Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pejalan yang Berhenti di Bawah Pohon Trembesi

Pejalan yang Berhenti di Bawah Pohon Trembesi
(Ilustrasi: NUJO)
(Ilustrasi: NUJO)

Oleh Nasihin
Dia menulis puisi di malam setelah hujan, gemuruh air sungai beradu dengan batu, rumpun bambu masih tegak berdiri sejak puluhan tahun lalu. Entah air hujan yang mana ketika malam hampir larut, kadangkala dia bercerita pahitnya hidup, tersenyum kembali saat mengenang masa lalu kemudian berdoa untuk anaknya yang gelisah malam itu.

Dia menulis syair saat demam sedang melanda, syair yang tak jelas untuk siapa. Mungkin untuk dirinya saat hilang semangat hidup, saat anaknya terlelap dibuai malam. 

Tuhan aku seperti di ujung jurang
Hilang makna tentang hidup
Tak mengenal diri dan Engkau
Hilangkan nestapa ini.

Serat naskah masa lalu telah dibacanya, syair-syair cinta ditatapnya, mencoba diresapi walaupun hati sedang gamang, sekedar mencari motivasi hidup kala sendiri. Melafalkan al-Fatihah dengan mata tertutup di tengah gelisah, kembali menatap langit yang gelap setelah hujan.

Mengingat ujian yang telah berlalu, mencoba menjalani masa depan yang entah seperti apa. Hatinya berbicara seperti angin tak bersuara, pengetahuan tak membuatnya menjadi pintar, malah semakin bertumpuk misteri kehidupan. Waktu tak bisa diputar, tak mungkin kembali ke masa lalu.

Berdialog dengan tulisan, karena orang-orang berharap dia selalu gembira tak peduli jiwanya sedang terkubur tanah yang dalam. Terus memutar jarum jam yang tak bisa berhenti, dari Muharam menjelang Rabiul Awal.

Wabah penyakit mulai mereda, peperangan gencatan senjata, lantunan pujian ramai bergema.
Ribuan cerita orang-orang, hari ini menguap diperdaya media yang hitam putih. Cerita tentang kekayaan di televisi membuai penonton miskin di jeda iklan yang perkasa. Petinggi tersenyum malu, orang susah bersedih dagangannya belum laku.

Bangunan tua begitu megah, penuh filosofi yang hilang makna, hanya memuja di tiap kata tak perduli menjadi ambigu.

Kesalahan menjadi wajar, kebaikan menjadi aneh, mungkin ini akhir cerita manusia, setiap zaman harus berbeda. Pembaca menjadi seperti orang mual, memakan berita kemudian dimuntahkan tanpa difikir dan diresapi, tak peduli berita itu menjadi konsumsi yang menembak kepala kaum awam. Padahal ilmu itu informasi yang dicerna, diresapi menjadi rasa dan pengetahuan.

Jalan bijak dan arif sudah sepi dari pejalan, terbuai modern dan hiruk pikuk, dicambuk jam kerja dan tugas yang melindas, jabatan dan populer jadi jalan yang ramai, walau harus sikut menyikut dan suap menyuap.

Akhirnya akal jadi abu-abu, fikiran gampang terbakar, nalar berbalut egois, sampai pada titik jenuh dan putus asa. Sang pejalan menjadi buntu, kemudian bertanya pada kaum bijak bestari "Hamba kalah dan terlindas, diperbudak keinginan dan keserakahan, apa yang bisa menolong hamba?".

Sang bijak berkata "Diamlah dalam hening, sepikan pikiran dan hatimu dari apapun, kosongkan dan tenggelamlah di lautan kepasrahan, dan biarkan Dia melempar cahaya-Nya menembus lorong-lorong ke Aku-an mu, maka sebutlah nama-Nya berulang-ulang ketika malam senyap, maka terobatilah sakitmu dan terbangun dari tidur panjangmu".

Hari berlalu menjelang senja, ketika dia menatapku lembut, sejenak kemudian berlalu untuk merebahkan badan di tanah yang dia cintai dan berhenti berjalan di bawah pohon trembesi.

Penulis adalah salah satu pengurus Lesbumi PCNU Kabupaten Bandung

Terkait

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×