Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Jejak Kota Tua di Garut (2): Leles

Jejak Kota Tua di Garut (2): Leles
Jejak Kota Tua di Garut (2): Leles. (Foto: Rudi Sirojudin Abas).
Jejak Kota Tua di Garut (2): Leles. (Foto: Rudi Sirojudin Abas).

Kedua, hal menarik dari keberadaan kota Leles adalah akses jalan menuju wilayah Leles. Jika dicermati, akses jalan menuju kota Kecamatan Leles mengikuti pola yang khas pula. Paling tidak, terdapat tujuh akses jalan yang dapat ditempuh masyarakat dari luar kota jika akan menuju wilayah kota Kecamatan Leles. 


Bagi mereka yang datang dari arah Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi), Sukabumi, Cianjur, Bandung dan sekitarnya dapat menempuh tiga akses jalan. Pertama, melalui jalur Nagreg (Bandung) menuju Kecamatan Kadungora yang kemudian sampai di kota Kecamatan Leles. Kedua, melalui jalur Majalaya (Bandung) menuju Cijapati yang kemudian sampai di Kecamatan Kadungora sehingga akhirnya sampai pula di pusat kota Kecamatan Leles.


Ketiga, melalui jalur Majalaya (Bandung)menuju Kampung Patrol (Desa Dano) yang kemudian akan sampai ke pusat kota Kecamatan Leles setelah melalui jalan Desa Lembang-Cipancar-Kandang-dan Salamnunggal. 


Perlu diketahui, ketiga akses jalan menuju pusat kota Kecamatan Leles yang telah disebut di atas masing-masing berasal dari tiga arah yang berbeda. Akses masuk pertama dari arah Nagreg (Bandung) berasal dari arah utara, akses masuk kedua dari arah Majalaya (Bandung)-Cijapati berasal dari arah barat laut, dan akses masuk ketiga dari arah Majalaya (Bandung)-Kampung Patrol (Desa Dano) berasal dari arah barat munuju pusat kota Kecamatan Leles.


Sementara, bagi mereka yang berasal dari wilayah Jawa-Ciamis-Tasikmalaya, untuk sampai ke pusat kota Kecamatan Leles dapat mengambil tiga akses jalan pula. Pertama, sesampai di wilayah jalan raya pasar Limbangan, dapat mengambil arah jalan ke sebelah kiri menuju jalan Kecamatan Cibiuk-Leuwigoong-Banyuresmi. Sesampai di pertigaan jalan Leuwigoong-Banyuresmi (Jl. H Hasan Arif), belok ke kanan menuju arah barat menyusur jalan Pasopati yang kemudian akan sampai ke pusat kota Kecamatan Leles (Perempatan Pasar Leles). 


Bagi mereka yang berasal dari wilayah Jawa-Ciamis-Tasikmalaya yang menggunakan arah jalur Limbangan pun dapat mengambil arah dari Kecamatan Cibiuk belok ke kanan menyusur arah jalan gunung Harumansari-Cisaat-Cikembulan yang kemudian akan sampai ke Kampung Pulo Cangkuang dan juga ke pusat kota Kecamatan Leles. Selain menggunakan arah Harumansari-Cisaat-Cikembulan, mereka juga sesampai di pasar Leuwigoong dapat belok ke kanan mengambil jalan Cikoang Raya-Sindangsari-Karangsari yang kemudian menuju Kampung Pulo Cangkuang.


Akses ketiga bagi mereka yang berasal dari wilayah Jawa-Ciamis-Tasikmalaya yang mengambil jalur selatan Singaparna-Garut, sesampai di kota Garut, tinggal menyusur jalan Tarogong (Jl. Otista) menuju arah jalan Garut-Bandung yang kemudian akan sampai di pusat kota Kecamatan Leles. Akses masuk melalui arah ini dapat juga dipakai oleh masyarakat yang berasal dari wilayah Garut kota maupun wilayah Garut selatan. 


