Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Khutbah Idul Fitri 2022 Singkat: Agama Kasih Sayang

Khutbah Idul Fitri 2022 Singkat: Agama Kasih Sayang
Ilustrasi: NUO
Ilustrasi: NUO

Khutbah I


الله أكبر الله أكبر الله أكبر . الله أكبر الله أكبر الله اكبر  الله أكبر ولله الحمد.الله أكبر كبيرا والحمدلله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد. اَلْحَمْدُ للهِ الّذِى أَلَّفَ بَيْنَ عَجَائِبِ الْفِطَر. الْغَالِبِ عَلَى الْكَوْنِ بِمَا قَضَى وَقَدّر ,قَسَمَ الْمَوَاهِبَ عَلَى الْبَشَر: نَافِذٌ مَشِيْئَتُه , وَانْقَادَ كُلُّ جَبَّارٍ فِى زِمَامِ الذُّلِّ بِحُسْنِ تَقْدِيْرِه , وَاسْتَكَانَ كُلُّ كَائِنٍ فِى مَيَادِيْنِ صُنْعِهِ وَتَقْدِيْرِه. أشهد ان لااله الا الله وحده لا شريك له, وأشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله الْمَبْعوث رَحْمَةً لِجَمِيْعِ الْخَلْق وَ اِلَى مَكَارِمِ الْاَخْلَاق, البَاعِثُ بِحُسْنِ الْعَمَلْ , النَّاهِى عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى وَالزَّلَلْ. اللهم صل وسلم على سيدنا ومولانا محمد وعلى آله وأصحابه , وسلم تسليما كثيرا. يا ايها الذي آمنوا اتقوا الله حقا تقاته ولا تمو تن إلا وأنتم مسلمون.


Allah Akbar x 3 Allah Akbar Walillahilhamd


Jamaah Idul Fitri Rahimakumullah


Puji  dan Syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Sungguh sangatlah besar  dan agung nikmat dan karunia yang diberikan-Nya kepada kita. Berkat anugerah Allah sampai hari ini kita tetap dalam keimanan dan keislaman kita. Kita juga bisa bersama-sama lagi di tempat yang mulia ini dalam keadaan sehat wal afiat dan dalam persaudaraan yang penuh kehangatan. Shalawat dan Salam semoga dilimpahkan kepada Jungjungan kita Nabi besar Muhammad Saw dan keluarganya. 


Allah Akbar x 3 Walillahilhamd  


Jamaah shalat Idul Fitri yang berbahagia


Alangkah indahnya pagi ini. Kaum muslim di seluruh dunia, dengan suka cita serentak menyenandungkan puja-puji kepada Allah swt, sebagai ekspresi rasa syukur dan terima kasih kepada Allah atas anugerah-Nya yang besar.   


Hari ini kita baru saja selesai  melaksanakan perintah dan anjuran Allah,  berpuasa sebulan lamanya, shalat tarawih, berzikir, membaca kitab suci-Nya dan hal-hal yang baik yang lain. 
Melalui Puasa Allah melatih kita untuk sabar dalam menjalani hidup ini sampai tiba waktunya kita kembali kepada-Nya. 


Melalui puasa Allah mendidik kita mampu mengendalikan diri dari sifat egoisme, marah, godaan hawa nafsu, dan sifat-sifat lain yang menjerumuskan kita ke dalam neraka. Melalui Puasa pula Allah mendidik kita agar peka terhadap mereka yang hidupnya kurang beruntung, yang menderita dan yang sengsara.. Lebih utama dari semuanya, dengan puasa, diharapkan tertanam dalam diri kita kesadaran bahwa Allah senantiasa dekat dan bersama kita kapan saja dan di mana saja. Ketahuilah bahwa Allah SWT senantiasa bersama kita, mengawasi, mencatat seluruh gerak hati dan tindakan kita di manapun kita berada. Allah mengatakan :


“Wa Huwa Ma’akum Ainama Kuntum” (Dan Allah bersamamu di manapun kamu berada). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu rahasiakan dalam hati dan apa yang kamu tampakkan.


Semua ajaran dalam puasa itu niscaya bermanfaat untuk diri kita sendiri dan bagi kehidupan bersama kita. Maka sungguh sangatlah patut jika segera sesudah puasa ditunaikan, orang-orang yang beriman mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih yang sebesar-besarnya dengan mengucapkan Takbir, Tahmid dan Tasbih ke hadirat Allah dalam suasana hati yang bahagia. 


Allah Akbar x 3 Walillah al Hamd


Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah


Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Pesan kerahmatan Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam baik al Qur-an maupun hadits. Kata rahmah, rahmân, rahîm yang berarti welas-asih, dan derivasinya disebut berulang-ulang dalam jumlah yang begitu besar, lebih dari 90 ayat. Bahkan Rahmân dan Rahîm adalah nama dan sifat Tuhan sendiri. Allah sendiri menyatakan :


كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَة


“Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya Kasih Sayang,” [QS. Al-An’am (6):54]


Al-Qur`an dengan sangat tegas menyebutkan tentang missi kerahmaan ini, “Wa mâ arsalnâka illâ rahmatan li al ‘âlamin,” [QS. al-Anbiya` (21): 107]. Artinya, “Aku tidak mengutusmu (hai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi selain Tuhan.” 


