• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Minggu, 23 Juni 2024

Nasional

Kiai Jadul Analogikan Pembentukan Komite Hijaz dan NU Ibarat Ayam dan Telur

Kiai Jadul Analogikan Pembentukan Komite Hijaz dan NU Ibarat Ayam dan Telur
Ketua Lesbumi KH Muhammad Jadul Maula. (Foto: NU Online)
Ketua Lesbumi KH Muhammad Jadul Maula. (Foto: NU Online)

Surabaya, NU Online Jabar

Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PBNU dan Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) PBNU menggelar Pameran Foto dan Dokumen Komite Hijaz di Hotel Shangri-La, Surabaya, Jawa Timur pada Ahad sampai Senin (5-6/2/2023). 


Gelaran ini menampilkan gabungan foto dan dokumentasi perjalanan ulama pendiri Nahdlatul Ulama ke tanah Hijaz atau Arab Saudi.


Ketua Lesbumi KH Muhammad Jadul Maula menyampaikan bahwa Pameran Komite Hijaz ini menggambarkan perjalanan KH Abdul Wahab Chasbullah dan Syekh Ghanaim al-Amir sebagai utusan resmi NU untuk bertemu Raja Ibnu Saud tahun 1928. 


“Paling tidak, membuka satu ingatan, membuka satu semacam komitmen dan rasa syukur terima kasih kepada para muassis atas perjuangannya, ketika digambarkan naik kapalnya, ketemu banyak orang,” katanya saat memberikan sambutan pada pembukaan Pameran Komite Hijaz di Hotel Shangri-La Surabaya, Jawa Timur pada Ahad (5/2/2023). 


Kiai Jadul menjelaskan bahwa keberangkatan ke Hijaz itu dilakukan dengan biaya sendiri. Hal itu juga menggambarkan keikhlasan KH Abdul Wahab Chasbullah dan kuatnya komitmen perjuangan, visinya jauh ke depan. “Mudah-mudahan ini mengambil spirit dan inspirasi, ngalap barokahnya,” katanya. 


Kiai Jadul menyampaikan bahwa pameran ini memberikan gambaran mulai dari konteks internasional kemenangan Raja Ibnu Saud ketika memasuki Makkah.   


Kemudian, ada perdebatan mazhab hingga proses rapat pemberangkatan KH Abdul Wahab Chasbullah dari Pelabuhan Tanjung Perak, transit di Singapura dan bertemu ulama Ahlussunnah wal Jamaah di sana hingga kepulangannya melalui Pelabuhan Tanjung Priok. 


Kiai Jadul menceritakan bahwa para ulama di Singapura itu prihatin terhadap masa depan dari paham Ahlussunnah wal Jamaah. Namun, mereka tidak berani untuk berbicara kepada para ulama Hijaz. Karenanya, pertanyaan para ulama Singapura ke Kiai Wahab, “Apakah Anda tidak khawatir terhadap nyawa Anda sendiri?” 


Kiai Jadul menegaskan bahwa hal yang paling penting dilakukan Kiai Wahab adalah bertindak dan menolak diam. Soal keberhasilannya itu takdir. “Berhasil tidak itu takdir. Yang paling penting adalah menghilangkan sikap diam. Melawan menolak sikap diam. Untuk keamanan fisik, beliau ahli silat,” katanya. 


Surat yang disampaikan ke Raja Ibnu Saud di antaranya meminta surat balasan mengenai penerimaan terhadapnya dan jawaban atas berbagai poin yang dimintanya, seperti kebebasan bermazhab. “Lima poin, di antaranya meminta jawaban tertulis,” katanya. 


Sepulang dari Makkah, Kiai Wahab pulang melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Kemudian di Jakarta, ia menemui ulama untuk menceritakan perjalanannya. Kemudian dari Jakarta ke Yogyakarta, Jombang, sampai ke Surabaya untuk rapat resmi PBNU. 


Kiai Jadul mengibaratkan kelekatan dari segi historis pembentukan Komite Hijaz dan organisasi Nadhlatul Ulama bagaikan ayam dan telur. “Pembentukan Komite Hijaz dan Nahdlatul Ulama ini seperti ayam dan telur,” kata Kiai Jadul kepada NU Online di lokasi pameran yang digelar di Hotel Shangri-La, Surabaya, Jawa Timur. 


Ia menjabarkan, Komite Hijaz merupakan cikal bakal kelahiran NU. Komite ini dibentuk dan dimotori oleh KH Abdul Wahab Hasbullah atas restu Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari. Tujuan Komite Hijaz sendiri adalah mengirimkan delegasi Ulama Indonesia menghadap Raja Arab Saudi Ibnu Sa’ud. Misi yang diemban para delegasi Komite Hijaz salah satunya adalah tentang menyampaikan risalah mengenai kebebasan bermazhab. 


Sementara itu, kata Kiai Jadul, untuk memberangkatkan utusan ulama tersebut harus melalui sebuah lembaga formal yang resmi dan diakui. Oleh karena belum adanya organisasi induk yang menaungi delegasi tersebut, lanjutnya, maka pada 31 Januari 1962 para ulama berembug dan membentuk organisasi induk untuk menaungi komite Hijaz. 


Organisasi itu kini dikenal dengan Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama. “Pertama digagas perlunya utusan ke tanah Hijaz untuk menyampaikan kebebasan bermazhab. Tapi untuk menyampaikan utusan ini perlu legal formal lembaga yang mengutus. Kalau tidak mewakili lembaga yang resmi, tidak dianggap,” jabarnya. “Oleh karena itulah dibentuk Nahdlatul Ulama,” tambah Kiai Jadul. 


Maka itu, besar ia berharap nantinya pameran serupa dapat berlanjut dan diselenggarakan di beberapa kota lain, dengan tujuan dapat menanamkan cita-cita peradaban pada warga NU atau Nahdliyin. 


Sebagai informasi, penyelenggaraan pameran foto dan dokumen Komite Hijaz digelar selama dua hari sejak Ahad (5/2/2023) hingga Sabtu (6/2/2023) di Ballroom Hotel Shangri-la. Terdapat sedikitnya 40 gabungan foto dan manuskrip sejarah perjalanan Komite Hijaz, lengkap dengan keterangan yang disematkan di tiap-tiap foto dan dokumen.


Sumber: NU Online


Nasional Terbaru