Innalillahi, Ulama Pejuang Desa dari Cianjur Selatan Wafat, Sang Anak Ungkap Kiprah Perjuangannya
Jumat, 29 Agustus 2025 | 16:23 WIB
Cianjur, NU Online Jabar
Hari itu tampak mendung, seolah memberikan isyarat bahwa salah satu ulama yang gigih memperjuangkan nilai Islam dari sudut Cianjur Selatan, KH Ahmad Sadili telah menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Edelwis, Kabupaten Cianjur, Kamis (28/8/2025).
Meski ia tidak populer, tetapi, kiprahnya dalam memandu masyarakat agar hidup sesuai tuntunan syariat tidak bisa terbantahkan. Ketelatenannya dalam mendidik santri juga menjadi bukti bahwa ia teladan bagi generasi muda masa kini.
Kiprahnya diungkap oleh salah satu pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ittihad, sekaligus anak pertama dari mendiang, KH Ahmad Yusup, dalam keterangannya mengatakan bahwa Kiai Sadili merupakan ulama kharismatik sekaligus inpsirator yang berhasil mewariskan perjuangan.
Kiai kelahiran Cianjur, 12 Juli 1959 itu aktif di sejumlah organisasi keagamaan, di antaranya sempat menjabat sebagai Ketua Tanfidiyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Takokak, Rois Syuriyah, hingga terakhir Mustasyar MWCNU, serta tercatat sebagai pengurus MUI Kecamatan Takokak.
"Beliau adalah ulama kharismatik, pejuang umat, sekaligus tokoh masyarakat yang telah mewariskan semangat perjuangan dan pengabdian tanpa kenal lelah," ucap Kang Aye sapaan akrabnya, kepada NU Online Jabar, Jum'at (29/8/2025).
Petualangannya dalam menimba ilmu mampu menghantarkannya untuk mendirikan Pondok Pesantren Nurul Ittihad sejak 1985 tepat di Kampung Sukarilah, Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak Kabupaten Cianjur.
Bahkan, menurut adik kandung almarhum, Ust. Basyir, KH Ahmad Sadili sudah merintas pondok pesantren dan mengasuh santri sejak ia masih bujangan.
"Moal aya duana wa haji mah perjuangan na. Keur bujangan keneh beres sagala digarap, termasuk ngarintis pasantren. Termasuk ker masantren na oge mandiri sambil dadagangan (tidak ada duanya perjuangan KH Ahmad Sadili itu. Sedari muda, sebelum ia menikah sudah mampu merintis pesantren. Bahkan waktu dia di pesantren rajin berjualan bukti bahwa orang yang mandiri," beber Ust. Basyir.
Kang Aye menyebut, Kiai Ahmad Sadili pernah menimba ilmu dari sejumlah ulama di pondok pesantren, di antaranya kepada KH Idal Cirambutan, selanjutnya di Pondok Pesantren Cibeureum Sukabumi, Pondok Pesantren Annidham Sukabumi, Pondok Pesantren Al-Muin Cianjur, hingga Pondok Pesantren Darul Falah Jambudipa Cianjur.
Tidak berhenti di pondok pesantren, KH Ahmad Sadili juga menjadikan pemerintahan tingkat desa dan kecamatan sebagai medan perjuangan dakwahnya. Ia tercatat sebagai salah seorang inisiator pemekaran desa tempat dimana ia tinggal.
"Selain itu, beliau juga dikenal sebagai salah satu perintis berdirinya Desa Waringinsari. Dalam sejarah awal desa ini, beliau langsung dipercaya menjadi anggota BPD dan Ketua LPM pertama Desa Waringinsari," beber Kang Aye
Dengan penuh dedikasi, lanjut Kang Aye, Kiai Sadili kerap memperjuangkan pembangunan jalan antar-dusun, jembatan, hingga sarana air bersih untuk kebutuhan masyarakat.
"Semangat perjuangan KH Ahmad Sadili dalam membangun pesantren dan masyarakat adalah warisan yang sangat berharga. Beliau bukan hanya seorang ulama, tetapi juga sosok pejuang desa yang berjuang sepenuh hati untuk agama dan tanah kelahirannya," sambungnya.
Karena itu, Kang Aye berharap keteladanan dan semangat beliau menjadi inspirasi bagi seluruh santri, alumni, dan masyarakat untuk melanjutkan perjuangan di jalan dakwah dan pengabdian, seraya berdo'a semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, maghfirah, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.