• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 21 Februari 2024

Khutbah

KHUTBAH JUMAT

Khutbah Jumat Singkat: Membangun Semangat Kepahlawanan

Khutbah Jumat Singkat: Membangun Semangat Kepahlawanan
Khutbah Jum’at Singkat: Membangun Semangat Kepahlawanan
Khutbah Jum’at Singkat: Membangun Semangat Kepahlawanan

Khutbah I


الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الحُرِّيَّةَ وَالاسْتِقْلَالَ حَقًّا لِبَنِي الإِنْسَانِ، وَأَمَلاً مَقْبُوْلاً لَامَرَدَّ لَهُ لِأَبْنَاءِ الأَوْطَان، والصّلاَةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنا مُحَمَّدٍ الَّذِي حَرَّرَ البَشَرِيَّة من ظُلَمِاتِ الاسْتعْمَار وحَوَالِكِ العبودية لِغَيْرِ الملك الدّيَان. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 


Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullâh, 


Kemarin kita baru saja melewati salah satu hari yang cukup penting dan bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia, yakni Hari Pahlawan 10 November 1945. Pada hari itu, tujuh puluh tujuh lalu, segenap rakyat Indonesia dari berbagai kalangan, termasuk santri dan ulama yang didorong oleh Fatwa Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama, terlibat pertempuran besar di Surabaya, demi mempertahankan kedaulatan negara yang baru saja merdeka, dari upaya Belanda dan sekutunya yang hendak kembali menjajah negeri kita. 


Kemerdekaan bangsa kita bukanlah hadiah atau pemberian dari Jepang maupun Belanda. Akan tetapi atas berkat rahmat dan pertolongan Allah SWT yang ditebus dengan cucuran darah, keringat dan air mata. Para pejuang dari berbagai elemen bangsa, termasuk para santri dan ulama itu bersatu dan berjuang mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka tidak memikirkan sama sekali apakah anaknya akan menjadi yatim dan istrinya menjadi janda. Yang terpikir di benak mereka hanyalah berjuang untuk meraih satu kata: merdeka. 


Sayyidina Umar bin Khathab dalam hal ini mengatakan:


مَتَى اسْتَعْبَدْتُم النَّاسَ وَقَدْ وَلَدَتْهُمْ أُمَّهَاتُهُم أَحْرَارًا 


Artinya: “Sejak kapan kalian memperbudak (menjajah) manusia, sedangkan ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka sebagai orang-orang yang merdeka.” 


Syekh Musthofa Al-Ghalayini dalam kitabnya ‘Idzatun Nasyi’in juga menyatakan:


أَنَّ لِلأُمَمِ أَجَلًا وَأَجَلُ كُلِّ أمَّةٍ يَوْمَ تَفْقَدُ حُرِّيَّتُهَا 


Artinya: “Setiap bangsa memilika ajal yang menjadi akhir (kematiannya), dan ajal setiap bangsa itu adalah ketika mereka kehilangan kemerdekaannya.” 


Hadirin sidang Jum'at rahimakumullâh, 


Pada momentum peringatan hari pahlawan ini, marilah sejenak kita mengingat kembali kisah perang Khandaq, perang yang terjadi pada masa Rasulullah SAW. Pada peristiwa perang Khandaq, umat Islam didera sejumlah kesulitan karena minimnya jumlah pasukan dan perlengkapan. Karena kalah jumlah, Rasulullah SAW atas usul sahabat Salman Al-Farisi (Persia) akhirnya membuat jalur pertahanan berupa parit (Khandaq). Saat membuat parit itu Rasulullah SAW ikut terjun langsung.


Setelah berhari-hari membuat parit persediaan makanan di Madinah pun terus menipis, sehingga para sahabat banyak menderita kelaparan. Untuk menghilangkan rasa lapar, para sahabat mengganjal perut mereka dengan batu. Demi sebuah kemerdekaan mereka rela menahan lapar.


Suatu saat ada seorang sahabat yang karena sudah tidak kuat dengan rasa laparnya menghadap kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, kami sudah mengganjal perut kami dengan satu batu, tapi kami tetap tidak kuat menahannya.” Rasulullah SAW pun tersenyum seraya memperlihatkan ikatan di perut Rasulullah SAW, ternyata sudah ada 2 batu terikat di perut beliau. Sehingga saat para sahabat merasa lapar, Rasulullah SAW sebenarnya lebih lapar dari semuanya. 


