Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Orkestra Hutan Hujan

Orkestra Hutan Hujan
Orkestra Hutan Hujan (Foto: Nasihin-NUJO)
Orkestra Hutan Hujan (Foto: Nasihin-NUJO)

Gunung berkabut, awan hitam bergerak cepat ditiup angin pegunungan. Daun-daun pinus berdesir, riuh seperti suara orkestra di gedung teater. Perlahan rintik hujan turun bersama naiknya uap tanah. Semakin lembab dan dingin.


Hujan semakin deras, titik-titik hujan bersatu membuat aliran di celah-celah tanah. Bunga-bunga kaliandra jatuh di aliran air yang mulai membesar. Sejenak, suara binatang hutan diam kemudian hening...... .


Puluhan aliran air hujan, bersatu di sungai yang mulai berwarna ke-coklatan. Tak ada yang menyaksikan peristiwa ini. Kisah hujan yang penuh drama dan skenario, yang hanya tercatat di siklus kehidupan.


Penghuni lembah bersuka-ria, bernyanyi, menari, suaranya terbang di sela-sela pohon Kaliptus, menempel di daun-daun yang basah. Para pelantun simponi berjejer menunggu hujan reda, bersiap menggetarkan sayap-sayap dengan nada tinggi.


Hujan mulai reda, aliran air mulai mengecil dan hilang, hanya tinggal tanah dan ranting-ranting yang basah. Pelantun simponi mulai bersuara, aliran sungai memainkan nada diatonis dan pentatonis. Se-isi hutan membuat irama alam, setiap musim di akhir tahun.


Belalang muncul dari balik daun, menoleh ke kiri-ke kanan, mengusap wajahnya yang sedikit basah. Kupu-kupu terbang kemudian hinggap di kembang anggrek berwarna putih, burung-burung kecil meloncat-loncat di dahan bersahutan menyambut langit yang mulai terbuka berwarna biru.


Hutan-hutan, lembah, ngarai, gunung akan tetap bernyanyi, membuat orkestra dan keheningan. Kehidupan berjalan semestinya, tanpa ada paksaan dan sesuai kehendak Tuhan. Sore menjelang malam, suara-suara mulai larut dalam temaram menuju gelap. Tak ada yang kebetulan, semua sudah diatur tanpa cela, hidup dan kehidupan.


"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS Al-An’am [6]: 59).


Nasihin, Penikmat Kegiatan Alam Bebas dan Sastra

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×