Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Lelaki Tua di Pesisir Selatan 

Lelaki Tua di Pesisir Selatan 
Lelaki Tua Pesisir Selatan (Foto: NUJO)
Lelaki Tua Pesisir Selatan (Foto: NUJO)

Oleh Nasihin

Ombak berderai di tepi pantai,
Angin berembus lemah-lembut. 
Puncak kelapa melambai-lambai,
di ruang angkasa awan bertabut. 


Burung terbang melayang-layang,
serunai berlagu alangkah terang.
Bersuka raya bersenang-senang,
lautan haru hijau terbentang.

(Amir Hamzah)


Hamparan Samudra Hindia, membentang luas tak berujung. Ombak menggelegar meng-hantam batu karang pesisir selatan. Ke sebelah barat, pantai sedikit landai, walaupun tetap berbahaya untuk berenang.


Selatan Jawa barat. Sebelah timur, ada dermaga dan tempat pelelangan ikan. Perahu terlihat kecil dari kejauhan merapat setelah melaut. Laut dan pantai yang bersih, indah. Cuaca hari ini tidak terlalu panas. Daun kelapa melambai tertiup angin, teringat lagu-lagu traveling yang mendayu atau lembutnya suara Veve Zulfikar melantunkan Sholawat.


"Dulu, beberapa tahun ke-belakang, pantai ini tak seindah ini kang," pandangan Ihsan layu memandang ombak. Mencoba mengingat peristiwa gempa tsunami , yang hampir menghancurkan kampungnya, bahkan merenggut nyawa salah seorang keluarganya.


"Anak Pamanku yang waktu itu melaut, tak kembali sampai saat ini kang." Ihsan menatap pasir yang ku-tulis memakai ranting.


"Dia melaut sendiri, San?"


"Tidak, dia bersama tiga temannya baru berangkat sesaat sebelum gempa terjadi."


"Saat itu kamu sedang dimana San?" Aku bertanya penuh penasaran diantara ombak yang menepi di pantai.


"Aku sedang bersama Pamanku, Ayah dia, yang melaut. Alhamdulillah kami selamat, karena rumah pamanku terhalang bukit, hanya genangan air yang masuk halaman." kenang Ihsan, menarik nafas dalam-dalam membuang getir.


"Pamanmu di mana sekarang San?" Menoleh Ihsan kemudian membuang pandanganku ke bukit sebelah barat.


"Pamanku ada, namun sejak peristiwa itu, dia tidak melaut lagi, bahkan jarang bicara kecuali seperlunya, hanya melihat laut dari jendela kayu rumahnya tanpa ekspresi apapun. Kadang keluar rumah juga, namun tetap hanya menatap laut di bale rumahnya yang kayu...... ."


"Ayo Kang!, kita jalan lagi mencari spot foto yang bagus, saya ke sini-kan antar Akang cari tempat-tempat view yang bagus, bukan untuk saya curhat." Ihsan tersenyum sambil berdiri sambil mengalungkan Kamera ku di lehernya.


Beberapa ratus meter berjalan angin laut semakin kencang, pemancing duduk tenang di antara karang dan deburan ombak. Pantai ini sunyi jarang sekali orang lewat atau nelayan sekedar menjaring ikan. Hanya beberapa ibu-ibu asik memotong daun pandan laut yang entah untuk apa.


Habis kebun kelapa, ada beberapa rumah, mungkin kurang dari sepuluh, ber-struktur kayu beratap daun kelapa. Aku melihat seorang Bapak duduk di kursi kayu tua, memandang laut tanpa ada gerakan apapun selain berkedip.


"Nah itu Pamanku Kang, yang aku ceritakan, kadang dia di sini, itu rumah adiknya belakang kursi, ya Bibiku juga."


"Kita kesana San, bolehkan?, berkenalan dengan pamanmu?"


