Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Dongeng Enteng dari Pesantren (1): Ajengan

Dongeng Enteng dari Pesantren (1): Ajengan
Dongeng enteng dari pesantren dimulai dari menggambarkan keeadaan pesantren dan tokoh-tokohnya, dimulai dari sosok ajengan (Foto: sobeyartfoundation.com)
Dongeng enteng dari pesantren dimulai dari menggambarkan keeadaan pesantren dan tokoh-tokohnya, dimulai dari sosok ajengan (Foto: sobeyartfoundation.com)

Oleh Rahmatullah Ading Afandie (RAF)

Terakhir aku bertemu dengan ajengan belum lama, sekitar dua tahun ke belakang. Aku bertemu lagi ketika naik mobil di sebuah jalan. Aku tersentak kaget ketika melihat ajengan di jalan itu dan langsung meminta sopir untuk berhenti.

Bertahun-tahun tak bertemu, tapi aku tidak pangling pada kakek-kakek yang berjalan itu, berterompah, bertongkat waregu.

Ajengan sudah agak jauh terlewat ketika mobil berhenti. Buru-buru aku turun, setengah berlari.

Sebelum dia tahu siapa yang mendatanginya, aku menyalaminya, mencium tangannya, seperti dulu waktu di pesantren. Matanya mendelik berusaha mengenaliku. Tentu dia lupa sebab waktu di pesantren aku masih sangat kanak-kanak dan sekarang aku sudah jangkung.

“Sebentar, sebentar, ini siapa?” katanya.

Aku menyebutkan nama, tapi tetap sepertinya dia tidak ingat.

“Saya pernah mengaji kepada Mama, dulu di zaman Jepang ...,”

Belum tamat aku menjelaskan, ia langsung berucap.

Laa ilaha ilallah, ini Aden? Tentu, Den. Masya Allah, maaf, Aden, maaf. Mama lupa, maklum sudah tua. Masya Allah, dulu Aden masih kecil. Sekarang...., sebentar, di mana Aden sekarang? Bekerja apa? Sudah berapa putra?”

Aku menceritakan keadaanku. Ketika aku bercerita, ajengan selalu berdecak, sambil tak henti berucap masya Allah dan alhamdulillah.

Setelah aku bercerita, ajengan menceritakan dirinya. Katanya, sekarang ia sudah tidak mempunyai pesantren sebab dibakar Belanda waktu zaman pendudukan. Istrinya sudah setengah pikun serta sakit-sakitan. Nyi Halimah, putri tunggalnya dibawa suaminya. Tidak tahu kemana. Kata orang dibawa ke gunung. Malahan ajengan juga pernah ditahan sama menantunya itu.

“Si Udin (menantunya) jadi pemimpin gerombolan, Aden,” kata ajengan.

Menyesal aku tak bisa lama ngobrol dan tak bisa mengajak dia ke mobil sebab jalan yang kutuju berbeda arah dengannya.

Terus aku menyerahkan uang seratus rupiah. 

“Lumayan untuk membeli tembakau,” kataku.

Lama sekali dia berdoa setelah menerima uang itu. 

“Aden, mama berdoa semoga Aden dekat dengan rezeki, jauh dari bencana. Semoga menjadi orang yang diridhai Allah lahir dan batin. Mama titip jangan meninggalkan kewajiban agama, karena buat apa manusia hidup di dunia kalau hanya meninggalkan perintah-Nya. Hanya amal saleh yang bisa berguna di alam keabadian kelak. Harta benda tak akan bisa dibawa ke alam kubur ...”

Aku terharu ketika melihat ke belakang. Ajengan masih berdiri tertegun menatap mobilku.

Meski sudah agak jauh, tapi jelas terlihat bibirnya masih komat-kamit berdoa.

Aku jadi ingat saat masih di pesantren.

Ajengan tidak pernah sekolah. Tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar. Orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya. Luhur penemuannya. Singkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat enam puluh hari tanpa tafakur.”

Guyonannya, selintas seperti berlebihan, tapi kalau ditelaah, tidak keluar dari jalur agama. Malah sering mengandung pelajaran.

Tidak beda dengan guyonannya Nabi Muhammad. Pada suatu ketika, ada nenek-nenek menangis tersedu-sedu karena Nabi mengatakan, nenek itu tidak akan pernah ada di sorga. Nenek itu menangis karena merasa dia tidak akan pernah merasakan sorga.

Nabi tersenyum.

“Jangan menangis, meski di dunia sudah tua seperti nenek-nenek, kalau sudah masuk sorga akan muda kembali.”

Barulah nenek itu berhenti menangis.

Begitu juga dengan guyonan ajengan.

Kalau mengajar, dia sering berkata cawokah. Belakangan aku menemukan guru besar cawokah, Prof. Mr. Dr. Hazairin di Fakultas Hukum. Kalau memberi contoh sengaja memilih contoh-contoh cawokah

“Dengan contoh-contoh semacam itu, mahasiswa tidak mudah lupa.”

Begitu juga dulu ajengan waktu mengajar sama dengan Hazairin. Padahal Hazairin profesor dengan banyak gelar, sementara ajengan sekolah juga katanya cuma sampai kelas dua sekolah desa.

Namanya manusia, ajengan juga memiliki banyak kesalahan. 

“Ana mah manusia, tempatnya salah dan lupa,” katanya.

Menyesal tadi aku tak melihat kepalanya. Dulu kepalanya selalu gundul. 

“Kepala gundul itu sunah Nabi.”

Semoga di sini aku menceritakan ajengan, yang baik maupun buruk, tidak menyebabkan apa-apa, malah semoga menjadi rahmat untukku, juga untuk pembaca. Amin.

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Sunda ke bahasa Indonesia oleh Abdullah Alawi dari kumpulan cerpen Dongeng Enteng dar Pesantren. Kumpulan cerpen tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, kumpulan cerpen otobiografis tersebut digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang. Nama pengarangnya Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis. Tahun 1976, ia muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong.

 

Terkait

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×