Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ajengan Yayan: Selain Soal Agama, Santri Harus Kuasai Ilmu Pengetahuan Modern

Ajengan Yayan: Selain Soal Agama, Santri Harus Kuasai Ilmu Pengetahuan Modern
Direktur Aswaja Center Tasikmalaya, KH Yayan Bunyamin (foto: NU Online Jabar)
Direktur Aswaja Center Tasikmalaya, KH Yayan Bunyamin (foto: NU Online Jabar)

Garut, NU Online Jabar
Hidup di dunia tidak bisa lepas dari peran penting lmu dan agama dalam menjaga keseimbangan di dunia. Hal tersebut pula yang menjadikan banyaknya perubahan dunia yang mendasar untuk bisa lebih baik, dan terciptanya peradaban yang berkemajuan.


Namun jika hanya satu yang menonjol diantara ilmu agama dan ilmu pengetahuan, maka akan terjadi sebuah ketimpangan yang akan mengikis kemanusiaan yang pada akhirnya berakhir pada pengorbanan nyawa manusia itu sendiri.


Menurut Direktur Aswaja Center Tasikmalaya Ustadz Yayan Bunyamin mengungkapkan, bahwasaanya setiap enam abad sekali ada pergulatan antara agama dan ilmu pengetahuan (sains) yang terus bertempur. Dimana enam abad sebelum masehi, ilmu pengetahuan lebih menojol ketimbang agama, yang mana kita mengenal ada nama Aristoteles, Plato, Socrates, dan tokoh-tokoh filsuf lainnya.


Hal tersebut disampaikan saat kegiatan pengajian dalam rangka syukuran ngunduh mantu pernikahan KH Aceng Aum Umar Fahmi dengan Neneng Rohanah di Pondok Pesantren Fauzan, Komplek Fauzan RT/RW 05/05 Desa Sukaresmi, Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Garut, Senin (13/2/22) Malam.


Kemudian lanjut Kang Yayan sapaan akrabnya, pada abad pertama masehi, yakni dimulai dari kelahiran Yesus, agama mulai memiliki peran lebih dominan. 


“Pada masa itu, gereja-gereja yang berdiri memiliki peran untuk menentukan siapa yang harus dihukum. Sehingga sebelumnya tidak sedikit nyawa melayang karena mereka mengedepankan ilmu ketimbang agama,” katanya.


Pada enam abad kedua, yakni mulai abad ke enam sampai abad ke 13, karena lahirnya Nabi Muhammad Saw, agama dan ilmu pengetahuan dipadukan untuk kemaslahatan, sehingga tidak sedikit pada masa itu, para ulama yang memiliki pemahaman agama, namun juga memiliki peran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan lainnya.


“Oleh karenanya, tidak sedikit kita mengenal tokoh-tokoh islam yang ahli dalam berbagai bidang, misalnya Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Ibnu Rush dalam bidang filsafat, ahli matematika yang menciptakan pithagoras, pembuat not nada dalam musik, dan tokoh-tokoh islam yang menghasilkan ilmu pengetahuan lainnya,” tuturnya.


Namun pada abad ke 13 agama di pasung dan sains menjadi Tuhan, akibatnya banyak manusia yang berfikir jauh, namun karena tidak dibimbing agama sehingga sains tersebut menghasilkan para ateis. 


“Selain menghasilkan para ateis, sains juga menjadi sebuah monster yang sangat menakutkan karena menjadikan harga diri dan nyawa manusia begitu murah dengan munculnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II,” ujar Kang Yayan.


“Masyarakat dunia harus di bimbing oleh agama, sehingga pada akhir abad ke 20 agama dan sains di satukan agar bisa menghargai nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana nilai-nilai kemanusiaan dalam Hak Asasi Manusia (HAM),” imbuhnya.


Kaitannya dengan hal tersebut, mengenai ilmu agama dan ilmu pengetahuan, di era saat ini para santri harus menjadi manusia modern, dimana ciri modern menurut Kang Yayan yaitu prosesnya singkat, namun hasil maksimal. 


“Para santri harus memikirkan agar bisa memanfaatkan waktu yang singkat dalam belajar namun hasilnya dapat maksimal,” ujarnya


Iapun mengajak para santri agar bisa mengantisipasi kekerasan atas nama agama, karena hal tersebut sama dengan teroris. 


Lanjutnya, Kang Yayan juga mengkritisi para santri karena mereka satu langkah ketinggalan daripada para teroris, dimana para teroris menginjak-injak agama dengan teknologi modern untuk mencuci otak masyarakat dunia melalui teknologi modern tersebut. Hasilnya banyak masyarakat yang menjadi pengikut teroris, hal demikian karena mereka mampu mencuci otak sampai di bai’at secara daring melalui teknologi internet.


“kita masih melakukan kaderisasi secara konvensional (melalui tatap muka atau pertemuan-pertemuan langsung), dibanding mereka (teroris) mulai mencuci otak dengan teknologi. Sehingga para santri dituntut untuk mampu menggabungkan pemahaman agama dengan ilmu pengetahun untuk mengantisipasi hal tersebut,” jelasnya.


Menurut Kang Yayan, para teroris sudah mulai membuat markas Metaverse yang tidak bisa di deteksi. Sehingga Tantangan santri di dunia modern saat ini harus mampu menggunakan teknologi untuk menyampaikan nilai-nilai islam yang ramah kepada masyarakat dunia tentang pentingnya nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijaga oleh semuanya.


“Karena para teroris mencuci otak masyarakat, sehingga bisa mengkafirkan guru atau orang tuanya sendiri, bahkan merasa bangga jika membunuh mereka. Ini membuktikan bahwa pentingnya nilai-nilai kemanusian dalam menyampaikan pemahaman Islam Ahlussunnah wal Jamaah secara hanif (lembut) dan benar sehingga mampu membuat masyarakat dunia bisa sadar akan pentingnya hal tersebut,” tegasnya.


“Kitapun harus bersyukur, karena saat ini pesantren mulai berbenah diri dengan memiliki Lembaga Pendidikan formal untuk memfasilitasi santri dalam mengantisipasi hal-hal seperti itu. Jika kita tidak mau berbenah maka suatu saat faham islam ahlussunnah waljamaah bisa punah,” pungkasnya.


​​​​​​​Pewarta: Muhammad Salim
Editor: Abdul Manap

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×