"Percuma Kang, dia jarang berbicara apalagi dengan orang tak dikenal, kata Bibiku, pamanku depresi atau trauma teringat terus anaknya."


"Tidak apa-apa San, kalau beliau terganggu, ya kita jalan lagi." Kataku sedikit memaksa.


Aku dan Ihsan menghampiri Paman, duduk di sampingnya, terdiam lama, aku ikut merasakan kepedihan masa lalu Paman Ihsan. Ikut memandang ombak yang bergulung terus berganti, kemudian hening kembali.... .


"Laut yang indah, dan ombak yang gagah. Saya yakin Paman adalah Nelayan yang gagah, lahir dan hidup di laut. Ombak adalah kawan paman, angin Samudra adalah semngat Paman, Perahu itu, indah ya paman, pulang melaut membawa ikan, sungguh besar Anugrah Tuhan." Aku membuka pembicaraan tanpa perkenalan, walau aku tahu beresiko akan dimarahi.


"Jika benar anugrah Tuhan, kenapa ada tsunami ,kenapa anak-ku tak kembali?" Lirih sekali suara itu.


Aku dan ihsan saling pandang, tak percaya bahwa ucapanku dijawab.


"Gempa_tsunami_ itu bencana, menurut Guru ngaji saya, mungkin saja menjadi kebaikan di balik musibah, karena orang-orang yang meninggal tenggelam itu syahid, bahkan mungkin menjadi penebus dosa bagi orang-orang yang meninggal. Apalagi anak paman adalah orang baik, menurut Ihsan, anak Paman rajin ke mesjid, rajin mengajar ngaji di mushola." Entah bahasa dari mana aku mendapat kosakata itu, "aah...
Aku hanya ingin menghibur paman." Ucapku di hati.


"Iya paman, mungkin paman rindu bertemu perahu, dermaga, pelelangan ikan, atau mungkin me-laut lagi mencari ikan, jika paman mau, kami akan antar, mau sekarang atau besok juga siap." Ihsan menimpali mendukung kata-kataku.


Paman tak menjawab, matanya tetap memandang ombak yang semakin mengkilat, hari semakin siang, suasana hening kembali, kecuali angin dan ombak pesisir ini. Kami-pun pamit melanjutkan perjalanan, tak ada jawaban apapun kecuali anggukan yang sangat pelan dan kosong.


Pagi, sesudah sarapan kami bergegas ke rumah Bibi, yang kemarin kami bertemu Paman, kamipun kaget, Paman dan istrinya sudah berdiri di bawah tangga bale, bibi tersenyum ramah.


"Bapak katanya mau ke dermaga, ingin lihat perahu, dan mau membeli ikan buat sarapan siang katanya, mau diantar Ihsan dan temannya. Bahkan tadi sesudah sholat subuh sudah menyiapkan topi dan pakaian buat ke dermaga." Bibi tersenyum sayu, kulihat matanya berkaca-kaca, entah bahagia atau sedih, atau mungkin campur aduk, entahlah... .


"Bapak baru kali ini mau jalan-jalan, biasanya hanya di dalam rumah tanpa bicara, atau disini duduk dan diam." Bibi menjelaskan kegembiraanya, dan menutupi kepedihan kehilangan anaknya di masa lalu, dan merawat Paman yang hilang semangat hidup.


"Tuhan terimakasih, aku bisa melihat lagi paman tersenyum, bersemangat lagi, dan semoga mau melaut lagi, perjalananku kali ini sungguh bermakna, Engkau Maha Rohman dan Rohim, menciptakan alam yang indah ini dan kisah pelaut yang hidup kembali bersama ombak dan angin pesisir selatan." Aku berbicara di dalam hati, kemudian melangkah bersama Paman dan ihsan, menuju dermaga bersama harapan, diikuti tatapan Bibi penuh do'a dan debur ombak pesisir selatan.


Penulis adalah Pengurus Lesbumi Kabupaten Bandung dan Penikmat Sastra

Adrahi Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×