketika hati berguncang 


"Mari berdoa bersamaku" katanya.
Malam-malam berlalu
Bulan baru harus berganti
Bulan yang tak akan sama


Malam ini Dia datang lagi, bercerita tentang wangi tanah ditimpa hujan, tentang suara daun ditiup angin. Tentang garis langit di sore hari. Dia tersenyum sangat indah. Matanya seperti rembulan, alisnya seperti pelangi, kulitnya putih seperti kilauan air telaga.


Dia bertanya padaku "Apakah kau sering mendengar alam bernyanyi, menari, melukis dan bermain drama?", aku bisu dan tak mengerti. Pertanyaan macam apa ini?.


Belum sempat menjawab Dia berbicara; Alam ini adalah Panggung Drama, Galeri lukisan, Panggung Orkestra, Nyanyian Puji-pujian untukmu dan Tuhan.
"Namun kau tak menyadarinya, atau engkau sudah lupa bahwa hidup adalah keindahan?". Aku semakin bingung dan kaku.


"Percayalah, Kita dan Alam adalah lingkaran tangga nada yang merdu, lukisan yang indah, gerak yang harmoni. Jika tak percaya! Cobalah pejamkan matamu, bernyanyilah bersama suara hujan, bersama suara angin, bersama air sungai yang mengalir. Kita dan mereka adalah Makhluk, diciptakan untuk Me-muji Keindahan".


"Jika kau tak merasakan itu, berarti hatimu sakit, penuh luka dan kotor, seperti cermin tertutup debu, tak akan memantulkan cahaya. Padahal cahaya itu tiap detik terpancar, atau mungkin hatimu penuh nama, bukan selain-Nya?, dipenuhi sampah nafsu, cinta-cinta palsu, rindu yang rusak. Jika seperti itu, duduklah, heningkan hati, akal, jiwamu. Atau carilah orang-orang yang matanya seperti Semesta".


Ketika mataku terbuka, Dia sudah pergi, Entah kemana?.
Hanya meninggalkan wangi, meninggalkan harapan, meninggalkan tulisan di kertas usang "Kita adalah Musafir, dan tujuan kita bukanlah dunia ini, kita adalah bagian dari Partikel ke Maha Indahan-Nya, yang Namanya disebut dengan huruf-huruf yang berbeda".


NasihinPengurus Lesbumi Kabupaten Bandung

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×