Sama seperti halnya akses masuk dari wilayah Jabodetabek, Sukabumi,Cianjur, Bandung, dan sekitarnya, akses masuk menuju pusat kota Kecamatan Leles dari wilayah Jawa-Ciamis-Tasikmalaya baik dari arah selatan dan utara masing-masing berasal dari arah yang berbeda. 


Akses masuk ke pusat kota Kecamatan Leles dari arah jalan Leuwigoong-Banyuresmi-Pasopati berasal dari arah timur. Sementara, arah jalan Harumansari-Cisaat-Cikembulan atau Cikoang Raya-Sindangsari-Karangsari berasal dari arah timur-laut. Sedangkan akses masuk ke pusat kota Kecamatan Leles dari arah Tasik-Garut kota atau Garut Selatan berasal dari arah selatan. 


Jika begitu, maka sudah ada enam arah akses masuk menuju pusat kota Kecamatan Leles dari berbagai daerah, yaitu arah utara, selatan, timur, barat, barat-laut, dan timur laut. Sementara, tersisa dua arah mata angin yang aksesnya belum disebut, yaitu arah tenggara dan barat-daya.
Akses jalan menuju pusat kota Kecamatan Leles dari arah tenggara dapat ditempuh bagi mereka yang berasal dari Kecamatan Banyuresmi-Leuwigoong di Desa Margacinta menuju Desa Sukarame-Margaluyu (Leles). Sementara untuk akses jalan dari arah barat daya tidak ada. Yang ada hanya ada gunung Gede yang menjulang tinggi menghadap ke arah pusat kota Kecamatan Leles.


Jika diamati, maka hampir seluruh delapan arah mata angin (utara-selatan, timur-barat, tenggara-barat laut,barat daya-timur laut) yang ada dapat digunakan sebagai akses untuk masuk menuju pusat kota Kecamatan Leles. Kecuali arah barat daya yang tidak mempuanyai akses masuk. Dengan demikian terdapat tujuh akses arah yang dapat digunakan untuk menuju pusat kota Kecamatan Leles.


Lalu apa maknanya, hampir semua delapan arah mata angin (kecuali arah tenggara) dapat menjadi akses untuk menuju pusat kota Kecamatan Leles? Sama seperti penjelasan sebelumnya, bahwa konsep papat kalimo pancernya orang Jawa yang kemungkinan besar menstruktur penempatan akses masuk ke pusat kota Kecamatan Leles.


Namun, penulis lebih tertarik pada jumlah tujuh akses masuk menuju pusat kota Kecamatan Leles. Bahwa bilangan tujuh merupakan gejala primordial yang hampir merata di setiap kepercayaan di Indonesia.  Masihkan kita ingat tentang mitos-mitos tujuh pohaci (dewi sri), tujuh batara/penguasa (dewa), tujuh macam jenis bunga, rujak tujuh bulanan yang berkembang dalam berbagai kepercayaan seperti Hindu, Budha, Jawa, maupun Sunda? 


Begitu pula dalam  agama Islam  dikenal adanya mistis bilangan tujuh seperti pada penciptaan  tujuh lapis langit-bumi, tujuh malam-tujuh hari, tujuh ayat alfatihah, tujuh air suci dan mensucikan, tujuh neraka, tujuh takbir pertama dalam shalat hari raya (ied), pesta kelahiran (aqiqah) bayi pada hari ketujuh, serta bilangan-bilangan tujuh yang lainnya. 


Dengan demikian, angka tujuh menjadi sebuah angka penting dalam kehidupan masyarakat mistis di Indonesia. Termasuk dalam kehidupan masyarakat Sunda. Dan ini pula lah yang dipakai oleh masyarakat adat Kampung Pulo Cangkuang yang menata bangunannya dengan berjumlahkan hanya tujuh bangunan. Enam bangunan rumah adat, dan satu lagi bangunan Masjid.


Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti kelahiran Garut. Saat ini tinggal di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles-Garut.

Terkait

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×