Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Azan Juga Milik Perempuan

Azan Juga Milik Perempuan
Tiga anak perempuan saat hendak berjamaah (Foto: NU Online Jabar/Sri Melynda)
Tiga anak perempuan saat hendak berjamaah (Foto: NU Online Jabar/Sri Melynda)

Tiga anak perempuan berdiri di ambang pintu. Tak ada uluk salam, tak ada juga ketuk pintu karena pintu rumah itu terbuka. Mereka sepertinya tak perlu melakukan hal itu sebab keberadaan mereka langsung diketahui orang yang berada di dalam yaitu aku dan pemilik rumah, Okky Ayu Setyowati. Jarak mereka dengan kami pun tak lebih dari 2 meter. 

Sore itu, Rabu (4/8), waktu hampir menunjukkan pukul 17.00. Memang sudah jadwalnya mereka datang ke rumah itu. Namun, saat itu, aku bersama Okky sedang beraktivitas dalam kelas online tentang moderasi, sebuah program Kopri PMII Kuningan. Okky menjadi moderator melalui akunnya, sementara aku mengikuti dari akunku. 

Berdasarkan jadwal, kelas online akan selesai pukul 18.00. Sementara tiga anak itu sudah datang. Berarti dalam waktu sejam mereka akan terbiarkan.

Kebetulan pada kelas online itu, pembicara sedang menjelaskan materinya. Setiap akun peserta dalam posisi mute, termasuk akun Okky. Karena itulah dia menyempatkan diri untuk berbicara kepada tiga anak perempuan itu dengan menyarankan agar mereka datang sejam lagi. 

"Sayang, teteh (kakak)-nya masih ada kerjaan dulu. Ke sini aja lagi magrib," kata Okky.  

Tak ada jawaban dari mereka. Namun, mereka tak pergi jauh dari halaman. Aku dan sepertinya Okky, tak mengetahui jelas tentang aktivitas mereka selanjutnya karena fokus kembali ke kelas. Mereka bergeser dari ambang pintu itu ke halaman. Sampai menjelang maghrib, ketika kelas online kami hampir usai, mereka berada di situ.   

Tak lama kemudian, azan berkumandang berbarengan dengan berakhirnya kelas online kami. Okky kemudian mempersilakan ketiga gadis cilik itu ke dalam rumah. Lalu meminta mereka untuk segera mengambil air wudhu. 

Ketiga anak itu memakai mukena bagian atas, sementara bagian bawah mengenakan rok panjang. Masing-masing tangannya menenteng tas. Mungkin bagian bawah mukena ada di tas itu. Di antara mereka ada yang membawa Al-Qur’an dan buku. 

“Hari ini bagian Tasya azan dan Zahra komat (iqamah) ya,” titah Okky kepada mereka yang kini sudah bersiap Shalat Maghrib. 

Sementara aku dan Okky masih beres-beres dari kegiatan kelas online. Kemudian terdengar Tasya mengumandangkan azan dengan fasih. Lalu Zahra membaca iqamah dengan terbata-bata. Meski demikian, gadis berusia Taman Kanak-kanak  itu tetap berusaha merampungkannya. 

Okky menjadi imam kami. Selepas shalat berjamaah disambung dengan dzikir bersama. Lalu mereka mengaji. Okky mengajari mereka. Namun, tak lama kemudian, terdengar Okky meminta maaf terkait waktu belajar malam itu akan lebih singkat. 

Setelah kegiatan dengan anak-anak selesai, Okky dan aku memutuskan untuk pergi makan di sebuah tempat. Saat makan, aku duduk berhadapan dengannya.

Ngajarin anak-anak azan itu tuh karena emang di rumah cewek semua atau hal lain?” tanyaku. 

“Gerakan kesetaraan saja kalau perempuan juga bisa azan,” jawabnya.

Dia berpendapat, azan itu sangat maskulin. Belajar azan seolah milik laki-laki, sementara perempuan  tidak pernah diperintahkan azan. Hal ini berkaitan dengan kultur budaya Indonesia yang dinilai masih patriarki fasisme relijius. 

“Suara perempuan adalah aurat. Lho kok untuk kebaikan itu dibilang aurat. Azan itu untuk menyeru kita shalat, mengingatkan,” terangnya lagi. 

Bagi budaya bangsa ini, lanjutnya, azan merupakan hal yang tabu dilakukan perempuan. Jika dilakukan pasti akan menimbulkan konflik besar. Untuk menghindari hal tersebut, maka tak ada perempuan yang melakukan. 

Menurutnya, azan jangan jadi monopoli laki-laki. Selain untuk kesetaraan, belajar azan adalah kewajiban syariat yang harus dilaksanakan laki-laki maupun perempuan.

Ia kemudian membelokkan penjelasannya pada isu yang menurutku tidak berhubungan dengan azan. Menurutnya, saat ini angka kehamilan tidak diinginkan (KTD) meningkat. Banyak faktor penyebabnya mulai kasus perkosaan, free sex, pemaksaan hubungan seksual dan lain-lain. 

Namun, ternyata penjelasannya itu masih tetap berhubungan dengan azan. Menurutnya, karena kasus KTD itu, ada sebagian laki-laki tak bertanggung jawab. Tak jarang perempuan dipaksa untuk menggugurkan kandungan seolah tidak memperdulikan nasib calon bayi dan perempuan.

“Jika perempuan dengan kehamilan tidak diinginkan kemudian melahirkan, tetap kewajiban pertama bayi adalah mendengarkan pujian-pujian kepada Allah, dan biasanya kan azan” jelasnya. 

Ketika perempuan tertimpa kehamilan tidak diinginkan, dan laki-laki yang tak bertanggung jawab itu tak ada, perempuan bisa mengumandangkan azan untuk anaknya. 

“Ilmu pengetahuan adalah milik semua jenis kelamin,” pungkasnya. 

Pewarta: Sri Melynda
Editor: Abdullah Alawi 

Terkait

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×