Inilah jiwa kepemimpinan sejati yang diajarkan oleh Rasulullah SAW yang saat ini sudah mulai jarang kita temukan. Apa yang dialami dan dilakukan oleh Rasulullah beserta sahabatnya itu merupakan contoh kecil tentang betapa mahalnya sebuah kemerdekaan: kemerdekaan untuk memeluk agama, kemerdekaan untuk terpenuhinya kebutuhan dasar, dan kemerdekaan hidup tenang dan damai. Untuk meraih itu semua, mereka harus rela mengorbankan segalanya, mulai dari tenaga, pikiran, fisik, hingga nyawa. Demikian pula yang dilakukan para pahlawan bangsa kita. 


Hadirin jamaah Jum'at rahimakumullâh,


Membangun jiwa kepahlawanan, kepedulian dan pengorbanan untuk kepentingan diri kita sendiri mungkin tidaklah sulit, tetapi membangun jiwa kepahlawanan dan pengorbanan untuk orang lain dan masyarakat itu bisa luar biasa sulitnya. Marilah sejenak kita renungkan firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab: 28-30. 


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29(


Artinya: “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah akan kuberikan kepadamu mut’ah (perhiasan) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhoan Allah dan Rosulnya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.” 


Berkaitan dengan ayat di atas, Ibnu ‘Asyur (1879-1973), seorang mufassir modern dari Tunisia, dalam kitab tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir menjelaskan, asbabun nuzul atau latar belakang turunnya ayat tersebut adalah, saat Bani Quraidlah berhasil ditaklukan, kaum Muslimin mendapat harta ghanimah (rampasan perang) yang sangat banyak, sehingga para istri Rasulullah SAW menganggap beliau dalam keadaan berlimpah harta. Maka kemudian istri-istri Nabi itu pun meminta nafkah lebih kepada Rasulullah SAW. Dan kemudian turunlah ayat tersebut yang menyindir istri-istri Nabi, apakah mereka lebih memilih kehidupan dunia atau kehidupan akhirat.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,


Belajar dari sekelumit sejarah di atas, dan dengan semangat hari pahlawan ini, marilah kita bangkitkan jiwa pengorbanan, kepeduluan dan kepahlawanan dalam diri kita untuk berjuang dan berkorban demi kebaikan masyarakat, kemajuan agama, serta nusa dan bangsa. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kepada negeri kita tercinta kebaikan dan keberkahan dalam berbagai aspek kehidupan, Aamin ya Rabbal ‘Alamin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah II:


الحمد لله الذي خلَق الإنسان من سلالة من طين. ثمّ جعَله نُطفَة في قرار مَكين. ثمّ نقَله حتّى تكامُلَ خَلْقَه فتبارك اللهُ أحسنُ الخالقين. أشهد أن لا إله إلاّ الله وحده لا شريك له مخلصا له الدين. وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله المبعوث رحمةً للعالمين. صلّى الله عليه وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين. وسلَّم تسليما كثيرا. أما بعد: فيأيّها الناس اتّقوا الله، وافعلوا الخيرات واجتنبوا عن السيئات، واعلموا أنَّ الله أمَركم بأمرٍ بدأ فيه بنفسه وثـنّى بملآئكته بقدسه, وقال تعالى: إنَّ الله وملآئكته يصلّون على النبى يآأيها الذين آمنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما. اللهمّ صلّ على سيدنا محمد وعلى أنبيآئك ورُسُلِك وملآئكتِك المقرّبين, وارضَ اللهمّ عن الخلفاء الراشدين أبي بكر وعمر وعثمان وعليّ وعن بقيّة الصحابة والتابعين وتابعي التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين, وارض عنّا معهم برحمتك ياأرحم الراحمين.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوات. اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاً طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ. ربّنا آتنا في الدّنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النّار. والحمد لله رب العالمين. عبادالله، إنّ الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلّكم تذكّرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم واسئلوه من فضله يعطكم ولذكرالله اكبر.


Mohamad Kholil, Ketua DKM Masjid Jami’ Al-Ikhlas Dukuhjeruk dan Wakil Ketua Pengurus Cabang Lembaga Dakwah NU Indramayu
 


Khutbah Terbaru