Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Syaikhona Kholil Bangkalan Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Syaikhona Kholil Bangkalan Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Syaikhona Kholil Bangkalan (Istimewa)
Syaikhona Kholil Bangkalan (Istimewa)

Jakarta, NU Online Jabar
Seorang ulama kharismtaik asal Bangkalan, Madura Muhammad Syaikh Kholil bin Abdul Latif diusulkan mendapat gelar kepahlawanan nasional. Usulan tersebut dinilai bahwa Syaikh Kholil merupakan ulama besar yang berhasil membimbing dan membina para santrinya dan masyarakat umum untuk cinta tanah air dengan semangat nasionalisme, keimanan yang kuat sebagaimana selogan yang ia ciptakan, Hubbul Wathon Minal Iman bahwa membela tanah air merupakan sebagian dari iman.

Syaikhona Kholil dikenal oleh masyarakat khususnya di madura dan umunya seluruh Indonesia sebagai ulama besar atau guru besar ulama, bapak pesantren Indonesia, pelopor nasionalisme santri Indonesia dan pejuang kultural yang aktif berkontribusi dalam Gerakan nasionalisme dalam membina dan memberdayakan masyarakat dalam bidang agama, pendidikan, sosial kemasyarakatan dan politik di abad 1800-an.

Dari bimbingan dan binaan tersebut, Syekh Kholil telah melahirkan banyak tokoh-tokoh ulama besar yang tidak hanya mengajari ilmu agama tetapi juga mengajari dan menjadi pelopor perjuangan dan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Beberapa murid atau santri dari Syekh Kholil diantaranya sudah di kokohkan sebagai pahlawan nasional yaitu diantaranya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH As’ad Syamsul Arifin. Dikukuhkannya para santri Syekh Kholil tersebut karena perjuangannya dulu pada saat melawan penjajahan belanda yang terkenal dengan Resolusi Jihadnya.

Dalam sejarah berdirinya ormas islam terbesar di Indonesia, Syaikhona Kholil menjadi penentu lahirnya jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) yang kiprahnya tidak diragukan lagi bagi bangsa dan negara.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dzuriyyah atau keturunan dari Syekh Kholil yaitu Raden KH Abdul Latif Amin Imron pada Seminar Nasional dalam rangka pengusulan gelar pahlawan nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif dengan tema “Pejuang Kultural, Guru Besar Pahlawan Nasional” di Aula Gedung Nusantara V DPR/MPR RI, Kamis (14/10).

“Selain itu banyak dan kiprah perjuangan beliau yang telah didedikasikan untuk umat, bangsa dan negara,” ungkapnya.

Abdul Latif yang juga sekaligus sebagai Bupati Kabupaten Bangkalan dirinya mengatakan sudah cukup layak dan menjadi kewajiban negara untuk memberikan penghormatan dan penghargaan sebagai pahlawan nasional sebagaimana diatur dalam UU Pemerintah Kabupaten Bangkalan.

“Sudah cukup layak dan menjadi kewajiban negara untuk memberikan penghormatan dan penghargaan sebagai pahlawan nasional kepada Syaikhona Kholil, sebagai bagian dari usaha pemenuhan persyaratan dan prosedur sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pemerintah Kabupaten Bangkalan yang telah melakukan kajian yang selanjutnya telah mengirim proposal pengajuan gelar pahlawan nasional kepada pemerintah pusat,” ucapnya.

Prof. Dr. KH Nasarudin Umar dalam pemaparannya, juga mengatakan Syaikhona Kholil itu memenuhi persyaratan untuk mendapatkan gelar kepahlawanan, syekh Kholil bukan hanya gurunya para pahlawan nasional tetapi gurunya proklamator kemerdekaan, Soekarno.

“Syekh Kholil itu memenuhi persyaratan, cara belajarnya dan cara mengajarnya . Kita bisa lihat bagaimana ia mengajarkan KH Bahar Nur Hasan, juga diucapkan KH Abdul Karim, yang jadi nyata adalah KH A’sad Syamsul Arifin yang sehari-hari mendampingi gurunya. Ia sempat menyaksikan bapak proklamator kemerdekaan kita ketika mengunjungi Bangkalan di usap-usap kepalanya oleh Syekh Kholil, di tiup-tiup ubun-ubunnya, barangkali karena berkah itulah ia memproklamirkan kemerdekaan,” paparnya.

Lanjutnya, “Syekh Kholil bukan hanya gurunya para pahlawan nasional, tetapi gurunya proklamator kemerdekaan, masa tidak mendapatkan penghargaan yang paling puncak sekalipun,” sambungnya.

Sementara Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Kholil, Dr. Muhaemin mengatakan sebelumnya telah melakukan kajian akademik untuk mencari bukti autentik sehingga Syaikh Kholil layak mendapat gelar kepahlawanan.

“Sebelumnya kami telah melakukan kajian akademik untuk mencari bukti otentik. Kajian tersebut awalnya diserahkan kepada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Bangkalan selama tiga tahun, namun mereka kesulitan untuk mencari bukti-bukti tersebut. Tetapi alhamdulillah dengan jalan banyak hal kami berhasil menyusun kajian akademik biografi hanya dalam waktu setengah bulan dan ini jalan dari Allah,” ujarnya.

Lanjutnya, jika pengusulan gelar kepahlawanan nasional ini disetujui oleh Presiden, ini akan menjadi sejarah pengusulan gelar tercepat, mengingat penganugerahan gelar kepahlawanan ini biasanya cukup lama, butuh bukti yang akurat kajian mendalam.

“Dalam sejarah pengusulan gelar pahlawan nasional jika ini nanti digoalkan oleh Presiden, ini akan menjadi yang tercepat, karena pengusulan pahlawan nasional seperti KH As’ad Syamsul Arifin itu butuh waktu sekitar tiga tahun lamanya,” katanya.

Diketahui pengajuan gelar kepahlawanan ini diusulkan mulai tahun 2019. Prosesnya sedikit terhambat dikarenakan adanya pandemi, serta kurangnya bukti autentik yang mendukung dalam pengkajian dan pengajuan untuk menjadi syarat pengajuan gelar kepahlawanan tersebut.

Narasumber dalam acara Seminar Nasional ini diisi oleh Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Kholil Dr. Muhaemin, M.Pd. dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof. Dr. KH Nasarudin Umar.

Pewarta: Abdul Manap
 

Nasional Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×