Ibn al-Manzhur, ahli bahasa terkemuka, mengatakan bahwa kata rahmat mengandung arti yang luas. Ia meliputi arti al-riqa (kepekaan hati), al-ta’âthuf (kelembutan) dan al-maghfirah (pemaaf).
Dan Rahmat atau Kasih-Sayang Tuhan sangatlah luas. Al-Qur`an menegaskan:


وَرَحْمَتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَيْئٍ


“Kasih sayang-Ku meliputi segala hal,” [QS. al-A’râf (7): 156].


Ibn Abbas, sahabat Nabi, mengatakan bahwa kerahmatan atau Kasih-sayang Allah meliputi orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Para ahli tafsir sepakat bahwa rahmat Allah mencakup untuk orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, orang baik (al-birr) dan yang jahat (al-fâjir) serta semua makhluk Allah. Allah menganugerahkan kepada mereka kehidupan dan menikmati anugerah-Nya yang berlimpah ruah di alam semesta ini.  


Hadirin, Rahimakumullah


Allah Akbar x 3 walillahilhamd

​​​​​​​
Fungsi kerahmatan ini ditegaskan dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. : “Innamâ bu’itstu li utammima makârim al-akhlâq” (Aku diutus Tuhan hanya untuk menyempurnakan akhlak yang luhur). Dalam sebuah kesempatan Nabi pernah ditanya mengapa tidak mengutuk orang-orang kafir Quraisy yang menolak ajakannya. Nabi saw. menjawab, “Aku tidak diutus untuk mengutuk orang, melainkan untuk memberi rahmat.”  


Para sahabat Nabi saw. menyatakan bahwa beliau orang yang tidak suka berkata-kata buruk, apalagi mengutuk atau merendahkan orang lain:


لم يَكُنْ رَسُوْلُ اللِه صلى الله عليه وسلم فَاحِشاً وَلَا لَعَّاناً وَلَا سَبَّاباً


“Nabi saw. bukanlah orang yang biasa mengucapkan kata-kata jorok, bukan pengutuk dan bukan pula tukang cacimaki,” [HR. Muslim dari Anas].


Tuhan telah memberikan kesaksian-Nya terhadap kepribadian Nabi saw. yang mulia dan agung tersebut. Allah mengatakan:


فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ .


“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya,” [QS. Ãli Imrân (3): 159].


Hadirin Rahimakumullah

​​​​​​​
Allah Akbar x 3 walillahilhamd

​​​​​​​
Firman Allah di atas menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Nabi kaum muslimin: Muhammad saw. adalah orang yang berhati lembut dan tidak berlaku kasar terhadap orang lain, termasuk terhadap mereka yang menolak agamanya.  Allah bahkan menegaskan bahwa  penyebaran agama (dakwah) dengan cara-cara kekerasan justru bukan hanya akan gagal tetapi juga membuat orang lari dari Islam, dan menimbulkan kebencian terhadapnya. Tuhan menyuruh Nabi saw. agar memaafkan mereka yang bertindak kasar terhadapnya. Perbedaan pandangan dalam masyarakat atas suatu masalah, menurut ayat tersebut tidak diselesaikan dengan cara-cara kekerasan dalam bentuk apapun melainkan dengan jalan musyawarah dan dialog yang baik.


Sebaliknya dakwah dengan cara menyakiti atau melukai hati orang-orang beriman adalah sebuah dosa besar. Al-Qur`an menyatakan:


وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا.


“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti hati orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, maka dia benar-benar telah melakukan kedustaan dan dosa yang nyata,” [QS. al-Ahzâb (33): 58].


Nabi bersabda :


عن ابى هريرة رضى الله عنه :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَا تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمُ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا.وَيُشِيْرُ اِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ اَنْ يَحْقِرَ اَخَاهُ الْمُسْلِمَ. كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ . رواه مسلم .


“Janganlah kamu saling mendengki, saling membenci dan saling bermusuhan. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Seorang muslim tidak boleh menganiaya saudaranya, tidak boleh menghina saudaranya dan tidak boleh menjelek-jelekan saudaranya/temannya. Taqwa itu ada di dalam hati dan di dalam sikap. Cukuplah seseorang dikatakan atau dinilai berperilaku buruk jika dia menghina saudaranya. Setiap muslim diharamkan melukai, diharamkan mengambil harta orang lain secara tidak sah dan diharamkan merendahkan kehormatan saudaranya yang muslim”. 


إِرْحَمُوا مَنْ فِى اْلاَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَآءِ. مَنْ لَا يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ


Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya akan disayangi Yang dilangit”.


اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Khutbah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×